Oleh : Ustadz Zarochman
Aktivis dakwah Semarang

Membangun Ka’bah dan Do’a dihadirkan seorang Utusan Nabi Muhammad Sholalllohu ‘Alaihi Wasallam

بِسْــــــــــــــــــــــمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم

Keberadaan Ka’bah yang hingga sekarang dijadikan tempat thawaf bagi seluruh umat muslim di dunia ketika menjalankan ibadah Haji, tidak terlepas dari perjuangan seorang tokoh yang dikenal sebagai Bapak para Nabi dan Bapak Tauhid seluruh umat muslim sepanjang masa yaitu Nabiyulloh Ibrahim ‘Alaihissallaam,. Untuk melengkapi kisah perjalanan Ibrahim ‘Alaihissallaam, mari kita simak bersama tulisan tentang kisah para Nabi, dari bagian episode kisah Ibrahim ‘Alaihissallaam.

Nabi Ibrahim ‘Alaihissallaam, istrinya Hajar, dan anak mereka yang masih menyusu, Ismail ‘Alaihissallaam, berjalan ke suatu tempat yang diperintahkan Allah ’Azza Wajalla. Ibrahim ‘Alaihissallaam, diperintahkan untuk berhenti di sebuah lembah yang tandus yang bertepatan dekat dengan Baitulloh. Setelah segala sesuatu dibicarakan antara Ibrahim dan Hajar,selanjutnya Hajar pun kembali dan Ibrahim pun terus berjalan hingga ketika sampai di suatu bukit sehingga mereka sudah tidak melihatnya, Ibrahim ‘Alaihissallaam, menghadapkan wajahnya ke Baitulloh, lalu berdo’a seraya mengangkat kedua tangannya,

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِيزَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةًمِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

”Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur” QS. Ibrahim : 37.

Beliau lalu kembali pulang ke kota al-Khalil (Hebron) diPalestina dengan meninggalkan Hajar dan anaknya di lembah tersebut dengan bertawakal, berharap Allah ’Azza Wajalla melindungi anak dan istrinya *Ibrahim ‘Alaihissallaam.*

Lalu Hajar menyusui Ismail dan meminum air bekalnya hingga kehabisan sehingga keduanya mulai merasa kehausan. Hajar tidak tega melihat bayinya menangis karena sangat kehausan, Hajar segera mencari air dari sumber yang ada. Dia bolak-balik antara Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali, tetapi tidak mendapatkan apa-apa. Ibnu ‘Abbas mengatakan, bahwa Nabi Muhammad Sholallohu ‘Alaihi Wasallam bersabda, ”Karena hal inilah orang-orang melakukan sa’i diantara bukit shafa dan Marwah”

Saat dia kembali menemui Ismail ‘Alaihissallaam, dia melihat percikan air dari bawah tungkai kaki anaknya. Sumber lain mengatakan, bahwa Air tersebut terpancar melalui perantara Jibril yang mengepakkan sayapnya ke bumi menyerupai seekor burung maka keluarlah air Zam-zam. Hajar lalu mengumpulkan tanah untuk membendung aliran air itu seraya berseru, 'Zami-zami (Berkumpullah, berkumpullah)’, lalu diciduklah air dan meminumnya dengan menyusui anaknya, Ismail.

Pada saat demikian, Malaikat Jibril berkata kepadanya, 'Janganlah kamu takut terlantar. Sebab, di sini akan ada Baitullah yang hendak dibangun anak ini beserta ayahnya. Sungguh, Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya.’ Setelah itu, datanglah sekelompok kabilah Bani Jurhum yang merantau dari Yaman. Mereka minta izin kepada Hajar agar diperbolehkan tinggal di sana, Hajar senang dan mengizinkannya, dia tidak lagi merasa sepi di tempat yang gersang itu. Mereka bermukim di sana dan membangun tempat tinggal, kemudian  daerah tersebut menjadi kota Mekah.

Sejak Nabi Adam ‘Alaihissallaam, diturunkan ke bumi, Baitullah selalu menjadi tempat yang dimuliakan dan diperbaiki terus oleh setiap agama dan umat dari satu generasi ke generasi lainnya. Tempat itu juga selalu dikunjungi para malaikat sebelum Nabi Adam ‘Alaihissallaam, turun kebumi." Dari seluruh penjuru dunia, mereka yang dizhalimi, menderita, dan butuh perlindungan datang ke tempat ini untuk berdoa, dan doa mereka pun dikabulkan. Manusia pun selalu mengunjunginya hingga Allah ’Azza Wajalla memerintahkan Ibrahim  untuk membangun Ka'bah kembali. Ibrahim mendapat perintah membangun dan mengurus Ka’bah bersama putranya, Ismail, agar menjadi tempat berkumpul umat manusia untuk menjalankan ibadah kepada Alloh Subhanallohu Wa Ta’ala dan sebagai arah kiblat dalam beribadah. Sebagaimana firman-Nya,

وَإِذْ بَوَّأْنَا لإبْرَاهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ أَنْ لا تُشْرِكْبِي شَيْئًا وَطَهِّرْ بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْقَائِمِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ

”Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): "Janganlah kamu memperserikatkan sesuatu pun dengan Aku dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang tawaf, dan orang-orang yang beribadah dan orang-orang yang rukuk dan sujud.” QS. Al-Hajj : 26.

