Oleh: Ust. Zarochman, Pengemban Dakwah dari Semarang

Jadikan Aqidah –Ibadah-Syariah Satu Kesatuan Amaliah

Jadikan Aqidah –Ibadah-Syariah Satu Kesatuan Amaliah Foto: PIxabay

Ayyuhal ikhwah, rahimakumullah, sebenarnya sewaktu di- Alam Arwah dahulu semua Roh Manusia sudah mengadakan dialog atau perjanjian dengan Allah. Dia berfirman,

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”. (QS. al-A'raaf: 172).

Umar bin Al-Khaththab radhiyAllahu 'anhu mendengar Rasulullah ditanya mengenai ayat tersebut diatas, maka beliau menjawab, "Sesungguhnya Allah menciptakan Adam 'alaihissalaam, lalu mengusap punggungnya dengan tangan kanan-Nya, maka keluarlah darinya keturunannya dan Allah berfirman, 'Aku telah menciptakan mereka sebagai ahli Surga dan dengan amalan ahli Surga mereka beramal.' Lalu mengusap lagi punggungnya dan mengeluarkan darinya keturunan yang lain, Allah pun berfirman, 'Aku menciptakan mereka sebagai ahli Neraka dan dengan amalan ahli Neraka mereka beramal.' 

Kemudian ada seseorang yang bertanya, 'Ya Rosululloh, lalu untuk apa kita beramal?' Maka beliau menjawab, 'Sesungguhnya, jika Allah menciptakan seseorang hamba sebagai penghuni Surga, maka Allah menjadikannya berbuat amalan penghuni Surga, sehingga ia meninggal dunia diatas amalan dari amalan-amalan penghuni Surga lalu ia dimasukkan Surga karenanya. Dan jika Allah menciptakan seorang hamba sebagai penghuni Neraka, maka Dia akan menjadikannya berbuat dengan amalan penghuni Neraka, sehingga ia meninggal dunia diatas amalan-amalan dari amalan-amalan penghuni Neraka lalu ia dimasukkan Neraka karenanya.'" HR Imam Ahmad, at-Tarmidzi mengatakan hadits ini hasan.

BACA JUGA:

Jadi, dari bagian akhir ayat diatas, disebutkan bahwa kelengahan  manusia keturunan Adam adalah lengah terhadap fitroh tauhid yaitu keesaan Allah. Fitroh tauhid ini mengakui dan mengamalkan konsekuensi ketaatan kepada Allah sebagai Tuhan, Pencipta, dan Penguasa seluruh ciptaan-Nya termasuk umat manusia. Sedemikian itu agar manusia tidak mengingkari pengakuan/kesaksiannya, sehingga dapat dijalani dengan istiqomah, berislam secara sepenuhnya, sepenuh hati, ALJAADIYAH, bukan separuh hati melainkan KAAFFAH, sehingga aqidah – ibadah-syariah menjadikan satu kesatuan amaliah tak terkoyah. Aamiin.

Ayyuhal ihkwah, kita beristiqomah menegakkan sholat merupakan sikap Aljaadiyah, sepenuh hati, karena landasannya adalah mengambil hikmah shalat: (1) Shalat adalah sarana manusia untuk menghubungkan diri dengan Allah, sebagaimana frman-Nya,

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلاةَ لِذِكْرِي

“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” (QS. Ath-Thaha: 14).

(2) Shalat dan sabar sebagai penolong, sebagaimana firman Allah,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ.

“Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) salat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153).

(3) Shalat dapat mencegah perbuatan keji dan munkar, dengan firman-Nya,

اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur'an) dan dirikanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.” (QS. Al-Ankabut: 45).

Dengan demikian, bila seorang hamba sudah terpatri dalam maqom sholat maka jiwanya istiqomah, berpendirian kokoh, konsisten, kaaffah, sepenuh hati,  berbuat tidak separuh hati, separuh hatinya untuk Allah dan separuh hatinya untuk dunia; separuh hatinya untuk kejujuran dan separuh hatinya untuk penghianatan.  Ketika dalam sholat, jari tangannya menunjukkan tiada tuhan selain Allah, hanya kepada Allah, di luar sholat digunakan menentang ajaran Allah, bermaksiat. 

Ketika dalam shalat lisannya berucap sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah, tapi diluar shalat berbuat ingkar, menyalahi hukum Allah. Sedangkan orang yang tidak termasuk separuh hati, yang hanif, istiqamah, adalah ketika dalam shalat jari tangannya menunjuk La ilaha illAllah maka ketika diluar shalat selalu berpegang hukum Allah dalam setiap mengerjakan amalannya. 

Demikian pula lisannya tetap terjaga, baik ketika berdoa dalam shalat maupun ketika berperilaku diluar shalat dengan selalu ingat dan mohon ampun kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan menjalankan hukum Allah mengikuti Al-Qur'an dan as-sunnah. Hanya manusia yang demikian diabadikan oleh Allah Subhanahu wa ta'ala sebagai orang istiqomah, sepenuh hati akan mendapatkan pertolonganNya di dunia dan di akhirat. 



YOUR REACTION?

Facebook Conversations