Oleh: Evi Shofia, Sp
Suatu siang di sekolah, sepasang pelajar berasyik masyuk di pojokan kelas. Tentu ini melanggar rambu-rambu syariat, apalagi di sekolah yang berbasis agama.
Foto: Pixabay

Usut punya usut ternyata mereka sudah menikah. Kemesraan yang dipertontonkan di depan umum tidaklah dibenarkan apalagi terjadi di dalam kelas yang nota bene mereka masih pelajar, jiwa mudanya sedang bergejolak.

Di sekolah kami yang terletak di pelosok, menikah sirri pada saat tunangan menjadi tradisi. Segelintir anak-anak ada yang sudah menikah, bahkan sudah punya anak.  Jika sudah punya anak terputuslah pendidikan si ibu, sedangkan si ayah bisa lanjut melenggang ke sekolah. Adapula yang  pihak laki-lakinya masih jenjang SLTP sedangkan yang perempuan SLTA. Fakta yang lain, nikah hanya beberapa bulan kemudian cerai jadilah berstatus janda muda. Tidaklah mengherankan kalau ini terjadi pada anak-anak yang sudah tuntas sekolahnya sampai jenjang SLTA. Ironisnya, kasus ini melibatkan mereka yang berstatus siswa.  Wajarlah ungkapan “ Bocah punya anak”. Bisa dipastikan kehidupan keluarga berjalan apa adanya. Tanpa ada perbaikan ekonomi, pendidikan, sosial dan agama. 

Banyak faktor yang mempengaruhi kondisi ini. Diantaranya, faktor pendidikan, orang tua, ekonomi, media sosial  dan  tradisi yang berkembang di masyarakat. Rendahnya pendidikan orangtua dan masyarakat  menyebabkan adanya kecenderngan untuk menikahkan anaknya yang masih dibawah umur. Kekhawatiran orang tua terhadap anaknya terlibat pergaulan bebas hingga segera menikahkan anaknya walau masih bocah. 

BACA JUGA:

Bisa juga karena faktor ekonomi, keluarga yang hidup dibawah garis kemiskinan menikahkan anaknya dengan orang yang dinggap lebih mampu untuk meringankan beban orang tua. Tradisi yang berkembang dimasyarakat pedesaan juga memicu terjadinya pernikahan dini. Orang tua khawatir anaknya dicap perawan tua. Dan yang tak kalah pentingnya adalah pengaruh media sosial. Konten-konten porno bertebaran di dunia maya dengan berbagai kemudahan  mengaksesnya.    

Tidak sedikit dampak buruk pernikahan dini, mengingat keluarga adalah cikal bakal masyarakat. Dari keluargalah akan lahir generasi-generasi yang akan melanjutkan kehidupan. Bagaimana nasib generasi jika ibu sebagai madrasatul ula tidak paham cara mewujudkan generasi tangguh nan shalih yang siap menghadapi tantangan zaman. 

Namun dalam sistem kapitalis liberal mencegah pernikahan dini menjadi dilema, bagai memakan buah simalakama. pada sistem ini mencegah pernikahan dini berarti merestui perzinahan. Bagaimana tidak, aturan pergaulan yang sesuai syariat Islam diabaikan bahkan mungkin tidak dikenal. Muda-mudi pacaran, berduaan dan berpelukan di depan umum sudah menjadi pemandangan yang biasa. Jika sampai terjadi “ kecelakaan” aborsi menjadi solusi atau dinikahkan dengan pasangan zinanya. Untuk mencegahnya diedukasilah dengan sex aman. Boleh “main’ dengan yang disuka tapi harus pakai kontrasepsi. Konten-konten pornografi dan pornoaksi pun bisa diakses dengan mudah. Bahkan ada tawaran manis untuk bergabung dengan komunitas maksiat. 



YOUR REACTION?

Facebook Conversations