Oleh : Maman El Hakiem

Tampak embun membasahi rerumputan, kuncup bunga merkah di halaman rumah. Kicau burung menyapa matahari yang masih bersembunyi. Udara dingin iklim tropis terasa terhangatkan dengan secanglkir kopi tersaji di meja teras, sebagai pembuka aktifitas di pagi cerah.

Dunia tidak bisa menutup mata, setelah mencoba minum kopi. Biji hitam yang rasanya pahit ini adalah penemuan ajaib. Para cendekia muslim,terlebih para kyai di negeri ini sangat akrab dengan tradisi ngopi. Kandungan cafein dalam kopi memberi efek kesegaran sehingga bisa duduk berlama-lama saat mengikuti kajian, bisa juga menjadi sahabat di tempat kerja. Kopi telah menjadi teman akrab dalam budaya masyarakat kita, bahkan dunia.

Tulisan ini tidak akan membahas kandungan kopi dari sisi kesehatan, melainkan dari sudut pandang budaya dan penemuan berharga, sebagai kekayaan alam negeri kaum Muslim. Ternyata kopi ditemukan pertama kali oleh seorang Arab, bernama Khalid  di Kaffa , Ethiopia Selatan. Penemuan tanaman kopi yang dianggap ajaib tersebut pada abad ke 13 dikenal dengan nama "kahve" di Turki, dalam bahasa Arab  disebut "al qahwa".  Masuk daratan Eropa pada abad 16 dengan nama caffe,  di Inggris menyebutnya "coffee".(idntimes,13/5/2019).

Kehadiran kopi di Nusantara, juga tidak lepas dari peran bangsa Eropa seperti Belanda yang memaksa kaum pribumi untuk tanam paksa(rodi) berbagai komoditi, seperti karet,kina,tebu, juga termasuk kopi. Semula kopi adalah minuman mewah para ningrat atau pembesar masa penjajahan di negeri ini. Namun,selanjutnya kopi  menjadi minuman merakyat, terlebih di kalangan pesantren, para kyai sangat akrab dengan tradisi "ngopi"  untuk mengakrabkan suasana atau mengusir kantuk saat berlama lama mengaji kitab atau ceramah agama. Kopi identik dengan minuman mereka yang ingin "melekan" atau begadang saat malam tiba.

Meskipun kopi identik dengan minuman para lelaki, namun sarat dengan pesan filosopi. Kopi sering menjadi teman para penulis dalam mencari inspirasi, menjadi pembuka ide para pemikir dan pencipta karya seni. Secangkir kopi sering mampu membukakan gembok otak yang sulit terbuka. Pikiran yang mumet sering terurai setelah menyeruput secangkir kopi hangat. Tentu,  karena kopi mengandung cafein sebagai zat yang mampu memberi efek "kejut" terhadap jaringan syaraf, sehingga tubuh terasa lebih rileks.

Kini, kehadiran kopi telah menjadi warisan penemuan yang bisa dinikmati siapa saja, budaya "ngopi" yang semula hanya dimiliki para ningrat dan kalangan kyai telah menjadi budaya merakyat, dari kelas cafe sampai warung kopi pinggir jalan. Budaya ngopi harusnya mampu membangkitkan para pemikir, penulis dan kaum cendekiawan yang melek terhadap literasi, bukan sekedar generasi yang suka nongkrong di pinggir jalan, ngobrol tanpa makna hanya sekedar begadang. Literasi dalam secangkir kopi bukanlah budaya "copy paste", tetapi budaya menulis atau hasil karya diri sendiri. Karena di tangan mereka, tintanya ulama diwariskan.

Wallahu'alam bish Shawwab

YOUR REACTION?

Facebook Conversations