Masyarakat Indonesia dibuat bingung, apa pasal, karena pada awalnya terbit kebijakan melarang mudik demi untuk mencegah penyebaran virus Corona. Namun selang tak berapa lama muncul kontroversi di tengah masyarakat, setelah presiden Joko Widodo membolehkan pulang kampung.
Freepik.com

Muthmainnah Kurdi, Pejuang Pena Palembang

Kata mudik kini sudah bertransformasi menjadi berbagai bentuk. Mudik sudah beranak-pinak menjadi berbagai produk turunan yang tidak ada di Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) sebelumnya.

Masyarakat Indonesia dibuat bingung, apa pasal, karena pada awalnya terbit kebijakan melarang mudik demi untuk mencegah penyebaran virus Corona. Namun selang tak berapa lama muncul kontroversi di tengah masyarakat, setelah presiden Joko Widodo membolehkan pulang kampung.

Istilah pulang kampung dan mudik rupanya mempunyai makna  berbeda, versi RI-1. Kalau mudik bertujuan untuk rekreasional, sementara pulang kampung lebih merujuk pada kepulangan para perantau ke kampung masing-masing. 

Kebijakan larangan pemerintah agar tidak mudik tapi boleh pulang kampung , membuat rakyat makin bingung. Karena pada saat yang sama pemerintah juga mengumumkan bolehnya semua moda transportasi untuk beroperasi. " Yang dilarang itu mudiknya bukan transportasinya", ujar Jokowi

Jika demikian, bagaimana mungkin masyarakat akan mentaati peraturan ? bagaimana mungkin usaha memutus rantai penyebaran covid-19 bisa dilakukan ? Sungguh ini tidak ada signifikansi antara keduanya. 

"Secara kebijakan tidak konsekuen sekarang ini, mudah-mudahan masyarakat kita yang lebih disiplin dan mawas diri." Ujar Epidemiolog Universitas Indonesia (UI) Hermawan Saputra, lansir CNN (16/5).

 Apa yang diutarakan oleh Hermawan Saputra di atas, cukup beralasan. Meniscayakan tidak adanya patokan yang jelas soal PSBB,  tidak konsisten, malah yang terjadi memberi kelonggaran. 

Fakta dari kebijakan yang tidak konsisten itu adalah membludaknya pengunjung mall, antrean panjang di bandara dan penumpang kereta api serta antrean warga dalam pembagian sembako, jalan-jalan macet (menandakan adanya kerumunan besar). Tidak ada PSBB pada tempat-tempat itu.

Maka wajar jika kemudian muncul tagar  Indonesia Terserah, yang menunjukkan protes para tenaga kesehatan (nakes), pada kebijakan pemerintah yang ambivalen. Yang membuat masyarakat cenderung lalai dan melanggar.

Bagaimana tidak, kebijakan  relaksasi PSBB tersebut telah  menambah jumlah pasien covid-19 makin banyak. Tentu ini menambah beban kerja para nakes makin berat. 

Kebijakan pemerintah itu, sangat kentara hanya berpihak pada kepentingan kelompoknya, para elit kapitalis. Dengan dalih menyelamatkan perputaran ekonomi.  Namun mengesampingkan keselamatan rakyat,  jadi untuk siapakah pelonggaran PSBB itu ? Yang pasti bukan untuk rakyat.

Solusi Islam

Islam adalah agama sekaligus ideologi yang lengkap, ajarannya komprehensif. Islam selalu memberi solusi atas segenap persoalan pelik manusia yang absurd ( mustahil)  ada jalan keluarnya sekalipun.

Pun dalam kesehatan, sejak 14 abad lalu Islam telah memerintahkan untuk mempraktekkan gaya hidup sehat, yang diawali dengan makanan. Juga Islam memerintahkan umatnya untuk menjaga kebersihan diri dan lingkungan.

Namun yang paling krusial dari itu adalah peran sentral penguasa dalam menjaga jiwa, kesehatan, keamanan warganya. Apatah lagi saat terjadi wabah penyakit menular. Upaya melindungi rakyat dengan optimal dan tak abai dengan jiwa rakyat harus masif dilakukan dan diutamakan. 

Sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Saw. dan para sahabat dalam upaya mendahulukan menyelamatkan nyawa rakyatnya, saat terjadi wabah.

Maka tidak akan terjadi risalah mudik yang membingungkan, dengan muncul istilah pulang kampung, mudik virtual, mudik lokal, mudik digital. Seandainya jauh-jauh hari pemerintah sudah menerapkan ide karantina atau lockdown dalam menangani pandemi covid-19, awal Maret lalu. 

Hendaknya para pemimpin negeri ini bisa memetik hikmah dari wabah ini, menjadi pemimpin yang penuh empati dan amanah pada rakyatnya. Agar Allah SWT. tidak murka kelak. Rasulullah Saw. bersabda:

"Siapa yang diserahi oleh Allah untuk mengatur urusan kaum muslimin, lalu dia tidak mempedulikan kebutuhan dan kepentingan mereka, maka Allah tidak akan mempedulikan kebutuhan dan kepentingannya (pada Hari Kiamat)". 

(HR. Abu Dawud dan at Tirmidzi).

Wallahu a'lam.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations