Islam memiliki solusi dengan menata ulang aspek makro dan mikro ekonomi dari sekuler kapitalis menjadi berbasis syariah.

“INTELEKTUAL: PANDEMI COVID-19 & THE GREAT LOCKDOWN, KUATKAN KONSOLIDASI POLITIK UMAT MENYAMBUT PERADABAN EMAS ISLAM”

(Bagian 1)

Pengantar

Pada Mei 2020 diselenggarakan 2 (dua) kali forum daring Kajian Intelektual Muslimah (KIM) yang mempertemukan secara virtual sekitar 500 intelektual dari berbagai penjuru Indonesia. Tema “Pandemi Covid-19: The Great Lockdown” (Kapitalisme Global Kollaps dan Munculnya Peradaban Islam)  menjadi tema yang menarik dan dikupas dengan analisis tajam sekaligus deskripsi tawaran solusi Islam yang jelas. Berikut rangkuman materi dalam kajian tersebut yang dibagi menjadi 2 bagian tulisan. Semoga memberikan pencerahan sekaligus semangat bagi pembaca untuk turut menjadi bagian aktif  dalam menyambut peradaban emas Islam segera tegak kembali.

The Great Lockdown: Situasi Ekonomi Terburuk dalam Sejarah Peradaban Sekuler-Kapitalis 

The Great Lockdown sendiri merupakan sebuah istilah yang digunakan oleh Ekonomis  IMF dalam World Economic Outlook April 2020 untuk menggambarkan situasi ekonomi dunia terkini di era pandemi covid-19 sebagai situasi ekonomi terburuk bahkan sejak 1930.  Pandemi ini telah menguji ketahanan sistem ekonomi dan politik Sekuler-Kapitalis yang ternyata tidak mampu menyelesaikan masalah pandemi. Bahkan Pandemi telah benar-benar membongkar dan menelanjangi kedzaliman dan kecacatan permanen dari sistem ekonomi kapitalis liberal dan sistem politik demokrasinya. 

Seruan Lockdown menjadi kebijakan simalakama bagi sistem yang penopang utamanya adalah para kapitalis bermodal besar dan bergerak di sektor non riil ini. Tidak seperti krisis sebelumnya, pandemi saat ini memukul 2 sektor sekaligus yaitu sektor riil dan non riil.  Kebijakan dengan menurunkan pajak dan moneter dengan  menurunkan suku bunga menjadi kebijakan yang tidak membawa hasil. Ekonomipun tidak bergerak, terlebih di tahun 2019 sendiri sudah ada prediksi beberapa pihak bahwa akan terjadi krisis finansial dunia di tahun 2019, namun kemudian ada pandemi 2020 maka situasi ekonomipun jadi terpukul habis. 

Situasi inipun membagi masyarakat menjadi 2 (dua) kelompok besar yaitu The Winners dan The loosers. Gap antara The Winners yaitu para pemilik  korporasi farmasi raksasa dan spekulan dengan The Loosers  yaitu mereka yang berada di middle class income akan semakin lebar. Maka jika kesenjangan ini  tidak bisa diatasi dengan mendekatkan 2 kelompok ini maka demokrasi akan hancur. Padahal di sisi lain, demokrasi dengan prinsip dan mekanismenya sebenarnya sudah gagal dalam mendekatkan 2 kelompok ini. Maka, dengan cacat bawaan dan situasi pandemi saat ini,  runtuhnya sistem ekonomi kapitalis dan sistem politik demokrasi sudah di depan mata. Peradaban ini tengah menuju akhir dari masa berjayanya dan masyarakat memerlukan peradaban baru sebagai penggantinya. Strategi New Normalpun bukanlah solusi atas kerusakan akut ini. Normal baru hanyalah  failure strategy (strategi gagal) yang akan memperpanjang nafas kelompok The Winner.

Islam: Tawaran Solusi dan Peradaban Post Pandemi

Lalu apa solusinya? Apa sistem penggantinya? Apa langkah yang bisa dilakukan para intelektual?. Hal mendasar yang harus disepakati bahwa sistem pengganti ini adalah sistem yang mengedepankan nyawa manusia daripada ekonomi, sistem yang menjamin terwujudnya kesejahteraan, keadilan dan kebahagiaan. 

Adalah Islam yang sejak kehadirannya mampu memberikan keadilan, kesejahteraan sekaligus kehormatan dengan keberhasilannya mendekatkan 2 (dua) kelompok yang mengalami kesenjangan ekonomi. Hal ini sebagaimana ditunjukkan dengan proses mempersaudarakan kaum muhajirin dan kaum Anshar. Islam telah mengatasi situasi ekonomi, politik juga sosial masyarakat Arab dari Jahiliyyah  yang penuh krisis ke situasi penuh ketinggian ilmu dan kemajuan segala bidang. 



YOUR REACTION?

Facebook Conversations