Oleh: Bunda Ayyash
Negeri Seribu Kubah

Ada-ada saja tinggal di republik kita ini. Dunia pergembelan jadi panggung drama basi. Pejabat menteri yang seharusnya mengurusi kehidupan sosial nasional, malah blusukan ke para gembel dadakan lokal.

Bagaimana tidak? Biasanya para gembel tidak pernah dijumpai di jalanan protokol ibu kota. Setelah Mensos baru bulusukan justru para gembel bermunculan .Apakah mental gembel sudah menjangkiti republik ini?

Sontak saja aksi blusukan bu Risma yang juga merangkap walikota Surabaya dituding hanya drama dan pencitraan belaka. Dan yang lebih memilukan rakyat dibohongi dengan para gembel yang juga melakonkan drama yang sama.

Ingat...ini baru di awal-awal beliau menjabat. Sifat khianat sudah tersingkap karena akal waras tak bisa disunat. Bagaimana pula nanti di perjalanan dan akhir karirnya jika mental drama dan citra terus menggejala? Apa jadinya nasib negeri ini jika rakyat terus dibohongi?

Begitu banyak drama yang dipertontonkan di negeri ini. Pesta demokrasi dikatakan pesta rakyat. Rakyat disebut memilih pemimpinnya sendiri. Nyatanya yang menang adalah pilihan korporat atau dialah korporat sejati. Tabir kebohongan pun kian tersingkap ketika pemenang pesta diumumkan. Deal-deal politikpun diluncurkan demi mengamankan kursi kekuasaan. Jadilah yang dulu lawan sekarang kawan. Yang dulu dibela sekarang ditinggalkan. Yang didukung masuk istana sedangkan para pendukung dipenjara.

Jabatan itu amanah. Dan setiap amanah akan dimintai pertanggungjawaban. Jabatan yang dibumbui drama pencitraan akan berakhir gagal dan penyesalan. Jika memang hendak mencontoh blusukan Khalifah Umar bin Khattab ketika membawa sekarung gandum untuk seorang ibu yang menanak batu, mengapa mesti membawa rombongan dan kamera terpasang? Setelah itu muncul pemberitaan tentang ‘kisah kepahlawanan’.

Sesungguhnya blusukan Khalifah Umar muncul dari dorongan keimanan. Beliau takut akan hisab di hadapan Rabb semesta alam. Bukan pujian yang beliau cari. Bahkan di awal kepemimpinan beliau tidak pernah bermimpi atau menginginkan jabatan ini.

Sebaliknya yang kita jumpai hari ini pencitraan bertaburan demi sebuah jabatan. Tidak malu akan kapasitas diri yang sebenarnya masih kurang disana-sini. Drama demi drama dilakonkan demi pujian dan kemenangan. Demikianlah al-kisah dari Negeri Seribu Satu Drama yang entah kapan berkesudahan.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations