Oleh : Suci Hardiana Idrus

Alangkah mirisnya nasib bangsa ini. Tatkala generasi muda kian hari kian memprihatinkan. Harapan bangsa terhadap generasi maju telah pupus. Persoalan yang mendera generasi muda begitu kompleks. Arus pergaulan bebas makin tak terbendung.

Kita patut bersedih, sebab merekalah yang nantinyamelanjutkan kehidupan bangsa. Di tangan mereka nasib negeri ini akan maju atau tidak. Atau sebaliknya, akan menjadi suatu kerugian besar. Alhasil, narkoba, pesta miras, perkelahian antar kelompok, penjarahan, dan seks bebas, semua berada dalam satu ruang lingkup pergaulan yang tak mengenal aturan menyasar generasi muda.

Oleh karena itu, sebagai seorang yang diberi amanah untuk mendidik generasi agar tak menjurus pada rusaknya peradaban, maka berbagai caradan upaya dikerahkan demi mencetak generasi cerdas, tangguh dan bertakwa. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan meningkatkan literasi terhadap generasi muda.

Melansir dari Suara Sumsel.id pada 3 Oktober 2020, Dinas Pendidikan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mengeluarkan kebijakan agar siswa tingkat SMA dan SMK membaca buku "Muhammad Al Fatih 1453" karangan Felix Siauw.

"Dalam surat edaran tertanggal 30 Oktober 2020 yang ditujukan kepala seluruh sekolah SMK dan SMK di Babel agar selain membaca, parasiswa diminta merangkum isi buku tersebut dengan gaya bahasa masing-masing."

"Hasil rangkuman buku tersebut agar dikumpulkan dimasing-masing sekolah agar kemudian pihak sekolah melaporkannya ke Cabang Dinas untuk dilaporkan kepada Dinas Pendidikan Provinsi Babel, paling lambat 18 Desember 2020."

Melansir dari media indonesia.com pada 2 Oktober 2020, pada Rabu (30/9) pihaknya telah mengeluarkan surat kepada seluruh kepala sekolah untuk jenjang SMA/SMK mewajibkan siswa membaca buku Muhammad Al-Fatih 1453 karya Felix Siauw. Pihaknya mewajibkan siswa membaca buku Muhammad Al-Fatih 1453 untuk meningkatkan literasi dan survei karakter para siswa di tengah pandemi covid-19 mengingat tahun ini akan diadakan asistensi minimal.

Namun sangat disayangkan, sebab niat baik tersebut disusupi kritikan pihak lain hanya karena sang penulis buku tersebut berasal dari simpatisan Ormas yang dianggap bermasalah bagi penguasa. Namun pada akhirnya mengabaikan substansial dari adanya upaya meningkatkan literasi siswa dengan membaca buku sejarah seorang Sultan dengan usia mudanya yang berhasil menaklukkan Konstantinopel.

Tujuan dari membaca atau mempelajari sejarah Islam adalah untuk mengambil faedah dari orang-orang yang beriman yang telah mendahului kita di bidang jihad mereka, ilmu mereka, pendidikan mereka dan usaha mereka yang terus menerus dalam menerapkan syariat Allah dalam kehidupan. Itulah yang menghantarkan mereka pada kejayaan.

Guru adalah sosok yang paling penting dalam proses pendidikan siswa dalam memahami sesuatu. Sebagaimana yang dialami Muhammad AlFatih, ia begitu sangat terpengaruh oleh proses pendidikan dari para gurunya. Maka sangat wajar ketangguhan dan kepribadian Islamnya sangat menonjol, mengedepankan perintah dan larangan Allah. Karakternya sebagai Sultan diusia muda menjadi inspirasi dan teladan bagi generasi saat ini demi melanjutkan kehidupan Islam.

