Oleh: Alfira Khairunnisa
Aktivis Muslimah Peduli Negeri

Tak terasa Idhul Adha 1441 H sudah di depan mata. Sungguh Idhul Adha mengajarkan kita banyak hal. Diantaranya adalah bahwa selayaknya manusia belajar taat sempurna pada Allah Subhanahu Wata'ala sang pencipta manusia, alam semesta, kehidupan serta pemberi petunjuk dalam mengarungi kehidupan.

Sebagaimana ketaatan Nabiyullah Ibrahim Alaihissalam dan Nabiyullah Ismail Alaihissalam kepada Rabb-Nya, meski Nabi Ibrahim harus mengorbankan Nabi Ismail anaknya dan Ismail pun turut akan perintah Allah untuk disembelih demi menjalankan perintah Rabb-Nya, dengan sepenuh keimanan, tanpa sedikit pun keraguan. Sungguh, mereka tersungkur dalam kepasrahan kepada Allah, hamba yang shalih yang senantiasa berpadu dengan ketaatan dan kesabaran.

Siapakah gerangan hati orang tua yang tega dan sampai hati menyembelih anak sendiri? Sungguh, perintah itu adalah perintah yang sangat berat untuk dilaksanakan. Bagaimana tidak? Mengorbankan orang terkasih dan terdekat dan nyawa juga tiadalah mudah. Namun, bagi manusia yang memiliki iman dan ketaatan penuh kepada Allah, ini adalah saat pembuktian akan ketundukannya kepada penciptanya.

Dan sungguh Nabi Ibrahim membuktikannya dengan menjalankan perintah Allah tersebut dengan kemantapan hati. Tak sedikitpun ada keraguan. Namun, Allah punya skenario tersendiri untuk Ibrahim dan Ismail yang sudah membuktikan ketundukannya pada Allah. Ismail putra terkasih, digantikan Allah dengan seekor kambing. Sehingga Ismail pun selamat dan tidak tersembelih. Namun yang tersembelih adalah seekor kambing yang telah digantikan Allah untuk disembelih.

Begitulah skenario Allah. Rencana Allah tentulah indah. Ia kembalikan Ismail kepada Ibrahim yang sudah ikhlas dikorbankannya sebagai bentuk kecintaan terhadap Rabb-Nya. Begitulah buah dari ketaatan yakni kebahagiaan. Jika tidak di dunia Allah berikan, maka surga Allah menanti kehadiran.

Peristiwa disembelihnya Ismail dengan digantikan Allah dengan seekor kambing, diabadikan dengan Hari Raya Qurban atau kerap juga disebut dengan hari Raya Haji atau Hari Raya Idhul Adha hingga saat ini.

Nah, bagaimana dengan pengorbanan kita saat ini terlebih lagi dimasa pandemi? Sudahkah kita menunjukkan ketaatan penuh kepada Allah meski dengan berbagai ujian yang menimpa ditengah merebaknya virus corona? Mampukah kita berkorban dengan sesama meski kita dalam keadaan kekurangan?

Ya, pandemi sungguh menghantam berbagai sektor yang ada di Indonesia. Terutama sektor ekonomi. Perekonomian Indonesia kian memburuk tersebab pandemi yang tak kunjung usai. Pandemi alhasil menghasilkan banyak krisis yang membuat sebahagian besar masyarakat merintih bahkan menangis. Terutama masyarakat ekonomi menengah kebawah.

Disektor kesehatan, sudah jelas bahwa kebutuhan terhadap fasilitas kesehatan lebih banyak, terlebih masa pandemi ini. Kebutuhan seperti masker, sarung tangan, APD, kebutuhan vaksin dan lain sebagainya, menjadi barang langka dan sangat mahal harganya. Begitu juga rakyat yang ingin memeriksakn diri untuk mengetahui apakah ia terkena covid atau tidak. Rakyat dikenakan biaya yang cukup mahal untuk sekedar memeriksakan diri hingga jutaan rupiah.

Kemudian, sektor ekonomi mengalami kemandegan hingga resesi mengancam Indonesia. Di bidang Pendidikan juga mendapati problematika tersendiri. Sulitnya belajar dengan sistem daring karna terkendala tidak mampunya orang tua mengisi paket data internet berikut pengadaan Android yang menjadi dilema tersendiri. Ditambah lagi uang sekolah dan kuliah tetap berjalan full meski pembelajaran via daring. Pendapatan orang tua peserta didik menurun. Hingga tak dapat membayar uang sekolah. Disamping itu, wacana pemotongan tunjangan guru yang dialihkan untuk penanganan covid- 19 menjadi polemik dan menuai beragam kontroversi.

Ketahanan keluarga dimasa pandemi pun sangat rapuh. Angka perceraian terus merangkak naik, berikut KDRT yang terjadi di dalam rumah tangga. Hal ini juga mengakibatkan kerusakan generasi ketika mendapati keluarganya 'brokenhome'. Orang tua lepas kontrol terhadap anak-anaknya. Akhirnya generasi tanpa pendidikan agama dan kasih sayang orang tua. Hingga menjadikannya pribadi yang liar. Kenakalan remaja pun akhirnya tak dapat dielakkan. Berbagai kasus kenakalan kini ramai menjadi berita yang terus menghiasi timeline media baik cetak maupun elektronik.

Tidak hanya itu, pornografi turut menjadi situs yang sangat mudah untuk diakses. Hingga beberapa waktu lalu, pengunjung situs porno makin meningkat. Peran negara yang diharapkan bisa memblokir semua situs porno tak dapat diandalkan. Alih-alih situs porno di blok. Justru yang ada makin tumbuh berkembang.

