Oleh: Maman El Hakiem

إِنَّ اللَّه جَعَلَ رِزْقِي تَحْت ظِلّ رُمْحِي
”Allah menjadikan rezekiku di bawah bayangan tombakku.”

ﻟَﻮْ ﺃَﻧَّﻜُﻢْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺗَﻮَﻛَّﻠُﻮﻥَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺣَﻖَّ ﺗَﻮَﻛُّﻠِﻪِ ﻟَﺮُﺯِﻗْﺘُﻢْ ﻛَﻤَﺎ ﻳُﺮْﺯَﻕُ ﺍﻟﻄَّﻴْﺮُ ﺗَﻐْﺪُﻭ ﺧِﻤَﺎﺻًﺎ ﻭَﺗَﺮُﻭﺡُ ﺑِﻄَﺎﻧًﺎ

“Seandainya kalian sungguh-sungguh bertawakal kepada Allah, sungguh Allah akan memberi kalian rezeki sebagaimana Allah memberi rezeki kepada seekor burung yang pergi dalam keadaan lapar dan kembali dalam keadaan kenyang “ (HR.Tirmidzi, hasan shahih).

Kiranya cukup untuk mengantarkan semangat kita untuk tetap berusaha menjemput impian. Jangan pernah merasa mimpi itu sekedar bunga tidur, selama masih bisa bangun di pagi hari dalam keadaan segar bugar, maka cukuplah nikmat Allah SWT tidak boleh didustakan.

Dalam kehidupan  nyata, adakalanya kita menggunakan alam bawah sadar kita sekedar untuk menenangkan fisik, ada yang bermeditasi sekedar menemukan ketenangan jiwa. Padahal,  Allah  SWT memberikan kita rasa kantuk sebagai sinyal positif untuk menjaga keseimbangan ragawi.  Banyak yang tidak menyadari saat fisik kita tertidur, alam ruh masih ada bahkan jiwa masih berkelana dengan apa yang dinamakan alam mimpi. Maka, mimpi terbagi menjadi tiga bagian, yaitu pertama, mimpinya orang biasa, saat tidurnya sebagai aktifitas normal saja atas dorongan dari dalam dirinya karena fisik yang lelah. Saat terbangun ia tidak memiliki cita-cita bagaimana untuk mengubah dunia.

Kedua, mimpinya orang yang bermaksiat. Mereka yang diberikan rasa kantuk, namun karena kelelahan dalam aktifitas maksiatnya. Tidak sedikit orang yang tertidur setelah begadang semalaman di arena judi, kelelahan setelah pesta minuman keras, dan lainnya. Maka, saat mereka sadar dan diberikan mimpi hanyalah keburukan yang mempengaruhi jiwanya. Tidak ada target untuk perbaikan diri, apalagi umat.

Ketiga, mimpinya orang yang shalih. Mereka seperti tertidur, padahal jiwanya senantiasa  memuji  keagungan Allah SWT. Tidak mengherankan, jika mimpinya orang-orang shalih sering menjadi kebenaran karena didasari keyakinannya akan pertolongan Allah SWT dalam setiap aktifitasnya.  Maka, jika kita tidak diberikan mimpi yang baik seperti mereka, setidaknya tidak bermimpi buruk  orang-orang yang bermaksiat.

Membangun impian dalam dunia nyata sebenarnya bukan menjadikan “mimpi” sebagai target perbuatan. Melainkan, menapaki hari-hari dengan amal terbaik yang diridloi Allah. Ia akan segera bergegas saat terbangun untuk mengepakan sayap-sayap kesuksesan, bukan terlena dengan indahnya mimpi tanpa berusaha menciptakan target prestasi amal shalih.

Sebagaimana seekor burung yang terjaga di pagi buta, lalu menyadari  masih ada sayap untuk terbang, secepat mungkin lalu mengepakan sayapnya. Tidak menunggu belas kasihan dari burung yang lain. Inilah pelajaran berharga, sejatinya manusia yang dikarunia Allah SWT dengan potensinya. Jangan sampai  minder, saat merasa terpuruk harus segera bangkit menemukan jatah rezekinya dengan mengepakan sayap-sayap kesuksesannya. Untuk meraih impan besar, tentu tidak cukup mengandalkan talenta. Maka, ia tidak akan pernah bergantung pada makhluk, melainkan tawakal hanya kepada Allah SWT saja. Ia akan segera melesatkan ujung tombaknya untuk membidik kesuksesan di masa depan. 

(Bersambung)

YOUR REACTION?

Facebook Conversations