Oleh: Atina Sofiani (Aktivis Muslimah)
Pernikahan atau menikah suatu yang sangat di idamkan oleh perempuan maupun laki-laki. Suatu ikatan yang sangat suci untuk adam dan hawa mewujudkan keluarga yang bahagia.
Foto: Pixabay

Pernikahan itu sendiri adalah upacara pengikatan janji nikah yang dirayakan atau dilaksanakan oleh dua orang dengan maksud meresmikan ikatan perkawinan secara norma agama, norma hukum, dan norma sosial. Upacara pernikahan memiliki banyak ragam dan variasi menurut tradisi suku bangsa, agama, budaya, maupun kelas sosial. Penggunaan adat atau aturan tertentu kadang-kadang berkaitan dengan aturan atau hukum agama tertentu.

Pernikahan dini menjadi suatu fenomena yang terjadi saat ini. Pernikahan yang dianggap masih muda atau bau kencur ini sudah bukan hal yang tabu bagi masyarakat. Banyak anak muda zaman sekarang berbondong-bondong untuk melakukan pernikahan dini sehingga penetapan usia untuk nikah dini dibuat oleh lembaga pemerintah (DPR). Sebelumnya, dalam persidangan di MK, sekelompok warga negara melakukan uji materi atas batas usia minimal laki-laki dan perempuan untuk menikah dalam pasal 7 ayat 1 UU Perkawinan. UU nomor 1 Tahun 1974 itu mengatur usia perkawinan laki-laki adalah 19 tahun sementara perempuan adalah 16 tahun. Karena adanya tindakan diskriminasi terhadap kaum perempuan terkait usia pernikahan dini.

Untuk menghilangkan tindakan diskrimasi terhadap kaum perempuan akibat pernikahan dini. DPR dan pemerintah mengadakan Rapat Kerja Badan Legislatif (Baleg) dan Panitia Kerja (Panja) DPR bersama pemerintah telah mencapai kata sepakat dalam pembahasan RUU tentang Perubahan atas UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Salah satu pasal yang direvisi adalah pasal 7 ayat 1. Sehingga batas usia minimal perkawinan bagi perempuan akan sama dengan laki-laki, yakni 19 tahun. (berisatu.com)

Terkait tujuan revisi pembatasan usia ini adalah untuk menghilangkan tindak diskriminasi terhadap perempuan, melindungi hak-hak pendidikan, melindungi dari kekerasan rumah tangga atau tindak KDRT. Padahal kalau kita lihat faktanya KDRT tidak hanya terjadi pada pasangan yang melakukan pernikahan dini saja beberapa orang dalam masyarakat yang sudah menikah selama 10 tahun pun bisa saja mengalami hal tersebut walaupun mereka tidak menikah diusia dini. Jadi tidak bisa dikaitkan antara masalah diskriminasi dan kekerasan terhadap perempuan dengan perubahan batas usia pernikahan semata. 

Tindakan KDRT atau diskriminasi terhadap perempuan dalam suatu rumah tangga ini disebabkan karena tidak adanya akidah yang kuat untuk membangun suatu rumah tangga.

BACA JUGA:

Pandangan Islam Soal Pernikahan

Pernikahan adalah salah satu ibadah yang paling utama dalam pergaulan masyarakat agama Islam dan masyarakat.  Pernikahan bukan saja merupakan satu jalan  untuk membangun rumah tangga dan melanjutkan keturunan. Pernikahan juga dipandang sebagai jalan untuk meningkatkan ukhuwah Islamiyah dan memperluas serta memperkuat tali silaturahmi diantara manusia. 

Menikah dalam Islam adalah menyempurnakan sebagian iman karena Allah ta’la, oleh sebab itu, menikah berarti melakukan ibadah atas nama Allah.  Untuk itu, Allah menyuruh hambanya untuk mencari pasangan dengan cara memilih calon pendamping sesuai syariat agama. Dalam Islam batas minimum dan maksimum untuk menikah tidak ada, yang ada hanya ukuran kemampuan untuk menikah.

