Mereka yang mampu memaksimalkan ibadah di hari-hari Ramadan, tentu berpeluang untuk menjemput kemenangan di hari raya, idul fitri.
freepik.com

oleh: Maman El Hakiem

Sebagai orang yang beriman kepada Allah SWT, pantang berputus asa. Karena terlahir sebagai muslim adalah anugerah terindah, terlebih jika diikuti keimanan yang dicari melalui bukti-bukti akan kehadiran-Nya di alam semesta. Iman yang hakiki, bukan sekedar percaya, tetapi berusaha dengan akalnya menyingkap keagungan Allah melalui ayat-ayat kauniyah di luasnya semesta, dalam diri manusia dan  mencari makna hidup itu sendiri.

Dianugerahi akal, kita terlahir sempurna sebagai makhluk yang bisa 'memilih", membedakan antara kebenaran yang datang dari Allah SWT dan kebenaran nisbi hasil pikiran manusia. Maka, diturunkannya Al Qur'an sebagai kalamullah  tidak lain agar manusia mampu menggunakan akalnya agar menemukan petunjuk (hudan) dalam menempuh kehidupan di dunia. "Inilah al Qur'an tidak ada keraguan di dalamnya, petunjuk bagi orang yang bertakwa." (QS al Baqarah: 2).

Kewajiban puasa di bulan Ramadan yang segera berakhir ini, tujuannya tidak lain dalam upaya meraih nilai takwa, yaitu mereka yang tertunjuki oleh kandungan Al Qur'an untuk diamalkan di dalam kehidupan. Inilah makna yang tersingkap saat kita fokus menghidupkan malam di sepuluh hari terakhir ramadan dengan iktikaf. Iktikaf adalah turunan kata dari "akafa" yang artinya serius atau fokus, konsentrasi artinya tidak menoleh sedikitpun pada hal-hal yang bisa memalingkannya, terlebih jika itu dalam rangka memburu kemuliaan lailatul qadar.

Serius atau fokus adalah karakter seorang mukmin yang akan meraih kesuksesan. Mereka yang mampu memaksimalkan ibadah di hari-hari Ramadan, tentu berpeluang untuk menjemput kemenangan di hari raya, idul fitri. Kemenangan yang tidak mudah diraih begitu saja, terlebih ujian berat saat harus fokus ibadah di tengah wabah yang membuat gusar dunia, bahkan ada yang menyerah, berputus asa, terserah? Padahal, bagi orang yang beriman berserah itu hanya boleh pada Allah SWT, bukan pada makhluk-Nya.

Mereka yang menjadikan Al Qur'an sebagai petunjuk lalu menerapkan ajaran Islam dalam kehidupan, akan selalu optimis dalam menghadapi ujian berat melawan wabah ini. Karena  baginya yang tersulit adalah ujian dalam menghadapi hawa nafsu, yang bila gagal bisa saja menghilangkan seluruh amal kebaikan yang pernah dilakukannya. 

Hawa nafsu yang paling sulit ditaklukan adalah kecenderungan hati untuk bermaksiat, berpaling dari hukum-hukum Allah SWT. Karena induk dari segala kemaksiatan, saat dunia ini dibiarkan sekuler, tidak diatur oleh hukum Allah SWT. Maka, jika ingin segera berakhir dari musibah wabah covid-19, dan meraih kemenangan yang sejati segera terapkan syariah secara kaffah.

Wallahu'alam bish Shawwab.*

YOUR REACTION?

Facebook Conversations