Disamping seabrek problematika yang dialami negeri ini, antisipasi penanganan dan strategi dari pemerintah untuk mengurangi dampak buruk covid-19 yang saat ini dihadapi negeri ini melalui kebijakan New Normal pun tidak mampu menjadi solusi. Namun, sampai saat ini kebijakan tersebut tetap saja masih dijalankan meski sudah banyak korban berjatuhan. Tak hanya itu, korban meninggal akibat kelaparan yang disebabkan oleh lambannya bantuan pemerintah turun menjadi kepedihan yang tak dapat ditutupi.

Ya, rakyat terus ditimpa nestapa. Kemiskinan, pengangguran, ditambah lagi harga-harga kebutuhan pokok yang terus melonjak, sampai kepada utang negara yang terus menumpuk dan kian membengkak serta aneka persoalan lainnya yang terus datang tak kunjung usai.

Namun ironisnya, semua derita rakyat itu terjadi di tengah keberlimpahan kekayaan alam negeri ini. Negeri yang bergelar Zamrud diKhatulistiwa namun tak dapat mensejahterakan rakyatnya. Minyak bumi, tembaga, emas, perak, aneka mineral, kekayaan hayati, hutan belantara, kekayaan laut dan banyak yang lainnya terhampar di seantero negeri ini. Namun sayang beribu sayang, semua kekayaan itu tak dapat dinikmati oleh rakyatnya sendiri kecuali para rakyat tertentu yakni para kapitalis negeri ini. Sebab sebagian besarnya telah dikuasai oleh pihak asing, swasta dan individu.

Sistem penanganan masalah dalam kapitalisme tentu tidak bisa diandalkan. Buktinya, segudang persoalan yang dihadapi negeri ini belum jua dapat terselesaikan. Alih-alih terselesaikan, sebaliknya persoalan yang dihadapi kian menghampiri. Beginilah hidup di sistem kapitalis-sekuler. Untung rugi selalu jadi tolak ukur perbuatan. Halal haram tak lagi diperhatikan. Seabrek kebutuhan masyarakat tak jua dapat dipenuhi negara. Hingga akhirnya nyawa jadi taruhannya.

Maka dari itu, sudah menjadi kebutuhan mendesak bagi umat untuk  dapat menuntaskan berbagai problematika yang melanda negeri dengan sistem yang dapat menyelesaikan seluruh persoalan yang ada. Problematika negeri ini hanya dapat dilesesaikan dengan tatanan aturan yang berasal dari sang pencipta, yakni Allah SWT. Kemudian tegaknya seluruh syari'at sebagai solusi. Namun, semua itu dapat diraih hanya jika adanya ketaatan sempurna dan kesiapan berkorban meninggalkan seluruh orientasi individual dan materialistik menuju keinginan meraih ridla Ilahi Rabbi.

Nasihat Nabi Kini Tak Diindahkan Lagi

Sungguh, berbagai problematika yang melanda negeri ini terlebih pada momen Idul Adha tahun ini, seharusnya kita bisa mengingat dan merenungkan kembali nasihat-nasihat Baginda Nabi saw. pada saat Haji Wada. Rasulullah menyampaikan khutbah yang intinya berupa pesan-pesan beliau kepada umat Islam serta tidak ada yang dapat membedakan manusia kecuali hanya taqwanya. Menjadikan Al-Qur'an dan As-Sunnah sebagai petunjuk hidup.

Namun sayang, apa yang dipesankan Baginda Nabiyallah Muhammad SAW. 14 abad lalu, tak banyak diindahkan oleh umat Islam hari ini. Al-Quran dan As-Sunnah tak lagi dipedulikan, kecuali sebatas bacaan saja. Namun isinya diabaikan bahkan dicampakkan. Hukum-hukumnya benar-benar dicampakkan. Pantas, saat ini negeri ini seperti tersesat jalan. Pantas pula negeri ini dirundung aneka persoalan. Lalu sampai kapan al-Quran dan as-Sunnah akan terus kita abaikan?

Nabiyullah Ibrahim Alaihissalam telah membuktikan pengorbanannya di jalan Allah. Bahkan nyawa putra semata wayangnya yang kepada dia tertumpah segenap cinta dan kasih sayangnya ia persembahkan dengan penuh keyakinan kepada Allah. Sungguh teladan yang utama.

Namun bagaimana dengan kita? Oleh karena itu pada momen penting ibadah haji dan kurban tahun ini, selayaknya umat bisa mengambil ibrahdari keteladanan Nabiyullah Ibrahim yang begitu mencintai Rabb-Nya. Dan kecintaannya tersebut bukan hanya sebatas di lisan saja, namun hingga kepadalaku perbuatan, yakni aplikasi pembuktian. Sungguh ketaatan yang demikian sempurna dengan kadar yang istimewa, Bahkan beliau pun siap mengorbankan segalanya, termasuk nyawa sekalipun, demi tegaknya agama Allah SWT di muka bumi ini.

Inilah sesungguhnya esensi ibadah haji dan kurban. Kita diajari tentang kasih sayang, cinta dan ketaatan serta ketundukan total kepada Allah SWT. Kita pun diajari tentang keharusan untuk berkorban mengorbankan apa saja yang ada pada diri kita semata-mata demi kemuliaan Islam dan kaum Muslimin, umat Nabi Muhammad yang mulia.

Refleksi Idul Adha 1441H seharusnya menguatkan kesadaran umat akan kebutuhan untuk mendapatkan solusi atas krisis akibat pandemic untuk taat sempurna pada seluruh aturan Sang pencipta dan pengatur, yakni Allah SWT, sehingga solusi paripurna dapat terwujud. Terahir, semoga umat dapat menguatkan tekad untuk dapat berkorban dengan seluruh daya upaya demi menegakkan aturan Allah dalam kehidupan. 

Wallahu'alam-bishoab.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations