Oleh: Maman El Hakiem
Episode: “Sahabat Sejati”

Ini kisah persahabatan sejati. Fathan, anak kedua kami berteman dekat dengan Naufal. Kebersamaan mereka bermula sejak masuk sekolah dasar Islam terpadu.

Hampir tiada hari  tanpa dijalani kebersamaan, baik dalam kegiatan belajar maupun main bareng.

Mereka senang bersepeda, sesekali mereka mengadakan acara gaya remaja yang hobi bersepeda, gowes bareng, biasanya saling samper anak-anak satu komplek perumahan. Mereka membawa bekal masing-masing, saat berhenti untuk istirahat, mereka saling tukar mencicipi bekalnya. 

“Fal, ini loh rendang masakan mamah...silahkan dicicipi!” Fathan menawari Naufal, membuka bekal yang dibawanya. Sedangkan Naufal juga menawarkan bekalnya, ada kue lapis talas khas Bogor. 

“Wah asyik banget, emang rendang yang selalu kutunggu.” Jawab Naufal, yang kemudian mereka saling mencicipi bekalnya. Begitu akrab persahabatan mereka, kebahagiaan itu saat bisa saling berbagi, bukan karena nilai atau mahalnya pemberian, melainkan ketulusan hati yang terpenting.

Seiring waktu, mereka akhirnya harus berpisah saat keluar dari sekolah dasar. Sebenarnya, mereka mendaftar juga di sekolah lanjutan tingkat pertama yang sama, namun Fathan gagal test masuk. Terpaksa, mereka tidak lagi sering bersama, karena belajar di sekolah yang berbeda.

Jika ingat Naufal, rasanya sulit tergantikan teman sepertinya. Begitu curahan hati Fathan, meskipun ada teman akrab yang lainnya, bernama Ali. Karakter Ali, meskipun sama baiknya, tapi bagi Fathan ada kegemaran yang tidak disukai Ali, yaitu rendang dan bersepeda.

“Fath, maafkan ya hobi kita berbeda.” Kata Ali secara jujur, setiap aku mengajaknya gowes bareng. “Ya, gak apa-apa.” Aku hanya menjawabnya singkat, ada rasa kecewa karena Ali tidak seperti Naufal.  “Sayang Naufal kini tinggalnya jauh, berbeda sekolahan lagi.” Gumamku dalam hati.

“Kriiing...kriinng...” Bunyi bel rumahku berbunyi, sepertinya ada tamu.

Aku segera membukakan pintu, ternyata kejutan bagiku karena yang datang  Tante Lida, ibunya Naufal. “Mah, ada tante Lida nih...” Aku sangat senang, langsung memanggil mamah.

Tetapi, rasa senang itu hanya sekejap, karena kehadiran Tante Lida seperti membawa mendung di saat langit cerah. “Begini...mohon maaf sebelumnya, barang kali Naufal punya salah atau memiliki utang, biar tante yang bayar.” Ucap Tante Lida yang membuatku serasa panas dingin.

“Memang ada apa dengan Naufal?” Tanya mamah. 

“Naufal kemarin telah pulang kepada pemiliknya, Allah SWT telah memanggilnya.” Jawab Tante Lida seperti tidak bisa menahan rasa sedihnya. 

“Innalillahi wa innailaihi rojiun...”  Betapa hati ini terasa tertusuk sembilu, air mata membasahi pipi. Lalu, mamah memelukku karena tahu betapa sedihnya aku yang telah kehilangan sahabat sejati. (Bersambung).

YOUR REACTION?

Facebook Conversations