Oleh: Maman El Hakiem

Ibarat penerbangan pesawat, hidup ini juga tidak selalu berjalan mulus. Ada banyak persoalan yang membutuhkan pemecahan atau solusi.

Mulai dari masalah yang remeh temeh sampai masalah besar yang sering membuat manusia berkeluh kesah dan akhirnya menempuh jalan yang salah.

إِنَّ ٱلْإِنسَٰنَ خُلِقَ هَلُوعًا

Artinya: ” Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.” (Q. S. Al Mariij: 19)

إِذَا مَسَّهُ ٱلشَّرُّ جَزُوعًا

Artinya: ” Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah,” (Q. S. Al Mariij: 20).

Jika kita amati tentang hakikat kehidupan, sifat keluh kesah tersebut sebenarnya bisa terjawab dengan memahami ajaran Islam secara kaffah. Maka, kunci persoalannya ada pada simpul kehidupan berupa pertanyaan  yang harus dijawab,  tentang hakikat keberadaan manusia di dunia, tugas dan tujuan hidupnya. 

Sebagai makhluk, manusia diciptakan Allah SWT dari tiada menjadi ada untuk mengarungi kehidupan di dunia ini, mengemban tugas mulia sebagai “khalifatu fil ardl”, memakmurkan dunia dan menjadikan bekal kepulangannya ke alam akhirat. Karena dunia sifatnya sementara, maka akan ada hari kebangkitan dan alam kehidupan yang kekal, yakni akhirat. Kehidupan setelah dunia yang akan mempertanyakan setiap amal perbuatan manusia  yang terekam dalam  catatan amal baik dan buruk.

Rekaman data perbuatan manusia di dunia dalam segala aktifitasnya, tidak ubahnya bagaikan black box (kotak hitam) yang berada pada pesawat terbang yang merekam segala data saat penerbangan.  Hampir dipastikan setiap terjadi kecelakaan pesawat terbang, yang dicari adalah kotak hitam tersebut karena menyimpan data rekaman percakapan pilot dengan  radar pengawas dan segala aktifitas terakhir yang menjadikan pesawat jatuh atau hilang kontak.

Begitupun kehidupan harusnya memperhatikan adanya rekaman perbuatan manusia selama hidup di dunia. Kegagalan dalam berbisnis atau bidang kehidupan lainnya harus dianalisa dari sistem yang mengendalikannya. Apakah hidup ini dikendalikan dengan syariat Islam atau bukan? Jika yang diterapkan aturan yang tidak selaras dengan petunjuk yang benar, maka  berpotensi besar kegagalan karena ulah manusia yang serakah dan mengikuti hawa nafsunya, membuat aturan sendiri hanya karena mencari kebahagiaan yang semu, semata-mata berorientasi pada kesenangan lahiriah yang menghalalkan segala cara. Menjadikan asas maslahat sebagai hukum perbuatannya. Itulah sistem kehidupan sosialisme dan kapitalisme yang memisahkan agama dari kehidupan.

Berbeda dengan aturan yang diberikan Allah SWT berupa syariat Islam, jika diterapkan dalam segala aspek kehidupan, tentu  manusia akan menemukan kebahagiaan yang hakiki.   Sekalipun menemukan kegagalan dalam bisnis misalnya, jika orientasinya kehidupan akhirat akan mampu bersabar. Karena bisnis yang diberkahi Allah SWT ciri utamanya adalah “ziyadatul khair”, tumbuhnya keshalihan dan kuatnya dakwah di tengah umat, bukan semata-mata terpenuhinya target materi duniawi. Karena itu mimpi besar seorang hamba Allah SWT yang harus diraih dengan kepakan sayap-sayap kesabaran dan ketegarannya, tidak lain meraih ridlo Allah dengan kenikmatan surga-Nya. Segera analisa kotak hitam kehidupan ini, agar menemukan titik terang pangkal permasalahan yang membuat hidup ini mudah berkeluh kesah, Boleh jadi karena ada masalah  dalam komunikasi antara manusia sebagai makhluk dengan Allah SWT sebagai al Khaliq dalam segala aspek kehidupan.  

Wallahu’alam bish Shawwab.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations