Jika mengikuti standar WHO (World Health Organization), new normal bisa diterapkan bila kasus tidak bertambah. Sementara di Indonesia, pasien Covid-19 belum juga menujukkan penurunan namun sudah berani menerapkan new normal dengan alasan demi pertumbuhan ekonomi.

Oleh: Khansa Mubshiratun Nisa, Aktivis Muslimah Ideologis

Belumlah usai wabah melanda negeri ini, new normal seolah membawa angin segar bagi warga Indonesia. Seakan ingin balas dendam melepas segala penat saat menjalankan work from home dan stay at home, tempat wisata alam paling banyak dituju walau belum jelas kapan dimulai waktu beroperasinya.

Seperti yang terjadi di kawasan wisata Pasirjambu, Ciwidey dan Rancabali Kabupaten Bandung yang menjadi buruan wisatawan. Meski objek wisata belum dibuka, ribuan pengendara yang didominasi warga lokal dan tak sedikit dari luar daerah pun mulai menyerbu kawasan ini. Padahal Pemerintah Kabupaten Bandung belum mengeluarkan kebijakan untuk membuka industri pariwisata. Namun seiring dengan direncanakan penetapan new normal, dalam waktu dekat aktivitas pariwisata akan kembali dibuka. (ayobandung.com, 07/06/2020)

Bupati Bandung Dadang M. Naser pun tampak masih ragu dalam menetapkan kebijakan tersebut. Hal ini dikarenakan ia melihat banyak warganya yang masih belum disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan. Apalagi jika tidak ada pengamanan khusus bilamana pengunjung membludak, secara otomatis aktivitas seperti physical distancing tidak akan terealisasi. Sehingga ini dikhawatirkan penyebaran virus tak bisa tertahankan.

Mengenai kedisiplinan, Bupati Bandung kerap membandingkan warganya dengan masyarakat Jepang. Ia menyebut masyarakat Jepang memiliki kesadaran kesehatan yang tinggi, sementara warga Kabupaten Bandung cenderung masih mengabaikan hal itu.

Ini menjadikan Bupati Bandung menilai seharusnya masyarakat patuh menjalankan nilai-nilai Pancasila. Karena dalam bahasa lokal Kabupaten Bandung, Pancasila dapat diinterpretasikan menjadi sabilulungan yang berarti di dalamnya ada kebersamaan, gotong royong, silih asah, asih, asuh, saling menghargai dan menghormati. Atas dasar inilah yang akan membuat masyarakat selalu taat pada aturan dan anjuran dari pemerintah, termasuk dalam menghadapi wabah Covid-19. Menurutnya bila jiwa Pancasila dijalankan oleh masing-masing individu, maka akan menjadi senjata untuk melawan pandemik global ini.

Memang tak bisa dipungkiri, ketika wacana new normal dari presiden dikeluarkan maka ini merupakan kesempatan bagi seluruh aktivitas bisa berjalan seperti biasa lagi. Namun wacana inilah yang menyebabkan euforia (rasa gembira berlebihan) wisata masyarakat. Ini terlihat ketika diserbunya tempat wisata padahal belum jelas status dibuka atau tidaknya. Bila euforia terhadap kebijakan dibukanya kembali pariwisata ditambah kesadaran masyarakat yang masih rendah, ini bisa memicu terjadinya gelombang 'tsunami' kedua Covid-19 yang dahsyat bahkan lebih.

Epidemiolog Indonesia kandidat doktor pandemik dari Griffith University Australia Dicky Budiman memaparkan, di saat masa pandemik lokasi wisata bukanlah prioritas utama untuk dibuka karena cenderung berbahaya. Kalau pun bisa dibuka kembali setelah memasuki masa new normal, maka hal pertama yang dibuka adalah kantor, bukan tempat wisata.

Bila dilihat dari hasil pengamatan tersebut, maka solusi yang ditawarkan oleh Bupati Bandung dengan meningkatkan kesadaran masyarakat menjalankan nilai-nilai Pancasila untuk mengahadapi pandemik ini bukanlah solusi yang tepat. Selain itu, statement lain dari Bupati Bandung sebagaimana dilansir oleh ayobandung.com (01/06/2020) yang mengatakan bahwa dengan menjalankan nilai-nilai dalam syariat Islam, kebersamaan dan toleransi, itu juga berarti menjalankan Pancasila, ini pun perlu dikritisi.



YOUR REACTION?

Facebook Conversations