Oleh: Zulaikha (Mahasiswi IAIN Jember)
Angka kemiskinan di dunia semakin hari semakin mengalami peningkatan. Salah satunya Indonesia, angka kemiskinan semakin meluas, masyarakat masih sangat jauh dari kondisi sejahtera sekalipun statusnya di World Trade Organization (WTO) sudah keluar dari posisi sebagai negara berkembang.
Tebep.com

Pada Tahun 2018, angka kemiskinan mencapai 736 juta jiwa (9%) dalam tingkat dunia. Sementara untuk Indonesia sendiri, angka kemiskinanan sekitar 9,22%. Inilah kenyataan yang tercatat, dengan standar BPS yang sangat rendah, yakni Rp440.538/kap/bln.

Pada saat yang sama, jumlah orang yang kelaparan di tahun 2018 ada 821 juta (versi PBB), dan balita yang pengidap gizi buruk di level dunia mendekati angka 700 juta (2019). Ini artinya 1 atau lebih dari 9 orang dari populasi dunia tidak mendapatkan makanan yang cukup untuk dikonsumsi.

Hingga hari ini, kemiskinan masih menjadi PR besar bagi berbagai negara di dunia, tidak terkecuali Indonesia. Seperti yang kita tau bahwa kemiskinan merupakan pangkal dari munculnya berbagai problem, baik politik, ekonomi, sosial, hukum dan lain-lain.

Para pengusung ide feminis gender menjadikan problem kemiskinan, ekonmi dan masalah rumah tangga lain sebagai target untuk melancarkan ide yang diusungnya yaitu meningkatkan partisipasi perempuan di ranah publik dan pemberdayaan perempuan di berbagai sektor. Selain itu, mereka mengatakan bahwa masalah rumah tangga sebagai salah satu sumber diskriminasi dan subordinasi terhadap perempuan.

Tidak hanya itu, beberapa kalangan terutama pemimpin dunia abad 21 mengaitkan kemiskinan ini dengan aktivasi perempuan. Salah satunya Hillary Clinton yang mengatakan bahwa membiarkan perempuan tidak bekerja sama halnya seperti membiarkan uang tergeletak begitu saja di atas meja.



YOUR REACTION?

Facebook Conversations