Seperti disebutkan dalam hadis riwayat Imam Bukhari dari Abdullah bin Mas'ud RA yang mendengar Rasulullah Muhammad SAW bersabda demikian.

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

" Hai pemuda, siapa di antara kalian yang telah mampu maka menikahlah. Menikah itu menundukkan pandangan dan lebih baik untuk kemaluan. Namun siapa yang belum mampu maka hendaknya ia puasa, karena itu lebih baik baginya."

Mampu menururt batasan syarat menikah adalah kemampuan secara finansial meski tidak harus kaya. Kedua, juga harus siap mental, yaitu siap menjalankan kewajiban baik sebagai suami maupun istri. Visi dan misi dalam suatu pernikahan juga merupakan hal yang terpenting, Karena untuk mencapai keluarga yang harmonis hal ini harus diwujudkan.

Kalau kita lihat masa sekarang, kebanyakan dari para pemuda itu main asal nikah saja tanpa mempertimbangkan masa yang akan datang. Belum lagi banyaknya muda-mudi yang menikah karena sudah hamil duluan dan akhirnya  menimbulkan pernikahan hanya sekedar syarat atau untuk menutup aib biar tidak malu saat bayinya lahir nanti.  Jadi seharusnya daripada sibuk mengotak-atik angka usia pernikahan tetapi mengatur dengan memberikan batasan yang jelas terkait pergaulan antara laki-laki dan perempuan, juga mengedukasi masyarakat khususnya muda-mudi terkait visi pernikahan yakni untuk ibadah semata.

Pernikahan adalah salah satu ibadah yang paling utama dalam pergaulan masyarakat agama Islam dan masyarakat.  Pernikahan bukan saja merupakan satu jalan  untuk membangun rumah tangga dan melanjutkan keturunan. Pernikahan juga dipandang sebagai jalan untuk meningkatkan ukhuwah Islamiyah dan memperluas serta memperkuat tali silaturahmi diantara manusia. 

Menikah dalam Islam adalah menyempurnakan sebagian iman karena Allah ta’la, oleh sebab itu, menikah berarti melakukan ibadah atas nama Allah.  Untuk itu, Allah menyuruh hambanya untuk mencari pasangan dengan cara memilih calon pendamping sesuai syariat agama. Dalam Islam batas minimum dan maksimum untuk menikah tidak ada, yang ada hanya ukuran kemampuan untuk menikah.

Seperti disebutkan dalam hadis riwayat Imam Bukhari dari Abdullah bin Mas'ud RA yang mendengar Rasulullah Muhammad SAW bersabda demikian.

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

"Hai pemuda, siapa di antara kalian yang telah mampu maka menikahlah. Menikah itu menundukkan pandangan dan lebih baik untuk kemaluan. Namun siapa yang belum mampu maka hendaknya ia puasa, karena itu lebih baik baginya."

Mampu menururt batasan syarat menikah adalah kemampuan secara finansial meski tidak harus kaya. Kedua, juga harus siap mental, yaitu siap menjalankan kewajiban baik sebagai suami maupun istri. Visi dan misi dalam suatu pernikahan juga merupakan hal yang terpenting, Karena untuk mencapai keluarga yang harmonis hal ini harus diwujudkan.

Kalau kita lihat masa sekarang, kebanyakan dari para pemuda itu main asal nikah saja tanpa mempertimbangkan masa yang akan datang. Belum lagi banyaknya muda-mudi yang menikah karena sudah hamil duluan dan akhirnya  menimbulkan pernikahan hanya sekedar syarat atau untuk menutup aib biar tidak malu saat bayinya lahir nanti.  Jadi seharusnya daripada sibuk mengotak-atik angka usia pernikahan tetapi mengatur dengan memberikan batasan yang jelas terkait pergaulan antara laki-laki dan perempuan, juga mengedukasi masyarakat khususnya muda-mudi terkait visi pernikahan yakni untuk ibadah semata.



YOUR REACTION?

Facebook Conversations