Kunci gemilangnya peradaban Islam, tidak lain ketika ilmu itu menjadi cahaya penerang kehidupan, karena warisan para Nabi dan Rasul.

oleh: Maman El Hakiem

Para orang tua selalu bingung saat menjelang tahun ajaran baru. Terlebih mereka yang memiliki putera puteri usia masuk sekolah. Kebingungan itu, tidak hanya memikirkan urusan biaya sekolah yang cukup mahal, terutama mereka yang berorientasi pada nilai kualitas pendidikan yang baik dan terpadu. Sekolah yang dimiliki negara bagi sebagian kalangan dianggap asal-asalan dan kalaupun ada yang bagus, sistem zonasi membatasinya.

Dalam sistem kapitalisme, pendidikan merupakan faktor yang mendapat perhatian, tapi tidak menjadi sebuah kewajiban negara memberikan pelayanan terbaik dengan sarana yang gratis. Masih terjadi gap antara sekolah unggulan dan bukan unggulan, sekolah formal dan non formal. Dikotomi sekolah dalam asuhan kemendik dan kemenag juga semakin menegaskan negara sering berlaku tidak adil dalam merawat dua institusi pendidikan tersebut.

Pendidikan dalam kacamata sekulerisme sifatnya harus mencair, tidak boleh ada kekentalan ajaran agama tertentu, terutama Islam. Maka, di pesantren pun yang semula terbiasa dengan kurikulum agama, harus disesuaikan dengan kurikulum bersama, pemahaman ajaran Islam tidak boleh mendominasi. Tidak heran sekolah pun harus masuk di pesantren, sedangkan "pesantren" di sekolah biasa hanya ada di bulan Ramadan saja, itupun kilat.

Metode pengajaran sekolah berbeda sekali dengan pesantren. Kelebihan pesantren yang murni itu adalah pengajaran kitab-kitab karya ulama secara "talaqi" , artinya ilmu disampaikan secara langsung oleh guru kepada murid dengan keilmuan bersanad. Jadi, bukan jalur keilmuan yang terputus, apalagi sekedar teori-teori dari orang yang tidak jelas sumber pengambilan ilmunya.

KH. Hasyim Asyari dalam kitab "Muta'alim", ada adab berilmu yang menjadi kunci memperoleh keberkahan, yaitu ketika ilmu diperoleh secara langsung kepada gurunya yang mengajarkan ilmu secara talaqi. Inilah gambaran pencarian ilmu yang diwariskan oleh Rasulullah saw. dan para sahabatnya. Hampir di setiap masjid atau majelis ilmu diselenggarakan halaqah untuk memahami syariah secara detail dan sempurna.

Kunci gemilangnya peradaban Islam, tidak lain ketika ilmu itu menjadi cahaya penerang kehidupan, karena warisan para Nabi dan Rasul. Orientasi ilmu bukan sekedar materi semata, ilmu yang bermanfaat tentu yang penuh berkah. Dan nilai keberkahan itu hanya dapat diperoleh jika syariah diterapkan secara kaffah di tengah masyarakat. Negara dengan sistem Islam akan memberikan pelayanan pendidikan secara maksimal, bukan karena adanya tuntutan kerja, apalagi sekedar target skill. Rakyat harus mencari ilmu karena perintah Allah SWT, kewajiban seluruh individu sejak dalam buaian hingga liang lahat.

Hanya dalam sistem Islam, rakyat berbondong bondong sekolah, orang tua tidak akan dipusingkan biaya apalagi harus sibuk pilih-pilih sekolah. Karena standar pendidikan yang diterapkan negara telah terverikasi jaminan mutu dan sarananya istimewa tanpa mahal biaya, bahkan gratis. Sekolah dan pesantren tidak ada bedanya, karena kurikulum disusun dalam rangka menguatkan akidah dan pengamalan syariah secara benar dan sempurna. Adapun untuk kemampuan bakat dan keterampilan disesuaikan dengan potensinya, maka silakan belajar berkuda, memanah atau berenang.

Wallahu'alam bish Shawwab*

YOUR REACTION?

Facebook Conversations