Oleh : Ustadz Zarochman
Aktivis dakwah Semarang

Sepenuh Hati Mentaati Perintah Berhuni Di Lembah Gersang nan Sunyi Tanpa Penghuni

بِسْــــــــــــــــــــــمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم

Atas perintah dan petunjuk-Nya lewat wahyu yang diterimanya, Nabi Ibrahim ‘Alaihissallaam pun membawa Hajar dan Ismail pergi dari rumahnya sesuai wahyu yang diterimanya dari Allah ’Azza Wajalla.  Perjalanan Nabi Ibrahim Alaihissalam diikuti bersama keluarganya yaitu istrinya : Hajar Ummu Ismail sembari membopong putera bayinya bernama Ismail menuju ke sebuah lembah gersang dan tandus. 

Nabi Ibrahim ‘Alaihissallaam membawa Hajar dan anak tercinta ke suatu lembah dekat Baitullah yang kering dan tidak ada tanaman. yang kini menjadi kota teramai, termakmur didunia, yaitu tempat didirikannya Ka'bah Baitullah di tengah Masjidil Haram Kota Mekah yang hingga sekarang dan saat ini dikunjungi umat muslim sedunia. Fenomena perjalanan Nabi Ibrahim Alaihisallaam ke sebuah lembah gersang tanpa tanaman maupun tanpa air, tak berpenghuni satu orang pun sungguh suatu ketaatan luar biasa memenuhi perintah-Nya. 

Dia mengajak istrinya Hajar dan puteranya semata wayang : Ismail, yang masih bayi adalah dalam rangka memenuhi perintah Alloh semata.  Ini adalah ujian dariAlloh Subhanahu Wa Ta'ala dengan bentuk pengorbanan lain yang harus ditunaikan Ibrahim Alaihisallam dengan jiwa ketauhidan luar biasa, perintah Alloh Subhanahu wa ta'ala ini dijalani tanpa ragu. 

Bagaimana ada kepercayaan diri yang begitu luar biasa yaitu yakin bahwa dia berada di atas kebenaran dan yakin bahwa Allah Subhanahu Wa Ta'ala akan menolongnya. Ini perkara yang sangat penting. Keteladanan Ibrahim ‘Alaihissallaam dalam hal ini diikuti oleh istrinya Hajar ummu Ismail. Ketika Hajar ditinggalkan oleh Ibrahim di sebuah lembah yang gersang tidak ada tanaman, tidak ada penduduk atau tanpa penghuni. Bayangkan meninggalkan anak dan istrinya di sebuah lembah yang sepi tidak ada apa-apa. Tidak ada air, tidak ada makanan dan tidak ada orang. Tetapi karena itu adalah perintah Alloh, Nabi Ibrahim tetap tinggalkan anak dan istrinya tanpa menoleh lagi, sedang dia adalah seorang yang berhati lembut dan lurus, “nggak tegonan”. Dan dari belakang ketika itu, Hajar mengikuti langkah Ibrahim sambil bertanya kepada suaminya, "Kenapa engkau lakukan ini Ibrahim?", "Kenapa engkau lakukan ini Ibrahim?","Kenapa engkau lakukan ini Ibrahim?”. 

Dengan dada yang remuk redam, Ibrahim membalikka ndiri memandang istrinya sebentar, lalu membalikkan lagi  dengan melangkah pelan dan ketika itu pula Hajar Ummu Ismail pun bertanya lagi, "Amrokallahu bihadza ya Ibrahim?", 'Apakah Alloh memerintahkanmu untuk ini?', dijawab Nabi Ibrahim tanpa membalik muka dengan satu kata, "Na'am, ya benar". Ibrahim yang hatinya lembut (munif) dan lurus (hanif), tidak tega melihat anak dan istrinya ditinggalkan dalam keadaan kesepian menderita.  

Sebuah pengorbanan besar Nabi Ibrahim ‘Alaihissallaam dan menjalankan perintah Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. Lalu dengan mantap Hajar berkata, 'Idzan layyudzho yi'un', 'Kalau begitu Dia (Alloh Subhanahu Wa Ta'ala) pasti tidak akan menyia-nyiakan kami'. Kalimat yang paling menarik adalah ketika Hajar Ummu Ismail ini mengetahui bahwa kepergian Nabi Ibrahim ‘Alaihissallaam adalah karena perintah Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. Tumbuh keyakinan bahwa,"ALLOH TIDAK AKAN MENYIA-NYIAKAN KAMI", kalimat sederhana tapi berangkat dari sebuah kepercayaan diri yang kuat. Keteladanan tanpa batas seorang Hajar Ummu Ismail yang kelak menjadi inspirasi keimanan kokoh dari umat Islam hingga kini yang tengah memperjuangkan Agama Alloh. Al-Islam. 

Keyakinan lurus yang kuat bahwa Alloh Subhanahu Wa Ta'ala akan menolongnya, "Shohihul i'tiqod", dan betul memang Alloh tidak akan menyia-nyiakan. Jibril diutus Alloh menolong hambanya yang hanif dengan ketaatannya itu, untuk mengeluarkan sumber mata air zam-zam lewat hentakan kakikecil Ismail yang masih bayi itu untuk kehidupan di lembah itu yang hingga sekarang tempat ditegakkannya bangunan rumah Alloh, Ka'bah dengan sumber mata air zam-zam yang tidak pernah berkurang walaupun semakin banyak yang mengambilnya hingga sekarang dan nanti entah sampai kapan untuk sumber kehidupan dan tiap hari jutaan manusia terus mengambil air zamzam sebagai KEBERKAHAN dari Alloh Subhanahu Wa Ta'ala.

Sebagaimana firman Alloh Ta’ala,

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِيزَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةًمِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

“Ya, Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai taman-taman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan salat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.”(QS. Ibrahim: 37). 

Atas doa yang dipanjatkan Nabi Ibrahim ‘Alaihissallaam, lembah tempat tinggal Hajar dan Ismail mulai berubah. Lewat Ismail ’Alaihisallam, muncullah air Zam-Zam yang suci dan bermanfaat hingga kini.  SUBHANALLOH !!!.

Astaghfirullohal azhim

Allohumma sholi 'ala muhammad

رَبَّنَا إِنَّكَ تَعْلَمُ مَا نُخْفِي وَمَا نُعْلِنُ وَمَا يَخْفَىعَلَى اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ فِي الأرْضِ وَلا فِي السَّمَاءِ. رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَافِتْنَةً لِلَّذِينَ كَفَرُوا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُالْحَكِيمُ.

Ya Alloh, sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami lahirkan; dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit.

Ya Robb, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir. Dan ampunilah kami, ya Tuhan kami. Sesungguhnya Engkau Yang Maha perkasa, Maha bijaksana. Aamiin

YOUR REACTION?

Facebook Conversations