Perlu disadari, sejarah kegemilangan Islam tidak tercatat begitu saja. Akan tetapi sejarah tercatat akibat adanya proses perjalanan suatu peradaban yang berubah dan berkembang hingga menjadi peradaban yang besar. Begitulah Islam, berawal dari masa suram hingga mencapai masa gemilang. Sejak Allah mengutus Muhammad dan menjadikannya Nabi sekaligus Rasul, awal titik perubahan yang besar itu pun dimulai. Keberadaannya di tengah-tengah kaumnya layaknya pelita yang terang.

Bagi kaum generasi muda, sosok Muhammad Al Fatih patut dijadikan sandaran dan contoh jika ingin mendapatkan kemuliaan yang sama. Masa mudanya tidaklah digunakan untuk menuruti segala ambisi syahwatnya hanya untuk mendapatkan pengakuan dari manusia. Justru ambisinya adalah menjadi sosok yang disabdakan Rasulullah tatkala bersabda, "Sungguh, Konstantinopel akan ditaklukkan, dan sebaik-baik pemimpin adalah pemimpinnya dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan itu".

Tidaklah kemenangan dan kemuliaan dapat dicapai melainkan dengan pertolongan Allah. Di Medan pertarungan, Muhammad Al Fatih menyampaikan beberapa instruksi-instruksi, kemudian berkhotbah:

"Apabila penaklukan Kota Konstantinopel berhasil kita taklukkan, maka hadits Rasulullah Saw telah menjadi kenyataan dan terbuktilah salah satu mukjizat beliau kepada kita. Dan kita akan mendapatkan kebaikan dari apa yang telah disebutkan hadist ini, yang berupa kemuliaan dan kehormatan. Oleh karena itu, sampaikanlah kepada para tentara satu per satu, bahwa kemenangan besar yang akan kita wujudkan itu akan menambah keluhuran dan kemuliaan Islam. Untuk itu, wajib bagi setiap tentara agar menjadikan ajaran-ajaran syariat kita yang bersih itu di depan matanya dan tidak boleh ada perbuatan yang dilakukan oleh salah seorang tentara yang menyelisihi ajaran-ajaran ini. Hendaklah mereka menjauhi gereja-gereja dan tempat-tempat ibadah, serta jangan mengusiknya. Dan hendaklah mereka membiarkan para pendeta, orang-orang lemah, dan orang-orang yang tidak mampu yang tidak turut serta berperang..."

Kata-kata menggetarkan hati itu keluar dari lisan seorang pemuda pada detik-detik penaklukan kota Konstantinopel. Kisah heroik ini seharusnya menjadi contoh teladan untuk generasi penakluk selanjutnya. Bukan mengalihkannya pada sosok-sosok yang kaum liberal dan tak beragama.

Begitu banyak kasus persoalan remaja yang tercatat dari tahun ke tahun. Usia remaja adalah masa yang sangat rentan terjerumus dalam pergaulan bebas. Teman dan lingkungan yang biasa ia temui menjadi faktor terbesar membentuk pola pikir dan perilakunya. Ditambah Era modernisasi dan globalisasi saat ini telah menghapus batasan-batasan, norma-norma yang ada di sebuah negara. Tumbuh pesatnya teknologi, berbagai informasi dan pengaruh dari suatu negara dapat masuk dengan mudah ke negara lainnya. Sehingga jarak dan waktu pun saat ini tidak memiliki batasan. Akibatnya, negara-negara yang tidak memiliki pertahanan atau filter yang kuat, tidak dapat memilah mana pengaruh yang baik dan pengaruh yang tidak baik.

Tentu kita tidak ingin lahirnya generasi hubbud dunya. Yang semata-mata berjuang hanya untuk kepuasan sendiri. Untuk itu, tiba saatnya giliran kita generasi muda saat ini mengambil alih tongkat estafet perjuangan menuju penaklukan kota Roma demi mewujudkan risalah Rasullullah Saw berikutnya. Sebab kemanangan dan kemuliaan akan kembali tatkala umat memperjuangkannya secara sungguh-sungguh.

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik." (QS. An-Nur : 55)

Allahu akbar !!

YOUR REACTION?

Facebook Conversations