Oleh : Ust. Zarochman
Aktivis Dakwah di Semarang

Bismillahita’ala

Tanpa sedikitpun bermaksud menggurui siapapun, ada rasa tanggung-jawab ingin menyampaikan sesuatu yang sebenarnya apa yang saya lihat tentang perkembangan SCOTISH SEINE NETS. Scotish seine nets beroperasi dengan menggunakan selambar yang ekstra panjang hingga 2000 – 3500 meter. Dalam unit yang lebih kecil dengan menggunakan tali selambar yang pendek (100 – 200 meter), di negara Scandinavians termasuk Norwegia, Swedia dan Jerman juga terdapat sejenis seine nets yang ditarik dari atas anchored boat atau perahu yang berjangkar disebut DANISH SEINE NETS. 

Scotish seine nets saat ini di sepanjang pantura jawa lebih dikenal dengan sebutan cantrang. Sedang danish seine nets sudah sejak dulu dikenal dengan sebutan dogol. Sebagaimana negara-negara daerah ingin, cold countries, seperti negara scandinavians dan Inggiris mengandung kemelimpahan scooling ikan berukuran besar dari species tertentu, termasuk ikan demersal sehingga target boat seine nets (scotish seine net dan danish seine net) adalah jenis ikan baik yang didasar maupun di pertengahan.

Ketika tahun 1985-1986, di perairan Jawa pukat cantrang belum ada, yang ada adalah jaring dogol atau yang lebih kecil bernama “dapang”, dengan target ikan demersal. Jaring dogol ini berbentuk kantong mengerucut kearah belakang hingga ujung kantong (cod end) dan membentang kedepan mulai dari bagian mulut hingga kedua ujung sayap. Waktu itu saya datang ke Kluwut selama sebulan melihat kondisi jaring dogol dari bahan serat alami, “lawe” dengan tali penariknya dari serat “ijuk”. Dogol dengan tali tarik sepanjang < 100 meter dioperasikan ditarik dari atas perahu yang berjangkar dan dilengkapi layar. Posisi layar didorong oleh angin yang berlawanan arah dengan arah gerakan penarikan dogol. Pengoperasian semacam ini mirip dengan Danish seine nets.  Atas inisiatip BPPI Semarang, tahun 1986 dirubah ke bahan jaring sintetis (synthetic materials) dan kontruksi disesuikan dengan bentuk kerucut dari bentuk balon ke semi balon atau berpanel 2-4 sehingga bentuk jaring lebih efisien dalam kaitannya dengan resistensi terhadap tekanan masa air.  Bahan dan kontruksi jaring dari webing PE sedangkan tali selambar dari bahan kuralon (PVA) diameter  1.5 – 2 cm. 

Tahun 1987, Perahu untuk pengoperasian dilengkapi dengan kelos penggulung tali (winch line hauler). Adapun panjang tali selambar waktu itu 250 meter sehingga perahu dalam kondisi berjangkar. Perkembangan penangkapan ikan waktu itu untuk  penangkapan ikan demersal besar adalah diramaikan dengan menggunakan rawai dasar (bottom long line) dan gillnet dasar, disamping dogol. Sedangkan untuk penangkapan udang menggunakan trammel net. Namun produktivitas dogol relatif kecil, sehingga untuk meningkatkan efisiensi penangkapan ikan dengan umpan untuk pengoperasian rawai dasar dikombinasi dogol sebagai penangkap ikan umpan. Menjelang akhir 1980 dari Tuban dan Rembang berkembang cantrang dengan menggunakan alat bantu penggulung tali dengan winch bergardan sebagai penarik tali selambar (rope line hauler) sehingga memungkinkan menggunakan selambar yang lebih panjang (300 - 400 meter). 

