Lailatul Qadar sesungguhnya adalah waktu yang tepat untuk bermuhasabah diri. Apakah selama ini umat Islam sudah benar-benar menjadikan Al Quran sebagai kompas bagi perjalanannya di muka bumi.

Oleh: Anggun Permatasari

Tidak terasa kita sudah melewati separuh waktu di Ramadan tahun ini. Ada semburat sedih karena Ramadan tinggal beberapa hari tersisa. Namun, ada rasa haru membuncah sebab kita akan kembali menemui 10 malam terakhir yang di dalamnya terdapat malam mulia, Lailatul Qadar. Tentunya, umat Islam akan menghiasai 10 malam paling dinanti dengan melantunkan dzikir, bermunajat kepada Allah Swt., shalat, tilawah Al Quran, shalawat atas nabi Muhammad Saw. dan sedekah untuk berburu kebaikan yang telah Allah Swt. janjikan.

Malam Lailatul Qadar digambarkan dalam Al Quran surat Al-Qadar ayat 1-5 yang artinya: "Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.

Betapa Allah Swt. membuat perumpamaan yang begitu elok. Kemuliaan Lailatul Qadar disebut lebih baik dari seribu bulan. Maka, sungguh beruntung hamba yang bisa meraih kemuliaan malam tersebut. Rasul Saw. bersabda: "Barangsiapa yang menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan shalat malam atas dasar iman dan mengharapkan pahala dari Allah Swt. maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni". (HR. Bukhari) 

Malam Lailatul Qadar sesungguhnya adalah waktu yang tepat untuk bermuhasabah diri. Apakah selama ini umat Islam sudah benar-benar menjadikan Al Quran sebagai kompas bagi perjalanannya di muka bumi. Sudahkan Al Quran dijadikan pemutus atas perkara yang terjadi dalam kehidupan berbangsa. Benarkah umat Islam sudah benar-benar menjadikan Al Quran sebagai "furqan" atau pembeda antara hak dan batil, antara yang halal dan haram dalam bermasyarakat dan bernegara.

Allah Swt. berfirman dalam AL Quran surat An-Nisa ayat 58-59 yang artinya: "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allâh memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah RasulNya, dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allâh (Al Quran) dan Rasul assunah, jika kamu benar-benar beriman kepada Allâh dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya".

Bagaimana esensi menghidupkan malam Lailatul Qadar yang mulia sementara umat Islam masih berkubang dalam riba, terbiasa melihat kemunkaran seperti zina, perampokan, perselisihan, bergelut dalam kecurangan dan masih merajalelanya ketidakadilan. Padahal, Lailatul Qadar adalah malam yang mulia, penuh kebaikan dan keberkahan. Fakta membuktikan bahwa ternyata kemudharatan yang terjadi saat ini adalah karena umat Islam tidak mengamalkan isi Al Quran. 

Oleh karena itu, sebagai seorang hamba hendaknya kita tidak hanya menilai Lailatul Qadar sebagai satu momen meraih pahala semata. Karena, sejatinya isi yang terkandung dari surat Al-Qadar adalah urgensi menjadikan Al Quran sebagai pedoman dan petunjuk hidup bagi orang-orang yang bertakwa.

Takwa dapat dimaknai sebagai kesadaran penuh akal dan jiwa serta pemahaman syar’i atas kewajiban untuk menjadikan halal dan haram sebagai standar bagi seluruh aktivitas, yang diwujudkan secara praktis (‘amalî) di dalam kehidupan.

Takwa adalah menjalankan segala perintah Allah Swt. dan meninggalkan apa yang Allah Swt. larang. Takwa menumbuhkan rasa takut, tidak tenang apabila Allah Swt. tidak ridha terhadap perilaku kita. Rasa takut kepada Allah Swt. haruslah membuat orang meyakini bahwa dia harus berbuat, menjalani hidup dan mengatur kehidupan sesuai dengan aturan dan hukum yang Allah Swt. ridha serta menjauhi aturan dan hukum mana pun yang bukan berasal dariNya.

Rasa takut kepada Allah Swt. juga haruslah membuat orang merealisasikan al-‘amal bi at-tanzîl, artinya mengamalkan seluruh isi Al Quran atau menerapkan semua syariat Islam. Sehingga tercipta rasa taat dan selalu terikat dengan syariat Islam. Hal ini menjadikan halal-haram sebagai standar ucapan dan perbuatan dalam kehidupan. Dengan kata lain bermakna melaksanakan dan menerapkan syariat secara kaffah. Sejatinya penerapan syariat Islam secara kaffah hanya bisa diwujudkan melalui kekuasaan sebuah institusi yang menerapkan sistem Islam dalam bingkai Khilafah Rasyidah.

Semoga Allah Swt. memberi kesempatan kepada kita semua untuk menggapai kemuliaan malam Lailatul Qadar. Kiranya Lailatul Qadar di Ramadan tahun ini menjadi momen kembalinya umat Islam pada segala ketentuan yang telah dititahkan Sang Pemilik Hidup, Allah Swt. Aamiin, wallahualam.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations