Oleh: Nasrudin Joha
Saya ingin kabarkan perjalanan menuju Reuni 212, tetapi tidak detail sejak dari rumah. Beberapa orang yang tidak suka dengan Nasjo, selalu menguntit untuk mencari tahu darimana asal muasal Nasrudin Joha.
Foto: iNews.id

Sesampainya di Stasiun Juanda, penulis bersama banyak rombongan peserta lainnya berjalan kaki menyeberangi jembatan penyeberangan, menyusuri jalan dibawah rel kereta api jalur atas, tepat disisi masjid Istiqlal Jakarta. Jalan ini, adalah jalan setapak dari posisi stasiun Juanda menuju Monas, berada dibawah jalur kereta.

Di sepanjang jalan ini, berjajar puluhan hingga ratusan pedagang dari titik jembatan penyeberangan hingga ke titik ujung menuju Monas, pintu depan kantor Pertamina. Dan yang ingin saya ceritakan, adalah banyaknya pedagang pernak pernik dan bendera.

Sepanjang jalan, ditepi ruas jalan, pedagang bendera menjajakan bendera tauhid berbagai ukuran. Bahkan, pedagang juga menyediakan tiang benderanya.

Berbagai jenis bendera tauhid baik yang al Liwa (berwarna kain dasar putih dengan tulisan tauhid khat hitam) maupun Ar Royah (berwarna kain dasar hitam dengan tulisan tauhid khat putih), nampak dijajakan pedagang. Pernak-pernik tauhid dari shal, topi, ikat kepala, Pin, juga banyak dijual pedagang.

Sepanjang jalan, pedagang bendera dan pernak pernik ini nampak menyemarakkan suasana gegap gempita Lafadz tauhid. Tak ada bendera partai politik, tak ada bendera ormas, tak ada bendera Bani Majengjeng. Yang ada hanya bendera tauhid yang nampak disusun secara apik oleh pedagang.

BACA JUGA:

Ada beberapa bendera Palestina, namun tak seberapa. Semua sepakat, siapapun yang melalui jalur ini akan merasakan suasana 'ruh' tauhid sepanjang perjalanan.

Karenanya, sangat ngawur pernyataan Kapolres Banjar yang menyebut bendera Al Liwa dan Ar Royah sebagai bendera ormas terlarang. Kalau benar bendera terlarang, sudah pasti tak diperjualbelikan dan tak ada peminat untuk membeli dan memilikinya.

Fenomena ini menunjukan secara pasti bahwa bendera tauhid adalah bendera umat Islam dan telah dimiliki kembali oleh umat Islam. Hal ini bisa ditinjau dari beberapa alasan:

Pertama, jika bendera tauhid adalah bendera ormas tentu tak akan ada yang memperdagangkannya. Mengikat, bendera ormas hanya laku dijual di acara ormas bersangkutan.

Bahkan, dalam acara ormas bendera ormas juga tak dijual. Bendera ormas biasanya telah dicetak secara masif dan tinggal dibagikan.

Kedua, jika bendera tauhid adalah bendera ormas, tentu di reuni 212 ini juga dijual bendera ormas atau partai selain bendera tauhid. Mengingat, peserta Reuni adalah lintas partai dan lintas ormas.

Faktanya, tidak ada satupun bendera partai atau ormas yang dijajakan pedagang di acara reuni 212 malam ini. Hanya bendera Palestina yang nampak beberapa dijajakan.

Ketiga, syiar tauhid adalah Syiar Islam sehingga wujud syiar tauhid selain semarak dalam agenda Reuni 212 yang merupakan Reuni persaudaraan Islam juga wujud dalam bendera dan pernak pernik lainnya. Ada PIN, shal, ikat kepala, topi, yang bercorak kalimat tauhid juga terlihat ramai dijual pedagang.

Perlu diketahui, pedagang tidak mungkin jualan bendera tauhid jika tidak ada permintaan pasar. Hal ini mengkonfirmasi, syiar tauhid dalam bentuk bendera memang sedang digemari oleh umat.

Demikianlah syiar tauhid yang disemarakan pedagang. Adapun syiar tauhid sesungguhnya, baru akan nampak pada agenda inti pada saat taushiyah agama nanti. []

YOUR REACTION?

Facebook Conversations