Pada akhir 1980 an saat awal 1990 ketika itu purse seine di laut Jawa mulai kolaps maka kapal purse seine banyak yang nganggur dengan berukuran sebagian besar > 30 GT – 170 GT.  Sementara itu kapal cantrang bergardan yang dilengkapi penggulung selambar (winch) berukuran 10 – 25 GT pun berkembang pesat dengan penggunaan tali selambar 600 – 700 meter dan selalu tidak pernah kosong dengan hasil tangkap. Kapal ex-purse seine pun beralih penggunaannya untuk penangkapan ikan demersal dengan alat tangkap cantrang dengan memperpanjang penggunaan tali selambar hingga > 1200 meter atau lebih.

KKP, cq DJPT telah mengkategorikan dogol dan cantrang masuk dalam kelompok pukat tarik. Dogol atau danish seine dioperasikan dengan kapal dalam keadaan berjangkar, sedangkan cantrang yang mirip scotish seine nets dioperasikan dengan extra selambar yang panjang dan ketika menarik tali selambar pada pengoperasian jaring cantrang mesin kapal dalam keadaan bergerak mempertahankan posisi pada saat penarikan, namun ketika jaring sudah mulai melayang maka kapal bergerak dengan kecepatan 1 – 1.5 knot. Gambar ilustrasi pengoperasian cantrang (Scotish seine net) lihat pada gambar 

Keberadaan Kondisi Schooling Ikan dan Penerapan dengan Sistem Pengelolaan

Di daerah perairan dingin hingga sub tropis dikenal dengan kemelimpahan secholing ikan dengan species tertentu berukuran besar dengan keberagaman species yang cenderung seragam. Sebaliknya di daerah perairan tropis, kemelimpahan scholing yang kecil dan mengandung keberagaman ukuran dan  species ikan.  Khususnya untu kelompok seine nets, cenderung berkembang pesat untuk menangkap ikan dengan target ikan tertentu berukuran tertentu pada daerah tertentu sesuai pengaturan musim. Namun di perairan tropis dengan kondisi scholing ikan yang berkelimpahan kecil dan beragam sangat renta terhadap tekanan penangkapan ikan. Karena itu perlu adanya pembatasan kapasitas penangkapan ikan. Oleh karena itu penerapan alat tangkap seperti cantrang yang cenderung menggunakan keleluasaan tali selambar yang ekstra panjang dengan ukuran kapal besar untuk memperpanjang durasi penangkapan dan peningkatan pengoperasian alat penangkap harus cenderung diadakan pengendalian dengan sistem pengelolaan sesuai dengan kepadatan operasi penangkapan ikan dan kondisi potensi stok ikan. Disamping itu harus diperhatikan untuk menghindari kompetisi konflik, overlapping, antara perikanan demersal aktif dengan perikanan demersal pasiv. Salah satu WPPNRI- yang paling padat operasi penangkapan ikan dengan keberagaman alat tangkap, maka penerapan alat tangkap demersal aktif harus dikendalikan dengan kaidah sistem pengelolaan yang lebih tepat dan berhati-hati untuk menjaga keberlansungan sumberdaya ikan. 

Beberapa pertimbangan penting yang menjadi perhatian dalam penerapan Cantrang, khususnya di perairan WPPNRI -712 adalah : fishing capasity unit cantrang harus dikendalikan sehingga perlu adanya pembatasan trip operasi penangkapan, dan disamping itu adanya pengaturan agar jangan sampai terjadi kompetisi daerah penangkapan ikan antara perikanan demersal aktiv dan demersal pasif. Perikanan demersal pasif seperti bubu, rawai dasar, gillnet dasar, trammel net harus dipisahkan atau dibebaskan dari pengaruh langsung pengoperasian demersal aktif seperti cantrang dan trawl.

Menurut hemat penulis, untuk pengoperasian cantrang di perairan 712 dan Selat Malaka dibatasi untuk kapal berukuran < 30 GT dengan trip operasi paling lama 7 hari. Namun di luar perairan tersebut bisa disesuaikan dengan ukuran kapal yang lebih besar. 

Sendang Indah, Semarang, Ahad malam, 5 Juli 2020

YOUR REACTION?

Facebook Conversations