Ketika telah nampak tanda-tanda keruntuhkannya , negara barat dan organisasi dunia pendukung kapitalisme Sekuler berusaha meredam dengan hukum dan HAM, jelas usaha yang sia-sia.


Oleh : Rut Sri Wahyuningsih

Institut Literasi dan Peradaban

Dilansir dari portal berita SINDOnews, pada tanggal 14 Juli 2020, polisi sedang menyelidiki perusakan sebuah patung yang menggambarkan sosok Perawan Maria, Ibu Yesus, di lingkungan gereja Paroki Saint Peter, Dorchester di Boston, Massachusetts, Amerika Serikat (AS) dibakar orang tak dikenal pada Sabtu pekan lalu. "Ini jelas seseorang yang terganggu, seseorang yang memiliki banyak masalah, jiwa yang bermasalah," kata John Currie, pendeta gereja tersebut kepada media lokal, NBC10 Boston, Selasa (14/7/2020).

Belum diketahui siapa atau kelompok mana yang melakukan pembakaran patung Perawan Maria. Namun, perusakan patung telah marak di AS dan sejumlah negara Barat setelah muncul gerakan Black Lives Matter (BLM), sebuah gerakan protes terhadap diskriminasi rasial di Amerika setelah pembunuhan pria kulit hitam George Floyd oleh polisi kulit putih di Minneapolis pada 25 Mei 2020 .

Donald Trump pun  mengancam akan menjebloskan para pengacau yang merusak patung atau monumen di Washington. Ia memperingatkan bahwa para pengacau tersebut bisa mendekam di penjara selama satu dekade.

"Banyak orang yang ditangkap di (Washington) DC karena vandalisme yang memalukan, di Lafayette Park, Patung Andrew Jackson yang megah, selain merusak gereja St. John di seberang jalan," tweet Trump  setelah beberapa aksi protes meletus di Ibu Kota.

Sebelumnya demonstran berkumpul di Lafayette Park dekat Gedung Putih pada hari Senin, . Mereka berusaha untuk menjatuhkan patung mantan presiden AS Andrew Jackson dan merusak gereja bersejarah St John dengan grafiti. Bala bantuan polisi dikirim untuk melindungi kedua lokasi. Video yang beredar di dunia maya memperlihatkan bentrokan antara pengunjuk rasa dengan para penegak hukum.

Gejolak kemarahan masyarakat kian membanjiri negeri Paman Sam. Terlalu banyak isu penyebab kericuhan, terlebih setelah pandemi Covid-19 melanda. Rasa lapar dan frustasi sebab keadaan tak kunjung berakhir. Namun yang lebih mendasar adalah sekulerisme yang mereka pelihara sebagai dasar pengaturan kehidupan bermasyarakat dan bernegaranya. 

Padahal, belum genap 100 tahun kapitalisme yang berazas sekulerisme memimpin telah menunjukkan kebobrokannya secara pasti. Sebab memang kemunculannya adalah akibat pergolakan yang ditimbulkan antara kaum gerejawan dan cendekiawan di akhir abad ke 16, yang tidak ingin adanya kekuasaan gereja yang mendominasi, sehingga muncullah kesepakatan jalan tengah. Dimana agama diakui namun dibuang sisi politiknya demi nafsu manusia menguasai dan melebihi Allah SWT sendiri. 

Kasus banyaknya pengrusakan patung itu bisa jadi adalah bagian dari runtuhnya kepercayaan massa di Amerika terhadap cara penanganan pandemi. Mereka sudah muak dan menghendaki ada perubahan secara kontekstual dan fakta. Seperti beberapa waktu lalu telah terpasang Trump Dead Clock, menghitung mundur kepemimpinan Donal Trump agar segera lengser sebab selama kepemimpinannya tak banyak perubahan. 

Isu yang paling relevan adalah rasisme selain kasus Khashoggi yang menyita perhatian dunia John Fisher, Direktur Human Rights Watch di Jenewa, telah mendorong  Dewan Keamanan PBB untuk menentukan tindakan atas sejumlah keputusan  dan bahkan telah  mengadopsi lebih dari 40 resolusi baru. Hal itu termasuk rekomendasi peningkatan hak asasi manusia di negara-negara seperti Libya, Iran, Nikaragua, Sudan Selatan, dan Myanmar (VOA Indonesia. Com, 14/6/2020).

Dan lihatlah, negara sekuler selalu berlindung dibalik ketiak HAM ketika menyelesaikan persoalan humanisme. Padahal disinilah yang perlu dikritisi, sepanjang kapitalisme sekuler bertahta dan memimpin dunia, tak pernah sekalipun persoalan kemanusiaan selesai pada waktunya , malah bertambah-tambah, sebab orientasi penyelesaiannya hanyalah manfaat sesaat, bukan riayah ( pengurusan). 

Maka, tak ada jalan lain, selain mempersiapkan keruntuhan kapitalis sekuler ini dengan mengembalikan Islam pada khittahya, yaitu pengatur urusan umat . Wallahu a' lam bish showab. 

YOUR REACTION?

Facebook Conversations