Nabi Ibrahim ‘Alaihissallaam, berulang kali mengunjungi keluarganya. Ketika Allah ’Azza Wajalla memerintahkan Nabi Ibrahim ‘Alaihissallaam, membangun Ka'bah, beliau bergegas ke Mekah. Saat itu, Ibrahim ‘Alaihissallaam, melihat Ismail ‘Alaihissallaam, tengah meruncingkan anak panah di dekat sumur Zamzam. Mereka pun saling bersalaman dan berpelukan. Nabi Ibrahim ‘Alaihissallaam, berkata, "Allah memerintahkan aku agar membangun Baitullah untuk-Nya". Ismail ‘Alaihissallaam, berkata, "Laksanakanlah perintah Rabbmu, aku akan membantu ayah dalam urusan agung ini." Selama membangun, mereka berdua senantiasa berdoa, "Ya Rabb kami, terimalah (amal) dari kami, sungguh Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui,"Sebagaimana firman-Nya,

وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُرَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

”Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): "Ya Tuhan kami terimalah dari pada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” QS. Al-Baqarah : 127.

Nabi Ibrahim ‘Alaihissallaam, pun mulai membangun Ka'bah, sedangkan Ismail ‘Alaihissallaam, menyodorkan batu untuknya. Ibrahim ‘Alaihissallaam, berkata pada Ismail ‘Alaihissallaam,, "Bawakan batu yang paling bagus, aku akan meletakkannya di salah satu sudut ini agar menjadi tanda bagi manusia." Jibril lalu memberi tahu Ismail tentang Hajar Aswad: Batu yang diturunkan Allah dari surga. Ismail pun menyodorkannya dan Ibrahim meletakan pada tempatnya.

Ketika bangunan Ka'bah semakin tinggi, Nabi Ibrahim ‘Alaihissallaam, tidak mampu lagi mengangkat bebatuan. Dia lantas berdiri diatas sebuah batu, yang kemudian disebut Maqom Ibrahim ‘Alaihissallaam, hingga sempurnanya pembangunan Baitullah. Bekas kedua tapak kaki Nabi Ibrahim ‘Alaihissallaam, masih tampak dan jelas dilihat pada batu maqom Ibrahim itu..

Allah ’Azza Wajalla kemudian memerintahkan Ibrahim menyeru umat manusia agar melaksanakan ibadah haji. Allah ’Azza Wajalla berfirman, "Serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, atau mengendarai setiap unta yang kurus, mereka datang dari segenap penjuru yang jauh agar mereka menyaksikan berbagai manfaat untuk mereka dan agar mereka menyebut nama Allah pada beberapa hari yang telah ditentukan atas rezeki yang diberikan-Nya kepada mereka berupa hewan ternak.

Maka makanlah sebagian darinya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir. Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran (yang ada di badan) mereka, menyempurnakan nadzar-nadzar mereka, dan melakukan Thawaf di sekeliling rumah tua (Baitullah)," (QS. Al-Hajj :27-29).

Ayyuhal ikhwah, Allah ’Azza Wajalla berfirman mengkabarkan tentang kesempurnaan do’a Ibrahim untuk penduduk Tanah Haram (Mekah), dimana Ibrahim memohon agar Alloh mengutus kepada mereka (penduduk Mekah) seorang Rasul yang berasal dari mereka sendiri. Sebagaimana firman-Nya,

رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْآيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنْتَالْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

”Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Qur'an) dan Al-Hikmah (As-Sunah) serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” QS. Al-Baqarah : 127.

Do’a mustajab ini sesuai dengan takdir Allah ’Azza Wajalla yang telah ditetapkan yakni penunjukkan Muhammad Sholallohu ‘Alaihi Wasallam sebagai Rosululloh, nabi terakhir.  Dan dalam Kitab Tafsir Ibnu Katsir diterangkan, bahwa hingga Nabi Bani Israil yaitu Isa putera Maryam pun menyebut dengan jelas namanya, yaitu ketika ‘Isa berdiri didepan Bani Israil seraya berpidato sebagaimana firman-Nya,

وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّيرَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًابِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ فَلَمَّا جَاءَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِقَالُوا هَذَا سِحْرٌ مُبِينٌ

”Dan (ingatlah) ketika Isa Putra Maryam berkata: "Hai Bani Israel, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)" Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: "Ini adalah sihir yang nyata".” QS. Ash-Shaff : 6.

Maha Benar Alloh Yang Maha Agung dengan segala firman-Nya.

Astaghfirullohal azhim

Allohumma sholi 'ala muhammad

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَاوَتَقَبَّلْ دُعَاءِ. رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَيَقُومُ الْحِسَابُ.

Ya Alloh, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan salat, ya Alloh, perkenankanlah doaku. Ya Alloh, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat), Aamiin

YOUR REACTION?

Facebook Conversations