Oleh : Ustadz Zarochman
Aktivis dakwah Semarang

Hijrahnya Ibrahim ‘Alaihissallaam didampingi isteri sholihah
بِسْــــــــــــــــــــــمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم

Ayyuhal ikhwah kaum yang mendurhakai Alloh dengan kesyirikan mereka mau membinasakan Ibrahim, tapi Alloh menggagalkan tipu daya mereka sehingga mereka kalah dan terhina. Sebagaimana firman-Nya,

وَأَرَادُوا بِهِ كَيْدًا فَجَعَلْنَاهُمُ الأخْسَرِينَ

_”Dan mereka hendak berbuat jahat terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling rugi," (QS. Al-Anbiyaa': 70).

Disinilah, Nabi Ibrahim ‘Alaihissallaam, dengan kecemerlangan pikirannya memandang perlu untuk berhijrah membawa kemurnian agamanya. Beliaupun berhijrah bersama istrinya (Sarah) dan keponakannya (Luth ‘Alaihissallaam,) ke tempat yang sangat diberkahi Allah ’Azza Wajalla untuk seluruh alam yaitu ke negeri Syam, termasuk didalamnya Palestina, artinya kebanyakan nabi berasal dari negeri ini dan tanahnya subur. Allah ’Azza Wajallaberfirman,

فَآمَنَ لَهُ لُوطٌ وَقَالَ إِنِّي مُهَاجِرٌ إِلَى رَبِّي إِنَّهُهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

"Maka Luth membenarkan (kenabian Ibrahim). Dan dia (Ibrahim) berkata, 'Sesungguhnya aku harus berpindah ke (tempat yang di perintahkan) Rabbku. Sungguh, Dialah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana,"(QS. Al-Ankabut :26).

Untuk selanjutnya Nabi Ibrahim ‘Alaihissallaam, memutuskan berhijrah dari negeri tersebut, melihat karena tidak ada yang beriman selain istrinya Sarah dan putera saudaranya, yaitu Luth ‘Alaihissallaam, maka ia pun berhijrah dari satu tempat ke tempat yang lain hingga sampai di Palestina. Disanalah beliau tinggal beberapa lama, beribadah kepada Allah ’Azza Wajalla dan megajak manusia untuk beribadah kepada Allah ’Azza Wajalla.

Setelah berlalu beberapa tahun, maka negeri tersebut ditimpa kemarau panjang, hingga mendesak Nabi Ibrahim ‘Alaihissallaam, untuk hijrah ke Mesir. Ketika itu, di Mesir ada seorang raja yang kejam namun suka kepada wanita, ia memiliki beberapa pembantu yang membantunya untuk memperoleh apa yang ia inginkan. Para pembantunya berdiri di pinggiran negeri untuk memberitahukan kepada raja wanita-wanita cantik yang datang ke Mesir. 

Saatmereka melihat Sarah, dimana ia adalah wanita yang sangat cantik, maka mereka menyampaikan kepada raja dan memberitahukan kepadanya bahwa bersamanya ada seorang laki-laki, maka raja pun mengeluarkan perintahnya untuk membawa laki-laki itu. Tidak beberapa lama, beberapa tentara datang dan membawa Nabi Ibrahim ‘Alaihissallaam, kepada raja. Ketika tiba di hadapannya, maka raja bertanya kepada Nabi Ibrahim ‘Alaihissallaam, tentang wanita yang bersamanya, lalu Nabi Ibrahim menjawab, “Ia adalah saudarinya.” Rajanya berkata, “Bawalah ia kehadapanku.” Maka Nabi Ibrahim pergi menemui Sarah dan memberitahukan kepadanya apa yang disampaikannya kepada raja dan perkatannya, bahwa Sarah adalah saudarinya.

Ayyuhal ikhwah, "Nabi Ibrahim  tidak pernah berbohong kecuali tiga kali. 

