Oleh: Maman El Hakiem

Jika ingat langit dan laut yang biru, deburan ombak yang menepi pantai. Seperti perjalanan hidup yang indah, namun harus ditaklukan dengan perjuangan menggapai mimpi-mimpi besar manusia.

Ada harapan yang harus diseberangi bukan hanya dengan sekedar menatapnya, melainkan harus dikayuh agar perahu berlayar. Langit dan laut seperti bertemu, tetapi semua hanya tatapan terjauh manusia yang belum bisa menembus batas cakrawala.

Dalam ingatan Nina, laut yang biru adalah kerinduan yang dalam, pantulan suara hatinya yang tak bisa tergantikan. Jika ada seseorang yang pernah mengisi ruang hatinya dan membuatnya mau berbagi senyum, dialah yang hadir dalam mimpinya.

Ya, seorang yang dengan kata-katanya mampu menggugah kesadaran jiwa tentang makna kehidupan. Ia selalu hadir saat hati lalai dari mengingat Rabb-Nya. Sebait puisi yang ditulis pada pasir pantai tak mampu disapu ombak karena ketulusan hatinya.

“Apa kabar langit biru? Aku selalu berharap awan cerah saat senja agar bisa menatap tenggelamnya cahaya matahari. Aku merasa langit adalah harapan yang terlalu tinggi, tetapi lautan mampu menemukannya, meskipun bahtera belum juga hadir membawanya.” Ah indah sekali karangannya, Nina selalu membacanya tulisan tersebut sehabis dzikir petang.

“Pertemuan terindah bukan karena rekayasa manusia, tetapi ingin Allah SWT saja yang suatu saat mempertemukannya. Aku berharap menemukan cinta sejati di rumah-Mu ya Allah..." Pinta Nina dalam hatinya yang selalu terpaut pada kerinduan mengunjungi Baitullah. 

Tanpa disadari kelopak mata Nina berkaca-kaca, perlahan air mata jatuh pada pipinya. Jilbab merah muda yang dikenakannya menahan laju beningnya air mata. Ada lintasan kisah tentang masa remaja yang disibukan dengan agenda kegiatan dakwah kampus, tanpa tergoda sedikitpun dengan pacaran. Maka, sebagian temannya yang sekarang sudah menikah,bahkan telah dikaruniai anak selalu nyinyir mendengar Nina belum menemukan jodohnya.

“Tuh..kan...gak mau pacaran sih!” Sindir mereka. 

"Astaghfirullah!" Ucap Nina, betapa teman-temannya telah banyak teracuni sistem kehidupan sekuler.

“Mereka belum paham antara jodoh dan pacaran itu beda pembahasan. Jika jodoh diawali dengan pacaran, ibarat mengambil jatah rezeki dengan cara yang haram. Rezekinya dapat, namun dosa keharamannya melekat, apalagi jika sampai melakukan dosa jina bisa menuai azab Allah SWT.” 

Banyak sekali episode kehidupan dalam lintasan pemikiran Nina saat melihat langit dan laut. Ia segera menyadari, jika siang itu ada kehidupan nyata yang harus dijalani bersama wajah-wajah lucu dan imut para santri binaannya.

“Bu guru ustadzah....ayo sini main sama Salsa, kan setoran hapalannya sudah.” Ajak gadis mungil usia sembilan tahunan yang sudah hapal dua juz.

 “Masya Allah...ibu sekarang sering gagal fokus ya hehe...” Nina segera menyambut ajakannya.

“Apa sih Bu...yang dipikirkan?....boleh kepo  nih!” Salsa sedikit menggoda, maklum ia begitu akrab seperti tidak ada jarak dengan Nina, guru tahfiznya tersebut.

“Huss.....anak kecil, ayolah kita bermain mencari tanaman perdu yang berbunga.” Mereka akhirnya bergembira menikmati panorama alam yang indah ciptaan Allah SWT. 

(Bersambung).

YOUR REACTION?

Facebook Conversations