Oleh: Azrina Fauziah
Pegiat Literasi Pena Langit

Pedofilia masih menjadi hantu bagi anak-anak setelah beberapa kasus mencuat terhadap peristiwa kekerasan seksual anak-anak.

Setelah lama belum diputuskan hukuman apa bagi pedofilia akhirnya pemerintah memutuskan menandatangani Peraturan Pemerintah (PP) tentang hukuman kebiri bagi pelaku kekerasan seksual terhadap anak Nomor 70 Tahun 2020 yang ditetapkan Jokowi per 7 Desember 2020. PP ini memuat tata cara pelaksanaan tindakan kebiri kimia, pemasangan alat pendeteksi elektronik, rehabilitas dan pengumuman identitas pelaku kekerasan seksual terhadap anak (viva.co.id). 

Pemerintah berharap aturan yang telah diteken ini dapat menekan dan mengatasi kekerasan seksual terhadap anak. Selain itu memberikan efek jera terhadap pelaku kekerasan seksual anak. Namun dibalik hukuman setimpal itu terdapat efek samping yang akan membahayakan si pelaku. Dilansir dari sehatq.com, kebiri kimia memiliki efek samping yang akan dirasakan oleh pria yang menjalaninya diantaranya rambut rontok, menurunnya hasrat seksual, sering merasa lelah, kehilangan massa otot, kegemukan, pengeroposan tulang alias osteoporosis, suasana hati yang mudah berubah-ubah, mudah lupa dan anemia. Hal ini terjadi sebab pada prinsipnya bahan kimia yang masuk kedalam tubuh pelaku akan memperlemah hormon testosterone dengan menurunkan level androgen di dalam aliran darah seseorang, mengakibatkan ketidak seimbangan hormon bahkan komplikasi pada area lain . 

Hukum kebiri memang telah ada sejak zaman dahulu hingga masa modern namun masih memiliki pro dan kontra. Berbagai negara di dunia masih menganggap hukuman ini sebagai pelanggaran hak asasi manusia dan sebagian lagi menganggap bahwa hukuman ini sangatlah setimpal. Deputi Bidang Perlindungan Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), Nahar menyatakan bahwa sejak Januari hingga 31 Juli 2020 tercatat ada 4.116 kasus kekerasan pada anak di Indonesia dan tertinggi merupakan kekerasan seksual (kompas.com). Angka yang sangat mencengangkan ini semakin hari tak terbendung kasusnya. Hal ini membuktikan bahwa hukum yang selama ini diberikan kepada pedofilia tidak memberikan efek jera, sekalipun hari ini diresmikan hukum kebiri kimia. 

Bila kita telisik angka kekerasan seksual pada anak yang tinggi bukanlah karna kesalahan yang dilakukan oleh para pelaku pedofilia semata. Hal ini terjadi bukan hanya hasrat seksual pelaku saja yang muncul. Jauh dari itu banyak faktor-faktor para lelaki akhirnya merasa bangkit seksualnya karna banyak konten-konten pornoaksi dan pornografi berkeliaran di gadge, tv, media sosial bahkan kehidupan sehari-hari. 

Coba kita flashback tontonan sinetron dan drama yang dinikmati masyarakat, tidak akan jauh dari yang namanya kisah cinta bukan. Bagaimana iklannya? Menampilkan berbagai lekuk tubuh wanita dari iklan shampo, sabun, parfum sampai rokok. Aurat wanita bahkan pria di kehidupan nyata tak ada batasan. Mereka mempertontonkan dengan senang hati kepada khalayak umum. Bagaimana media sosialnya? Walah apalagi yang ini, sudah tidak ada filter sama sekali. Video esek-esek sangat mudah diakses oleh para pengguna dunia maya.  

Hal ini merupakan buah dari sistem sekuler kapitalisme yang telah mengakar pada kehidupan masyarakat dunia khususnya barat. Sistem ini meniscayakan aturan agama dalam kehidupan sehingga menjadikan akal manusia sebagai alat untuk memutuskan hajat hidup orang banyak. Salah satu yang ditonjolkan dari sistem ini adalah kebebasan berekspresi dimana seseorang berhak melakukan apa saja tanpa adanya larangan. Contohnya kebutuhan seksual, barat menganggap bahwa hasrat seksual merupakan kebutuhan yang harus segera dipenuhi. Maka mereka akan dengan segala upaya menyalurkannya dan mendorong pelampiasannya. Barat juga menganggap bahwa wanita adalah seni bahkan bahan komersial yang dapat memberikan kepuasan dan keuntungan kepada mereka. Sehingga wajar jika konten dunia maya hingga kehidupan nyata, aurat menjadi faktor pendorong hasrat seksual yang tinggi ini ditemukan dengan mudah. 

Islam telah 14 abad lalu menjelaskan dan mengatur naluri seksual manusia dengan bermartabat yakni melalui lembaga pernikahan. Maka faktor-faktor yang menjurus kepada hasrat seksual bukan pada tempatnya sejak dini memang tidak akan dengan mudah muncul  begitu saja. Negara islam akan memfilter tayangan tidak senonoh tersebut di kehidupan dunia maya atau dunia nyata dengan mewajibkan para muslimah menutup aurat dengan khimar dan jilbab ke seluruh tubuh. Selain itu muslimah tidak dipandang sebagai seni namun dipandang sebagai perhiasan yang sangat berharga sehingga para pria muslim diwajibkan menjaga kehormatan mereka. Pergaulan antar keduanya juga dibatasi, hanya boleh dalam perkara muamalah, pendidikan dan tolong menolong selain hal itu tidak ada interaksi pria dan wanita. Kurikulum sekolah dan rumah yang diberikan kepada anak-anak berlandaskan aqidah islam sehingga anak-anak sudah mengenal Rabbnya dan aturanNya. 

Jika lingkungan dan sistem telah diatur dengan sedemikian rupa untuk tindakan preventif kekerasan seksual tetapi masih saja ada yang nakal. Maka islam akan memberikan hukuman pada pelaku berupa cambuk bagi ghoiru muhsan, rajam bagi muhsan (QS. Nur ayat 2) dan hukum mati bagi pelaku liwath (QS. Hud ayat 82). Ketiganya adalah hukum yang adil yang akan memberikan efek preventif dan kuratif bagi pelaku pedofilia sebab berasal dari wahyu Rabbul ‘alamin bukan hukum kebiri yang justru menyalahi ketentuan islam. 

Waallahu’allam

YOUR REACTION?

Facebook Conversations