Oleh: Maman El Hakiem

Memang benar, menahan rindu itu sangat berat, terlebih kerinduan ke tanah suci. Setiap ada yang pulang berhaji atau umroh selalu aku meminta di doakan agar dimampukan untuk beribadah di sana.

“Nak, minumlah air zam-zam ini agar terhindar dari segala penyakit dan sihir.” Ucap Wak Dulah, tetangga sebelah rumah dua tahun kemarin, beruntung bisa berhaji sebelum pandemi.

“Ya Wak, tapi doain pula agar bisa juga berkunjung ke Baitullah!” Pinta Nina, ia berharap mendapat kemakbulan dari doanya orang yang baru pulang berumroh atau haji yang katanya mustajabah. 

“Oh...kirain minta di doain segera dapat jodoh juga ya?” Jawab Wak Dulah  sengaja mencandai Nina. “Hehe....Iya Wak, boleh juga doanya biar dapat jodoh yang paham agama biar bisa berhaji bareng.” Jawabku sengaja selalu berujung pada impianku untuk bisa ke tanah suci.

Sepeninggalnya ayah, memang sedikit membuyarkan rindu itu segera terwujud, terlebih lagi pemerintah negeri ini dengan alasan pandemi kembali membatalkan pemberangkaatan jamaah haji. Sungguh ribuan calon jamaah haji terluka hatinya karena rindu belum juga tersampaikan ke tanah suci.

“Ustadzah Nina, bagaimana hapalan Salsa apa nilainya bagus?” Tanya seseorang di ruang guru, tentu saja Nina agak terkejut rupanya ia terbawa lamunan yang jauh. Tanpa sadar ia dari tadi sedang memeriksa nilai hapalan para murid santri sampai tak ingat ada Bu Susi, kepala sekolah menyapanya.

“Oh maaf ya Bu, tadi sedikit melamun, sebentar tadi saya cek hapalan Salsa nilainya mumtaz, begitupun santri binaan yang lain.” Jawab Nina sedikit wajahnya tersipu malu.

“Jam pelajaran kedua nanti bisa gantikan Ustadzah Reni di kelas hapalan juz dua?” Tanya Bu Kepala Sekolah kembali. “Bu Reni ijin gak masuk mengajar karena sakit.” Imbuhnya.

“In syaa Allah, setelah selesai mengisi nilai santri ini segera ke ruang kelas.” Jawab Nina semangat.

Suasana sekolah tahfiz “Haqul Yaqien” sangat bersahabat dengan alam, sangat cocok untuk anak-anak belajar. Meskipun agak terpencil dari pemukiman, berada di atas bukit hijau. Jika, naik sedikit ke atas akan tampak luasnya Pantai biru kepulauan Sulawesi. Bagi Nina sangat betah mengajar, terlebih ia memang terobsesi untuk bisa melahirkan generasi para pemimpin melalui dunia pendidikan yang berbasis hapalan Qur’an.

“Ayo anak-anak, kita mulai semangat lagi menghapal! Nah, biar terasa hikmahnya kita sambil bertadabur alam yuk!” Ajak Nina, kebiasaannya untuk hiking dan taddabur alam sejak masih kuliah membuatnya ingin membawanya pada suasana belajar anak agar tidak jenuh.

“Labbaik...Bu Ustadzah..” Anak-anak tahfiz sangat antusias jika diajak ke alam karena sambil menghapal bisa mentadabburi ciptaan Allah SWT. Pola pembelajara yang dilakukan Nina menarik karena bisa membuat wawasan anak berkembang.

Perbukitan hijau di sekitaran sekolah tahfiz sungguh sangat mempesona. Anak-anak berlarian di bebukitan hijau. Sementara Nina setiap menatap pantai dan langit biru dari ketinggian, ingatan menerawang lagi pada segala kenangan dan impiannya.

(Bersambung)

YOUR REACTION?

Facebook Conversations