Solusi satu-satunya jika memang dunia ini ingin keluar dari wabah,maka jangan menyerah untuk mengerahkan segala potensi akal ilmiahnya dalam menemukan vaksin baru penangkal covid-19.

oleh: Maman El Hakiem

Apapun peristiwanya di dunia ini sudah dalam skenario Allah SWT. Keyakinan, hakikat hidup telah di desain secara sempurna, bukan sekedar uji coba atau uji kabisa penguasa alam semesta. Tidak semata-mata dihadirkan covid-19 dari jasad yang renik, namun mampu membuat panik seisi dunia, kalau tidak dalam "qadar" yang telah ditentukan Allah SWT.

Adapun takaran "qadar" tersebut sampai saat ini manusia belum mampu menemukan vaksinnya. Dalam sejarah vaksin dunia, mungkin Edwar Jenner sering dianggap penemunya ketika wabah cacar melanda dunia. Uji coba atau eksperimen sains adalah ranah ilmu yang dalam kajian Islam bukan hal yang tabu, selama tidak ada unsur sudut pandang atau pemahaman yang keliru, apalagi menyalahi akidah dan kaidah syariah. Islam sangat terbuka ketika akal mampu menemukan hal-hal yang baru dalam sains dan teknologi.

Cukuplah sejarah keemasan peradaban Islam di Cordoba sebagai bukti puncak ilmu pengetahuan, jauh sebelum Thomas Alva Edison menemukan bola lampu, para ilmuwan Islam yang fakih dalam ilmu agama telah meletakan dasar-dasar pengetahuan yang digali dari sumber Al Qur'an, maka pencerahan dunia lahir saat umat Islam berpegang teguh dengan ajaran dan sumber hukumnya, yaitu Al Qur'an, Hadis, Qiyas dan Ijma Shahabat.

Sebaliknya, mereka kaum kafir berhasil membenamkan cahaya Islam, saat kitab mereka ditinggalkan, dan khasanah keilmuan Islam direbut tanpa merasa malu dijiplak dengan membuang sumber aslinya. Maka, jika saat ini diwarisi teori-teori keilmuan yang terasa asing dengan bahasa latin, semua karena bahasa Arab dijauhkan dari kaum muslim dan di musnahkan oleh peradaban sekuler dengan membelah dunia ilmu dan akidah Islam secara terpisah. Islam sekedar spritualitas, ajaran Illahiah sebatas ruhaniyah, disamakan dengan agama-agama lainnya. Padahal, Islam sejak kelahirannya dan diemban oleh baginda Rasulullah saw. dengan risalah pencerahan, menempatkan wahyu illahiyah untuk membumi secara alamiah dan ilmiah.

Banyak sekalj ayat-ayat kauliyah yang membuka akal dan hati manusia untuk menggali dan mendalami berbagai fenomena alam yang dihadapi umat manusia. Maka, jika virus corona yang tengah menjadi pandemi saat ini dianggap fenomena alam dari makhluk hidup yang tidak diduga sebelumnya. Tentu, sebelumnya Allah SWT telah memberikan isyarat akan perintah dan larangan-Nya yang memiliki konsekuensi jika diabaikan. Semisal hukum hudud, larangan memakan makanan yang diharamkan, larangan riba dan zina tentu  bukan sekedar dosa di akhirat, tetapi akan muncul berbagai madharat di dunia.

Sejak pertama kalinya virus corona ini heboh di pengujung tahun lalu di Wuhan, China. Kini, sudah hampir enam bulan dunia hidup di tengah ketidakpastian, serba kaku dalam beraktifitas, ekonomi tersendat, bahkan mudharat terbesarnya hilangan ratusan ribu jiwa manusia. Dalam ajaran Islam, hilangnya jiwa atau nyawa manusia  masih lebih berharga dari dunia seisinya. Karena itu tatanan dunia normal baru dalam era kapitalisme hakikatnya bukan dalam rangka menyelamatkan jiwa manusia, melainkan urusan isi perut segelintir manusia yang cinta dunia dan takut mati.

Solusi satu-satunya jika memang dunia ini ingin keluar dari wabah,maka jangan menyerah untuk mengerahkan segala potensi akal ilmiahnya dalam menemukan vaksin baru penangkal covid-19. Secara alamiah juga manusia harus mampu hidup ramah, beradaftasi dengan alam, pola makan yang halal dan sehat, disiplin dalam menjaga syariat Allah SWT. Inilah kunci segera diangkatnya segala musibah yang dihadapi umat manusia, yaitu ketika manusia seluruhnya beriman dan bertakwa kepada Allah SWT. Menerapkan semua aturan Allah SWT secara utuh dan menyeluruh dalam ranah fikriyah dan siyasah atau kekuasaan negara.

Wallahu'alam bish Shawwab.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations