Sejak Presiden menetapkan pemberlakuan social distancing bagi masyarakat dan sekarang memasuki masa New Normal.

Oleh: Christ Tri, di Bandar Lampung

Sejak Presiden menetapkan pemberlakuan social distancing bagi masyarakat dan sekarang memasuki masa New Normal. Banyak aktifitas yang berubah 180 derajat dan terpaksa harus disesuaikan dengan kondisi terkini.

Dengan teknologi membuat kita tetap terhubung meskipun jarak memisahkan, begitu juga pembelajaran berbasis daring atau dalam jaringan (SFH : School From Home).

Situasi ini menjadi polemik bagi masyarakat terutama guru dan orang tua. Karena kegiatan belajar mengajar antara guru dan murid terlaksana secara daring. Para orang tua mayoritas belum siap secara mental dan infrastruktur seperti komputer atau gadget untuk mendampingi anak belajar dengan cara tersebut.

Di situasi seperti ini orang tua masih banyak yang menyudutkan dan menyalahkan para guru. Dengan bermacam-macam tugas, misal foto saat anak mengerjakan peer tertulis atau video untuk hafalan materi pelajaran. Seandainya orang tua mau melihat bahwa guru di satu sisi juga orang tua yang harus mengawasi anak kandung dan secara profesi bertanggung jawab pada anak didik. Bukankah itu berarti guru memikul tanggung jawab double dari mereka yang berstatus non-guru?

Menanggapi hal ini, orang tua seharusnya bersyukur bukan menyalahkan para guru atas tugas yang banyak dan menumpuk. Bersyukur karena mendapat kesempatan mengetahui kemampuan anak dan lebih dekat karena terjalin komunikasi ketika anak membutuhkan bantuan saat mengerjakan tugas. Orang tua sadar teknologi dan media belajar sehingga dapat mengantisipasi bila anak jenuh atau bosan.

Dalam waktu dekat sudah dilakukan pembagian hasil belajar anak atau rapot. Mari para orang tua bekerja sama dengan guru agar dapat mencetak anak sebagai generasi muda yang berkualitas dan mandiri. Saat seperti sekarang ini mengingatkan kembali, bahwa orang tua menjadi guru pertama yang dimiliki seorang anak. 

YOUR REACTION?

Facebook Conversations