Oleh : Nasrudin Joha
Tanggapan atas Permintaan Maaf Muwafiq atas Pernyataannya yang Menyebut Rasulullah Muhammad Saw 'Rembes' dan Tidak Terurus
Foto: Bengkulutoday

Bismilah. Setelah video viral Muwafiq yang melecehkan Rasulullah SAW mendapat kecaman dan kritikan tajam umat Islam, tiba-tiba Muafiq membuat video permintaan maaf kepada umat Islam. Untuk itu, kepada Muafiq saya sampaikan hal-hal sebagai berikut :

Pertama, Kamu harus memahami bahwa yang kamu tuding dan hinakan itu bukan pribadi kami, kaum muslimin. Tetapi pribadi Al Mustofa, yang mulia Rasulullah Muhammad SAW, sayyidul Ambiya', orang suci yang syafaatnya dinanti-nantikan oleh seluruh kaum muslimin.

Karena itu, pernyataan maaf ini bukan berarti mengunggah penyesalan atas tindakan yang melukai hati umat Islam tetapi harus diarahkan para pertaubatan yang Nasuha, yang diajukan kepada Allah SWT, selaku kekasih Rasulullah Muhammad SAW.

Mengenai hal ini, terserah kepada Allah SWT selaku pemilik alam semesta, manusia dan kehidupan. Jika Allah SWT berkehendak, maka Allah SWT akan mengampuni. Jika Allah SWT berkehendak, Allah SWT juga bisa menimpakan laknat dan bala', baik didunia maupun di akherat.

Kedua, gaya permintaan maaf yang kamu unggah itu defensif apologetik. Bukan muncul dari rasa bersalah, keinsyafan atas cela pada diri, dan motifasi pada pertaubatan untuk tidak akan mengulangi. Dalam hal ini, permintaan maaf yang kamu sampaikan tidak ada bedanya dengan apa yang diunggah Ahok, atau gerombolan pembakar bendera tauhid di Garut.

Kamu masih menyandarkan pada kata 'jika' perbuatanmu dinilai salah dan melukai hati kaum muslimin kamu meminta maaf. Padahal, kelakuanmu jelas salah dan telah melukai hati umat Islam.

Semestinya, jika kamu benar-benar tulus meminta maaf, kamu tak perlu menggunakan frasa 'jika' pada redaksi permintaan maaf yang kamu unggah. Cukup katakan, kamu bersalah dan tulus meminta maaf kepada segenap umat Islam, sekaligus memohon untuk dapat berkenan dimaafkan.

BACA JUGA:

Ketiga, pendetailan maksud 'rembes' yang kamu maksudkan untuk menyebut anak 'umbelan' (Jawa: ingusan), tidak mereduksi kesalahan tetapi justru mempertegas maksud menghinakan Rasulullah SAW.

Menyebut Rasulullah SAW sebagai tidak terurus dan menganalogikan Rasulullah Muhammad SAW sebagai manusia suci memiliki kehidupan seperti umumnya anak anak lainnya yang umbelan, dan membuat konklusi kehidupan Rasulullah semasa kecil tak terurus karena diramut oleh sang kakek, justru menunjukan kedangkalan sekaligus kelancanganmu memberi 'sarah/penjelasan' kepada kaum milenial tentang pertanyaan mereka.

Semestinya jika kamu berilmu, lebih baik diam dan tak menjawab dengan analogi ngawur karena tanda orang alim itu tidak menjawab pertanyaan yang tidak bisa dijawabnya karena minimnya pengetahuan. Memaksakan menjawab semua pertanyaan tanpa ilmu, apalagi dengan membuat analogi ngawur selain lancang terhadap Rasulullah SAW juga merupakan bentuk kejahilan yang paling jahil (Jahil Murokab).

Selanjutnya, jika tak mampu berinteraksi dan berargumen cerdas menghadapi pertanyaan kaum milenial, lebih baik kamu ngisi Tiba'an, Berjanjen, atau khusus mengisi kajian Tahlil dan Baca Yasin di Majelis Ta'lim kaum ibu-ibu. Sebagai 'ulama' yang telah terbiasa manggung di istana, tentu aneh jika masih grogi dan kurang update untuk menghadapi nalar kritis kaum milenial.

Terakhir, saya Nasrudin Joha tak punya hak mewakili umat Islam untuk memberi permaafan atas unggahan vudeomu. Apalagi, saya sama sekali tak punya hak mewakili Al Mustofa, Rasulullah Muhammad SAW yang wibawanya kamu rendahkan.

Terserah kepada umat Islam, Jika umat Islam berkehendak, maka umat Islam akan memaafkan. Namun Jika umat Islam tak memaafkan, umat Islam juga punya hak lapor polisi untuk menindak kasus.

Selanjutnya, kamu diberi hak untuk mengklarifikasi dan membela diri dihadapan majelis hakim di pengadila yang terbuka untuk umum. Jika semua perkara selesai dengan meminta maaf, tentu tak perlu lagi ada sistem hukum dan peradilan di negeri ini.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations