Oleh Atikah Mauluddiyah
Aktivis Mahasiswi

Siapa nih yang belum familiar dengan istilah toxic people? Yap, toxic people merupakan istilah bagi orang-orang yang “beracun” yakni jenis pribadi yang suka menyusahkan dan merugikan orang lain, baik secara fisik maupun emosional (hellosehat.com). Dilansir dari hallosehat.com ciri-ciri toxic people diantaranya adalah hanya mau senengnya aja, tidak mampu berempati padaorang lain, suka mengontrol dan memanipulasi orang lain, tidak mau mengakui kesalahan atau minta maaf, serta meremehkan orang lain. Nah sahabat, semoga kita bukan termasuk toxic people ya.

Jika diteliti ciri-ciri toxic people tidak diajarkan dalam Islam ya sahabat. Jelas ciri-ciri tersebut bertentangan dengan akhlak seorang muslim. Toxic people muncul ditengah-tengah kita saat ini merupakan buah dari jauhnya masyarakat dari pemahaman Islam. Pemahaman Islam tidak diletakkan sebagai dasar atau petunjuk dalam setiap aktivitas kita. Pemahaman Islam hanya diaplikasikan ketika kita melakukan ibadah ritual semata, namun dalam kehidupan bermasyarakat pemahaman Islam tidak diaplikasikan, seperti dalam dunia pendidikan, ekonomi, pergaulan, pemerintahan, dan lainnya. Pemisahan penerapan Islam dengan kehidupan bermasyarakat inilah yang disebut dengan sekulerisme, dimana Islam melarang hal ini. Keberadaan sekulerisme semakin menjauhkan generasi dari pemahaman Islam, maka wajar muncul toxic people di tengah-tengah kita.

Kebebasan berperilaku dan berpendapat menjadikan seseorang berhak memilih sikap apa yang akan diambil meskipun bertentangan dengan pemahaman Islam. Jelas kebebasan seperti ini juga bertentangan dengan pemahaman Islam. Lemahnya kontrol keluarga, masyarakat dan negara tentang pemahaman Islam menjadikan seseorang semakin jauh dari Islam.

Islam sebagai agama yang sempurna telah memberikan aturan untuk setiap problematika yang dihadapi manusia. Mulai dari pemerintahan, pendidikan, pergaulan, bahkan hingga perkara akhlak. Semua pengaturan di dalam Islam saling mendukung untuk mewujudkan generasi berkualitas. Pengaturan pendidikan di dalam Islam menjadikan generasi sibuk membekali diri dengan aqidah Islam dan ilmu terapan lainnya. Sistem pergaulannya yang akan menjaga generasi dari terjerumus pada pergaulan bebas sebagaimana masa kini. Sistem ekonomi yang menjadikan kita mengenyam pendidikan dengan kualitas terbaik dan tidak dipungut biaya.


Tips Menjadi Generasi Peradaban Emas

Islam juga memberikan panduan bagaimana akhlak seorang muslim, sehingga toxic people tidak dilahirkan oleh peradaban Islam.

Pertama, Islam tidak mengajarkan seseorang dalam menjalin hubungan dengan sesamanya hanya mau senengnya aja. Hal ini berarti seseorang mengambil asas manfaat atas aktivitas yang dilakukan. Berbeda dengan Islam yang mengharuskan aktivitas itu semata mencari keridhoan Allah SWT dan juga aktivitasnya bertujuan memberikan manfaat kepada sesama manusia bukan hanya dirinya sendiri.

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani didalam Shahihul Jami’ no:3289).

Kedua, Islam juga melarang seseorang tidak berempati pada orang lain. Bahkan apabila terdapat saudara kita yang merasakan sakit kita juga ikut merasakannya dan berupaya mengobatinya, sebagaimana diriwayatkan dalam hadist, berikut:

“Perumpamaan orang-orang beriman dalam cinta, kasih sayang, dan kelembutan mereka layaknya tubuh. Bila satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuhnya turut merasakan susah tidur dan demam.” (HR. Muslim)

Ketiga, aktivitas suka mengontrol dan memanipulasi orang lain merupakan aktivitas membuat orang lain melakukan aktivitas tertentu baik dengan cara berbohong maupun menipu. Jelas hal ini diharamkan di dalam Islam, karena sesama muslim harus saling berbuat kebaikan bukan memerintah layaknya seorang bos kepada bawahannya apalagi jika yang diperintahkan adalah kemaksiatan. Selain itu, berbohong juga merupakan tanda orang munafik.

"Tanda orang munafik ada tiga, salah satunya adalah jika berbicara dia dusta." (HR. Bukhari dan Muslim)

Keempat, Islam mengajarkan muslim untuk saling memaafkan, sehingga tidak mau mengakui kesalahan atau minta maaf merupakan sikap yang bertentangan dengan akhlak seorang muslim.

''Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.'' (QS. Al-A'raaf [7]:199)

Dan bagi orang yang memberikan maaf terlebih dahulu, maka itu lebih disukai Allah SWT.

''Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.'' (QS.Asy-Syuura [42]: 43).

Kelima, Islam juga melarang kita untuk meremehkan dan merendahkan orang lain, karena bisa jadi orang yang kita rendahkan jauh lebih mulia di hadapan Allah SWT.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik.” (QS. Al Hujurat: 11)

Pentingnya belajar Islam menjadikan kita terhindar menjadi bagian dari toxic people ya sahabat. Yuk, segera cari majlis-majlis Ilmu dan bergabung di dalamnya. Jangan lupa berkumpul dengan orang-orang sholeh agar kita kokoh dalam barisan Islam.

Wallahua’lam bishowab.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations