Sang waktu mengalir bagai air hingga shaum Ramadahan tahun ini memasuki malam-malam yang lebih indah dari seribu bulan (lailatul qadr khair min alfi syahr).
Freepik.com

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِي

Ma’ashirol mukminin rokhiman warohimahumullah,

Kita senantiasa mensyukuri nikmat  hidayah iman wal islam dengan penuh keta’atan dengan mengikuti sunnah Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam. sehingga kian mendekatkan diri kepada Allah dengan amalan yang diridloiNya sebagai mukhsin dengan ikhlas imanan fakhtisyahban lillahita’ala sehingga tercapai ketenangan dalam ketaqwaan yang terjaga dan inilah kemuliaan yang sesungguhnya. Romadhon, bulan suci dengan bertabur rahmat. ampunan hingga dibebaskan dari api neraka dengan ditandai hari kemenangan karena terbebas dari dosa, dan seterusnya hingga bulan Romadlon berikutnya dalam sisa hayat dikandung badan terjaga ketaqwaan hingga ajal tiba dalam keadaan khusnul khotimah. 

Ma’ashirol mukminin rohimahulloh,

Sang waktu mengalir bagai air hingga  shaum Ramadahan tahun ini memasuki malam-malam yang lebih indah dari seribu bulan (lailatul qadr khair min alfi syahr). Sepanjang malam-malam lailatul qadar kaum muslimin yang beriman harus lebih memperdalam spiritual keislaman khususnya tentang pemahaman dan pengamalan shaum ramadhan selama sebulan penuh di waktu siang dan malam, termasuk mensucikan harta dengan beramal sholeh berupa zakat  dan shodaqoh. Bertepatan wabah korona melanda dunia, Allah Subhanallohu wata’ala menguji kita yang tengah berpuasa berkepedulian untuk berbagi sehingga tujuan berpuasa agar “TAQWA” benar-benar berimplementasi pada perubahan positif ketaqwaan pribadi (la’allakum tattataqun) untuk perubahan positif yang bermanfaat bagi yang lain (la’allahum yattaqun).

Pada kesempatan Ramadhan, mari kita ber MUROQOBAH, sadar penuh atas pengawasan Allah Subhanallohu wata’ala sehingga mampu bermuhasabah al nafs, mengevaluasi dan mengintrospeksi diri, terutama terhadap dosa yang harus segera ber taubatannasuha, semakin takut kepada Allah Subhanallohu wata’ala, mukhafatullah) yang mampu mencegah perbuatan dosa, hingga meningkatkan amal kebaikan (shalih al-‘amal). Walhasil perasaan dekat dengan Allah Subhanallohu wata’ala (al Qurb) yang mempertebal optimisme/pengharapan (al raja’), selanjutnya optimisme memperbesar terkabulnya doa. Inilah makna firman Allah Subhanallohu wata’ala, “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang  AKU, maka (jawablah) AKU adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-KU.” Masa pertaubatan selama Romadhan dan untuk pembiasaan seterusnya Allah Subhanallohu wata’ala berjanji mengabulkan doa-doa dan membebaskan kita dari dosa-dosa api neraka. Kesempatan itu menjadi ajang perburuan berbuat baik, fastabiqul khoirot oleh ummat beriman yang berpuasa. Inilah keniscayaan ibadah puasa untuk menumbuhkan kesadaran ketuhanan, yaitu bahwa Allah Subhanallohu wata’ala hadir, melihat dan menyaksikan semua perilaku kita. Kesadaran inilah yang membuat seseorang malu dan tak mau berbuat dosa. “Seseorang tidak mungkin mencuri atau melakukan kejahatan, sedangkan ia beriman kepada Allah Subhanallohu wata’ala dalam arti menyadari kehadiran dan pengawasannya.” (HR Muslim). Pengawasan Allah bersifat absolut lahir-batin.Tak ada sesuatu kecuali dibawah kontrol dan pengawasanNya. Dalam QS An Nisa (1) Allah Subhanallohu wata’ala sebagai pengawas manusia, bahkan sebagai pengawas segala perkara pada QS. Al Ahzab (52). 



YOUR REACTION?

Facebook Conversations