Islam memiliki solusi dengan menata ulang aspek makro dan mikro ekonomi dari sekuler kapitalis menjadi berbasis syariah.

Dalam konteks sistem ekonomi, Islam memiliki solusi dengan menata ulang aspek makro dan mikro ekonomi dari sekuler kapitalis menjadi berbasis syariah. Sebuah sistem yang tidak dilematis membenturkan kebutuhan ekonomi manusia dengan nyawa manusia. Namun kebutuhan ekonomi dan nyawa manusia sama-sama bisa dipenuhi dan di jaga dengan baik. Inilah peradaban Islam yang menjadi peradaban pengganti terkuat post pandemi. Situasi terburuk hari ini bisa hanya diatasi oleh syaraiah Islam.

Tawaran ekonomi syariah dalam tata ulang kebijakan makro dan mikro ekonomi adalah sebagai berikut:

1. Menata ulang sistem keuangan negara. 

Sistem keuangan kapitalis-demokrasi yang bertumpu pada pajak dan hutang terbukti tidak bisa memberikan pemasukan dan justru berketergantungan kepada negara lain dan membuat dunia Islam masuk dalam debt trap dan ini tidak akan pernah dipakai oleh peradaban Islam. 

Hal ini karena sistem keuangan  Islam  terbukti selama 13 abad yang memiliki pemasukan yang besar sekaligus mandiri tanpa tergantung kepada negara atau organisasi lain. Pemasukan ini diperoleh dari pengelolaan berbagai kepemilikan umum (milkiyah aamah) termasuk di dalamnya pertambangan, laut, hutan dan asset-aset rakyat lain dengan posisi negara hanya sebagai pengelola. 

Pemasukan lain adalah dari pengelolaan milik negara berupa kharaj yaitu pungutan atas tanah produktif.  Dan juga ada pemasukan dari Zakat juga dengan kekhususan pmbelanjaannya untuk 8 ashnaf mustahiq zakat. Abstraksi pemasukan yang besar ini bisa diselusuri  dari sejarah kekhilafahan Abbasiyah di bawah kepemimpinan Harun Ar Rasyid yang memiliki surplus pemasukan sebesar APBN Indonesia yaitu sekitar 2000 Trilyun. Hal ini berarti menunjukkan jumlah pemasukannya yang lebih besar lagi

2. Menata ulang sistem moneter. 

Dalam sistem ekonomi Islam, Income atau pendapatan masyarakat dipastikan memiliki kecukupan yang tidak membuatnya jatuh pada jurang kemiskinan dengan menjaga daya beli uang. Daya beli uang ini dipertahankan dengan moneter berbasis dzat yang memiliki nilai hakiki yaitu emase dan perak. Mata uang kertas yang mensandarkan pada dollar yang dihegemoni Amerika Serikat akan ditinggalkan. 

3. Menata ulang kebijakan fiskal

Hal ini dilakukan dengan menghapus semua pungutan pajak, Pajak hanya pada situasi extraordinary dan hanya ditujukan pada kalangan yang mampu dari orang kaya (aghniya). Dan  ketika kondisi extra ordinary selesai maka pajakpun dihentikan. 

4. Menata ulang sistem kepemilikan asset di permukaan bumi. 

Kepemilikan asset akan direvolusi, tidak diberikan kepada asing dan aseng. Hal yang terjadi hari ini dengan memberikan bagian kepemilikan kepada asing dan aseng adalah bentuk penentangan pada  ketentuan Allah swt dan RasulNya bahkan memerangi Allah dan RasulNya. 

5. Tata Ulang kebijakan mikro ekonomi

Hal ini dilakukan dengan mengatur aktifitas ekonomi antar individu dan pebisnis. Negara Khilafah akan melarang praktik riba dan transaksi yang melanggar aturan syariah lainnya. Kekurangan modal bisa dilakukan person to person tapi jika dalam situasi khusus seperti pandemi maka negara hadir dengan memberikan modal dalam bentuk hibah atau dalam bentuk pinjaman tanpa beban bunga/riba. Bank sentral tidak diperlukan tapi yang akan berdiri adalah institusi Baitul maal.

Kembalinya Peradaban Emas Khilafah sebagai Peradaban Post Pandemi

Pertanyaan yang muncul dalam benak semua orang adalah: Bagaimana upaya mengemballikan semua itu? Bagaimana peradaban dengan kebijkan makro dan mikro seideal itu  bisa muncul? 

Hal pertama yang harus ada yaitu bergulirnya gagasan serius untuk memperjuangkan formula syariah Islam ini untuk diterapkan. Pijakannya adalah janji Allah SWT dan kabar gembira dari RasulNya. Pijakan selanjutnya adalah fakta bahwa Syariah Kaafah ini diterapkan oleh Peradaban Khilafah ini tidak pernah mengalami krisis siklik dan periodik selama kurang lebih 1300 tahun (13 Abad). Kesejahteraanpun merata sampai ke level individu.

Kabar gembira atau bisyarah Rasulullaah SAW bahwa saat ini adalah fase jabriyatan (kekuasaan yang diktator) dan akan dilanjutkan dengan fase terakhir Khilafah ala minhajinnubuwah adalah pijakan kuat akan pastinya kemunculan peradaban Islam.  Namun semua ini tergantung pada konsolidasi politik umat secara global.  Keinginan umat manusia untuk kembali kepada aturan RabbNya dalam konsolidasi politik global ini sangat mungkin dan sangat mudah sebagaimana situasi hari ini, orang dari berbagai belahan bumi bisa bertemu melalui berbagai media. Terlebih kaum muslimin telah mendapatkan teladan dari langkah perjuangan dakwah Rasulullaah SAW dalam melakukan perubahan masyarakat jahiliyyah menjadi masyarakat Islam, dari peradaban penuh kegelapan menuju peradaban penuh cahaya yang menjadi rahmatan lil alamiin.

Bersambung ke tulisan bagian 2



YOUR REACTION?

Facebook Conversations