Oleh: Dedeng Juheri| Instagram: @dedengjuheri
Bila hati merindukan pernikahan, tapi belum bisa melangkah ke pelaminan. Bila naksir seseorang, hati takut kehilangan, atau khawatir si dia keduluan dilamar orang, maka menitipkan si dia pada Allah merupakan solusi terbaiknya

“Ya Allah, aku titipkan dia pada-Mu. Bila memang jodohku, pertemukan kami dalam pernikahan. Bila bukan jodoh, damaikan hatiku dengan ketentuan-Mu. Berikanlah ganti yang tepat dan terbaik bagi hamba.”

Tiada tempat penitipan yang paling aman, selain Allah Swt. Menitipkan harapan disertai doa, usaha, dan tawakal pada-Nya.

Titip satu cinta, satu nama, untuk kelak Allah pertemukan dalam ikatan suci berjuluk pernikahan.

Sungguh, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.

Bila suatu hari Allah mempertemukan kita dengan si dia, itu merupakan karunia yang patut disyukuri.

Tapi bila ternyata Allah menakdirkan si dia menikah dengan yang lain, maka itu juga ketentuan Allah dan pasti yang terbaik bagi kita. Allah Mahatahu, sedangkan kita tidak tahu. Maka berserah dirilah pada-Nya, ridha menerima segala ketentuan-Nya.

Tiada tempat yang utama untuk meminta, selain kepada-Nya. Bila si dia ternyata bukan jodoh kita, maka titipkanlah rasa suka kepada-Nya. Terus berupaya untuk senatiasa dekat dengan-Nya.

Sesungguhnya Allah yang menentukan segalanya. Allah Mahatahu yang terbaik bagi kita. Tak selalu mesti si dia, yang lain bisa jadi lebih baik, tepat, dan cocok untuk kita.

Allah Mahakuasa menentukan siapa pasangan kita, bagaimana proses bertemunya, dan menumbuhkan bibit cinta dalam jiwa kita.

Kita berencana, Allah pun berencana. Rencana Allah pasti lebih baik dari rencana kita. Skenario Allah selalu indah pada waktunya.

“Kesan pertama begitu menggoda!”

Mungkin ini kalimat yang tepat untuk mulai menceritakan kisah hidup teman dekat saya, Kang Abadi Yusuf.

Di episode awal kuliahnya, di masa orientasi mahasiswa baru Universitas Islam Sunan Gunung Djati Bandung, ia melihat sosok wanita anggun. Hatinya berbunga-bunga, ada harapan di sana, ada LOPE di matanya.

Hatinya makin berdetak kencang, dag-dig-dug tak karuan setelah mengetahui wanita itu mahasiswi baru di tempat kuliah yang sama.

Meskipun hati mendambakannya, tapi tak ada yang bisa dilakukannya. Tak ada keberanian untuk menyatakan perasaan, apalagi membicarakan untuk melangsungkan pernikahan.

Hanya harapan kepada Allah yang bisa mendamaikan perasaanya. Ibarat pepatah, “Tak akan lari gunung dikejar, kalau memang jodoh kelak pasti bertemu.”

Perasaan itu disimpan di lubuk hati yang paling dalam, karena teramat dalamnya hingga terabaikan oleh kesibukan kuliah.

Tak ada hubungan istimewa di atara keduanya. Mereka sibuk menjalani aktivitasnya masing-masing. Semester satu terlewati, semester dua, tiga, hingga semester tujuh.

Menjelang semester delapan, perasaan yang dahulu terpendam kini muncul lagi. CLBK alias cinta lama bersemi kembali.

Setelah lulus kuliah, keberaniannya muncul meski gajinya 250.000 rupiah. Abadi menemui orangtua sang wanita untuk menyampaikan niat baiknya.

Orangtua sang gadis menerimanya. Dan penerimaan inilah yang membuatnya bingung karena tak punya uang. Tapi Allah menunjukkan kekuasaan-Nya hingga Abadi dimudahkan pernikahannya.

Keluarga ini sekarang sudah dikaruniai dua orang anak. Semoga barakah, penuh cinta, dan bahagia.

Bolehlah kita berpantun:

Dulu pakai sandal

Sekarang naik Mercy

Dulu tidak kenal

Sekarang suami istri

Semuanya dari Allah, jodoh kita ada dalam genggaman-Nya. Bila Allah berkehendak, maka mudahlah bagi-Nya untuk mengabulkan segala pinta.

Maka titipkan rasa cinta kita kepada Allah, lalu serahkan segalanya keputusannya hanya pada-Nya. Semoga Allah memberikan yang terbaik bagi kita. Allahumma amin.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations