Oleh : Ustadz Zarochman
Aktivis dakwah Semarang

Sepenuh Hati Mentaati Perintah Alloh

بِسْــــــــــــــــــــــمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم

Kita kembali merenung, ya ikhwah!, padahal Ibrahim itu disebut oleh Alloh Subhanahu Wa Ta'ala bahwa Nabi Ibrahim Alaihissallaam itu mempunyai jiwa penyantun, mudah mengeluh hanya kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, hatinya lurus, lembut dan sensitif, mudah mengeluh kembali kepada Alloh Subhanahu WaTa'ala, meski dengan kesalahan yang kecil saja lalu harus segera minta ampun, bertobat kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. Sebagaimana firman-Nya,

إِنَّ إِبْرَاهِيمَ لَحَلِيمٌ أَوَّاهٌ مُنِيبٌ

”Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun lagi pengiba dan suka kembali kepada Allah.” (QS. Hud : 75).

Jiwa yang lembut selalu bergantung kepada Alloh Subhanahu WaTa'ala, namun jiwa itu menjadi kokoh dan tangguh aqidahnya ketika menjalankan perintah Alloh dan menjauhi larangan-Nya. Keteladanan yang bisa kita ambil dari Nabi Ibrahim adalah dengan kelembutan mudah tersentuh hatinya itu adalah untuk segera menyadari kesalahan yang kecil lalu mohon ampun, namun disisi lain hatinya menjadi teguh menjalankan perintah dengan berpegang kepada akidah yang kokoh. 

Keteladanan Nabiyulloh Ibrahim Alaihissallaam dalam bersikap terhadap golongan kafir yang memusuhi Islam adalah tegas, yaitu mengingkari secara nyata sampai golongan kafir yang memusuhi itu beriman kepada Alloh Subhanahu WaTa'ala. Sebagaimana firman Alloh Subhanahu Wa Ta’ala,

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَمَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْدُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُأَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ

"Sungguh, telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya, ketika mereka berkata kepada kaumnya, "Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami mengingkari (kekafiran) mu dan telah nyata antara kami dan kamu ada permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja," (QS. Al- Mumtahanah : 4)

Inilah sebuah ketegasan sikap, karena yang demikian itu adanya aljadiyah, sepenuh hati dalam mengabdi menjalankan ibadah secara sungguh-sungguh untuk menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya dengan energi ketaqwaan yang sekuat kemampuan hingga Alloh sepenuhnya yang menentukan, fattaqulloha mastatho’tum. 

Manusia yang demikian itu disebutkan para ulama termasuk orang yang kaffah, istiqomah, konsisten, berpendirian kokoh, berbuat tidak separuh hati, karena kalau bersikap separuh hati maka separuh hatinya untuk Alloh dan separuh hatinya untuk dunia; separuh hatinya untuk kejujuran dan separuh hatinya untuk penghianatan, inilah disebut golongan yang nyata-nyata kufur atau mengingkari Alloh secara nyata. Ketika dalam shalat, jari tangannya menunjukkan tiada tuhan selain Alloh, hanya kepada Alloh, diluar shalat digunakan menentang ajaran Alloh, bermaksiat. Ketika dalam shalat lisannya berucap shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Alloh, tapi diluar shalat berbuat ingkar, menyalahi hukum Alloh.

Sedangkan orang yang tidak termasuk separuh hati, yang hanif, istiqomah, adalah ketika dalam shalat jari tangannya menunjuk La ilahaillalloh maka ketika diluar shalat selalu berpegang hukum Alloh dalam setiap mengerjakan amalannya. Demikian pula lisannya tetap terjaga, baik ketika berdoa dalam shalat maupun ketika berperilaku diluar shalat dengan selalu ingat dan mohon ampun kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala dan menjalankan hukum Alloh mengikuti Al-Qur'an dan as-sunnah. Hanya manusia yang demikian diabadikan oleh Alloh Subhanahu wa ta'ala sebagai orang istiqomah, sepenuh hati akan mendapatkan pertolonganNya di dunia dan di akhirat.

Telah dikemukakan kisah langkah-langkah keteladanan beliauyang penuh perjuangan dengan pengorbanan tanpa batas. Kesantunan dan keteguhan ketika dia menjalankan perintah ayahnya Aazhar, disuruh berdagang jual patung dia jalankan karena kelembutan dan rasa hormat kepada bapaknya yang dicintai itu, namun ketika keteguhan keyakinannya tentang kebodohan umat terhadap patung itu maka ketika menawarkan dengan kata-kata, ’inilah patung yang tiada manfaatnya!’. 

Keberanian dan kecerdasan beliau seorang diri dan satu-satunya yang menentang kemusyrikan di tengah kaumnya yang menyembah patung atau berhala-berhala dan suatu ketika dihancur-porandakkan patung berhala itu dengan bersaksi seorang diri ditengah kaum musyrik yang semua menentang keras terhadapnya. Keteguhan dengan tatapan mata tenang berkonsentrasi kepada Tuhannya yang yakin akan menolongnya ketika menjelang dibakar hidup-hidup, maka tidak ada sedikit gentar didepan api menyala menggunung ketika tubuhnya diangkat untuk segera dilemparkan kedalam kobaran api, namun setelah terselamatkan justru dia kembali tanpa rasa dendam berdakwah kepada raja Namrudz dan selalu mendo’akan orang tuanya agar dibebaskan dari kemusyrikan.

Ketika mengungsi ke Mesir begitu masuk pintu perbatasan mesir dia harus menghadap raja Fir’aun untuk menyerahkan isterinya Sarah yang sangat dicintainya itu diminta raja, namun diselamatkan Alloh dengan dihadiahi seorang perempuan bernama Hajar untuk melayani Sarah yang kemudian oleh Sarah diberikan kepada Ibrahim supaya dijadikan isteri agar bisa punya putera melalui Hajar. Namun tak berapa lama sejak bayi Ismail lahir itu ada kodrat kecemburuan Sarah, dan Alloh maha mengetahui kondisi demikian, Ibrahim diberi wahyu Alloh disuruh pergi menjauhkan Hajar dan Ismail dari Sarah menuju ke suatu tempat yang diatidak ketahui, dan dia pun taat dan teguh menjalankan perintah-Nya menuju kesuatu tempat yang ternyata tempat itu adalah kering tandus, sepi tak berpenghuni dan bayi semata wayang dan isterinya Hajar Ummu Ismail harus ditinggal ditempat itu sesuai perintah-Nya, sedangkan kodrat kelembutan hatinya itu sangat tidak tega meninggalkan isteri dan anak bayinya itu harus ditinggalkan ditempat yang berkondisi tandus, sepi dan harus hidup sendiri mandiri dengan bekal yang tinggal seadanya.

Seketika itu Alloh menyuruh Jibril mengeluarkan air Zam-zam sehingga menjadi banyak didatangi dan bertempat tinggal di sekitarnya yang kemudian menjadi kota Mekah dekat Baitulloh. Namun ketika bayi itu sudah berumur cukup mampu menguasai dirinya Alloh memerintahkan lewat mimpi untuk menyembelihnya. Sebagaimana firman Alloh Ta’ala dalam QS.Ash-Shoffat 102,

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىفِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْمَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup), berusaha bersama-sama Ibrahim Alaihissalam, Ibrahim berkata, "Wahai anakku!, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelih mu, Maka pikirkanlah Apa pendapatmu?", Ia menjawab, "Wahai Ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, In sya Alloh engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar".

Taqwa ! Ya, hanya Ketaqwaan : tunduk, taat dan patuh terhadap apapun  perintah Alloh Subhanallohu wata’ala! Sepenuh jiwanya berkhidmat untuk Alloh Yang Esa, Oleh karena itu Alloh Subhanahu Wa Ta'ala menobatkannya sebagai IMAM, pemimpin bagi seluruh umat manusia, sekali lagi sebagai pemimpin umat manusia, bukan sekedar sebagai pemimpin suatu bangsa, sebagai pemimpin sebuah suku atau Departemen atau Kementrian melainkan sebagai pemimpin bagi seluruh umat manusia yang bisa melindungi, meneladani kebaikan dan menjaga ketentraman tempat tinggalnya. Sebagaimana firman Alloh dalam QS. Al Baqarah : 124,

وَإِذِ ابْتَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّۖ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا ۖ قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي ۖ قَالَ لَايَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ

"Dan ingatlah ketika Ibrahim mendapat ujian dari Tuhannya untuk memenuhi beberapa suruhan perintahnya lalu ia menunaikannya sehingga Alloh Subhanahu Wa Ta'ala berfirman, 'Akan Aku jadikan engkau sebagai pemimpin bagi manusia', Nabi Ibrahim yang hanif yang santun itu matur, memohon dengan lembut kepada Alloh Subhana WaTa'ala,  'dan (aku) mohon jadikan keturunan ku dijadikan pemimpin umat manusia', menjawab Alloh Subhanahu WaTa'ala dan berfirman, 'JanjiKu tiada berlaku bagi (keturunanmu) orang yang zhalim'. (QS. Al Baqarah : 124). 

Jadi hanya ulama lurus yang benar-benar mengikuti jejak risalah Ibrahim ‘Alaihissallaam, sehingga mereka diangkat sebagai pemimpin umat yang mampu melindungi, memberikan ketentraman/kesejahteraan dan membela manusia yang dipimpinnya dalam satu negeri yang dicintainya karena Alloh. 

Mereka, para pemimpin, ulama lurus yang mencintai Alloh sepenuh hati sehingga mencintai seluruh yang Alloh cintai meliputi manusia dan makhluk hidup lainnya beserta alam sekitarnya termasuk mencintai negeri. Para tokoh ulama lurus cintanya terhadap negeri berani mati karena Alloh, karenanya para ulama dan para jebolan pesantren antara lain Panglima Jendral Sudirman berjuang untuk membela negerinya karena Alloh sehingga mampu memimpin Tentara Rakyat Indonesia menegakkan NKRI atas izinAlloh Yang Maha Kuasa. 

Sikap ketawadhu’an dengan jiwa korsa cinta karena Alloh merupakan isyarat segala sesuatu minta pertolongan Alloh yang diibadahi, iyyakana’budu waiyyaka nashta’in telah mampu membela negaranya menentang setiap bentuk pengkhianatan NKRI hingga sekarang. Negara yang dibela ulama sebagai pemimpin umat manusia karena istiqomah mengikuti jejak Nabiyulloh Ibrahim‘Alaihissallaam, sesuai dengan petunjuk Alqur’an dan Sunah Rosululloh Sholallohu’alaihi wasallaam, in syaa Alloh akan diberi perlindungan danpertolongan Alloh ’Azza Wajalla menjadi negara yang baldatun thoyyibatun warobbunghofur, negara yang gemah ripah loh jinawi, titi tentrem karto raharjo, murahkang sarwo tinuku, panjang dowo pucapane punjung dhuwur kawibawane.

Mudah-mudahan momentum Dzulhijjah dan momentum Idul Adha ini kita bisa ambil pelajaran hikmah keteladanan Nabi Ibrahim Alaihissallaam sebagai manusia lembut dan lurus dengan jiwa tauhid yang sangat kuat hanifan musliman wama kaana minal musyrikin untuk menjalankan perintah dan menjauhi larangan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala sebagai bekal kehidupan dalam beramal sehari-harinya.

Ayyuhal ikhwah, mari pada penutupan kisah ini kita berdoa sebagaimana Nabiyulloh Ibrahim ‘Alaihissallaam, berdoa untuk umat manusia (QS.Ibrahim : 35 – 41),

Astaghfirullohal azhim

Allohumma sholi 'ala muhammad

رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْنَعْبُدَ الأصْنَامَ. رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ فَمَنْ تَبِعَنِيفَإِنَّهُ مِنِّي وَمَنْ عَصَانِي فَإِنَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ. رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُمِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَالِيُقِيمُوا الصَّلاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْمِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ. رَبَّنَا إِنَّكَ تَعْلَمُ مَا نُخْفِيوَمَا نُعْلِنُ وَمَا يَخْفَى عَلَى اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ فِي الأرْضِ وَلا فِي السَّمَاءِ.الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَهَبَ لِي عَلَى الْكِبَرِ إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِنَّرَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاءِ. رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِيرَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ. رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَيَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ.

_Ya Alloh, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari pada menyembah berhala-berhala. Ya Alloh, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia, maka barang siapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan barang siapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. 

Ya Alloh, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Alloh, (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. 

Ya Alloh, sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami lahirkan; dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit. Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua (ku) Ismail dan Ishak. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) doa.

Ya Alloh, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan salat, yaTuhan kami, perkenankanlah doaku. Ya Alloh, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat). Aamiin _

YOUR REACTION?

Facebook Conversations