Oleh: Maman El Hakiem

Sayap burung-burung yang terbang, selain sebagai daya angkat untuk melawan gaya gravitasi bumi, tentu sebagai alat keseimbangan.

Inspirasi bagi manusia yang berakal, bagaimana pesawat terbang diciptakan dengan berpikir secara mendalam dan cemerlang dari makhluk Allah SWT tersebut. 

أَوَلَمْ يَرَوْا۟ إِلَى ٱلطَّيْرِ فَوْقَهُمْ صَٰٓفَّٰتٍ وَيَقْبِضْنَ ۚ مَا يُمْسِكُهُنَّ إِلَّا ٱلرَّحْمَٰنُ ۚ إِنَّهُۥ بِكُلِّ شَىْءٍۭ بَصِيرٌ

“Dan apakah mereka tidak memperhatikan burung-burung yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya di atas mereka? Tidak ada yang menahannya (di udara) selain Yang Maha Pemurah. Sesungguhnya Dia Maha Melihat segala sesuatu.” (QS al-Mulk [67]: 19).

Meraih impian manusia bisa terbang itulah yang dipikirkan Ibnu Firnas yang akhirnya menginspirasi  Wright bersaudara untuk menyempurnakannya menjadi pesawat terbang. Manusia terlahir dibekali akal pikiran yang kemampuan mampu menembus keterbatasan fisik. Karena itu manusia harus memiliki impian besar untuk meraih kesuksesannya di masa depan.

Perhatikanlah sayap burung yang mampu menjaga keseimbangan saat terbang, itulah cermin bagaimana manusia harus memiliki keseimbangan dalam hidup. Bukan hanya mengejar target materi, melainkan harus mampu diimbangi dengan tercapainya nilai ruhiyah. Manusia bukan hanya makhluk material, melainkan makhluk ruhiyah, yaitu nilai kebaikan yang bersandar dari tujuan Allah SWT menciptakan manusia di muka bumi, menjadikan kebaikannya sebagai ibadah pad-Nya.

Karena itu  pentingnya  “sayap keseimbangan” dalam meraih impian, tujuannya tidak lain agar kesuksesan yang diraih bukan hanya kebahagiaan sementara di dunia, melainkan menjadi bekal kebahagiaan di akhirat. Orang yang beriman kepada Allah SWT, dalam berbisnis akan selalu memperhatikan sayap keseimbangan ini, keuntungan materi yang diraihnya harus balancing dengan keshalihan amal. Artinya mencukupkan diri dengan rezeki yang diberikan Allah SWT, menikmati dunia, namun menjadikannya untuk  bekal kehidupan abadi di akhirat.

Sayap keseimbangan itu tidak lain adalah sikap qonaah, sebagaimana burung yang terbang untuk menjemput jatah rezekinya, bukan hanya mengenyangkan dirinya. Namun, berusaha membawakan makanan untuk berbagi sebagai jatah untuk orang lain. Mereka yang tidak menyadari hakikat  kesuksesan hanya sekedar meraih kebebasan finansial atas usaha keras yang dibangunnya bertahun-tahun, tanpa menyertakan keberkahan dalam hidupnya. Bagi mereka yang non muslim, tentu merasa tidak bersalah karena keberkahan hanya milik kaum muslim, yaitu adanya nilai ruhiyah dalam perbuatan. Adanya qimatul amal yang menjadi target impian sukses hidup di dunia dan akhirat yang ingin diraihnya.

Membangun kesuksesan hidup, secara khusus urusan bisnis bukan hanya dilihat dari pencapaian angka-angka finansial, melainkan kualitas amal. Jangan sampai telah merasa beramal dengan finansialnya, tanpa melihat  halal dan haramnya. Inilah yang membuat banyak bisnis yang kelihatannya sukses secara finansial, namun keropos secara amal. Semua terjadi karena tidak adanya sayap keseimbangan, impiannya hanya untuk kehidupan saat ini dan di sini. Saat halal dan haram tidak menjadi standar amal perbuatannya, maka yang diraih hanyalah kesuksesan dunia yang hanya fatamorgana.  

(Bersambung)

YOUR REACTION?

Facebook Conversations