Pertama, perkataannya ketika diajak untuk beribadah kepada berhala tuhan mereka dan Ibrahim menjawab, ‘Sesungguhnya aku sakit’. 

Kedua, perkataannya, ‘Sebenarnya patung besar itulah yang melakukannya’.  

Ketiga, perkataannya tentang Sarah, ‘Sesungguhnya dia saudariku’.” (HR Bukhari). 

Lalu Sarah pun pergi ke istana. Ketika raja melihatnya, maka raja terpesona melihat kecantikannya dan langsung berdiri menghampirinya, tetapi Sarah berkata, “Saya ingin shalat dan berwudhu (dahulu).” Maka raja pun mengizinkannya. 

Lalu Sarah berwudhu dan shalat, setelah itu ia berdoa, “Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa aku beriman kepada-Mu dan kepada Rasul-Mu, dan aku menjaga kehormatanku selain kepada suamiku, maka janganlah engkau berikan kekuasaan kepada orang kafir ini.” Maka Allah ’Azza Wajalla mengabulkan permohonannya, menjaganya dan memeliharanya. Sehingga setiap kali, raja ingin memegangnya, maka tangannya tergenggam atau tercekik, hingga raja pun meminta Sarah agar berdoa kepada Allah ’Azza Wajalla agar tangannya terbuka dan raja tidak akan menimpakan bahaya apa-apa kepadanya. Kejadian ini berulang sampai tiga kali.

Saat raja mengetahui, bahwa ia ternyata tidak berkuasa kepadanya, maka raja memanggil sebagian pembatunya dan berkata kepada mereka, “Kalian tidak membawaku seorang manusia, bahkan membawa kepadaku seorang setan.” Lalu ia memerintahkan para pembantunya untuk memberikan Hajar kepadanya untuk menjadi pelayannya. (Hal ini sebagaimana disebutkan dalam riwayat Ahmad dan Bukhari). Maka Sarah pun kembali kepada suaminya tanpa diganggu sedikit pun oleh raja, lalu Sarah mendapatkan Nabi Ibrahim ‘Alaihissallaam, dalam keadaan shalat. Saat Sarah sampai, maka Nabi Ibrahim ‘Alaihissallaam, melihatnya dan bertanya kepadanya tentang hal yang terjadi? Sarah pun menjelaskan, bahwa Allah’Azza Wajalla menolak tipu daya raja itu kepadanya dan memberikan kepadanya seorang budak bernama Hajar untuk melayaninya.

Sebagaimana dikisahkan diatas, Sarah merupakan wanita mukmin yang memiliki kecantikan mengagumkan di zamannya. Tak hanya cantik secara fisik, Sarah juga merupakan wanita yang sangat cantik akhlak dan budi pekertinya. Ia juga sebagai seorang wanita yang ramah, murah sedekah dan begitu patuh dengan sang suami yakni Nabi Ibrahim ‘Alaihissallaam Karena kecantikan Sarah yang begitu mengagumkan, seorang raja jahat bernama Raja Fir'aun ingin mempersuntingnya sebagai selirnya. 

Namun, karena kuasa Tuhan dan doa-doanya yang begitu tulus, Sarah bisa lepas dari raja Fir'aun. Oleh raja itu bahkan ia diminta pulang dan diberi hadiah seorang budak bernama Hajar yang suatu saatnya nanti menjadi istri Nabi *Ibrahim ‘Alaihissallaam dan melahirkan seorang Nabi mulia yakni Nabi Ismail_‘Alaihissallaam_. Sepulangnya dari tempat raja Firaun, Sarah kembali hidup bahagia bersama Nabi *Ibrahim ‘Alaihissallaam dari hari kehari, bulan ke bulan dan tahun ke tahun. Namun ada satu hal yang membuatnya begitu sedih, dalam pernikahannya yang telah berjalan sangat lama, ia dan suami belum juga dikaruniai seorang anak. Meski begitu, baik ia maupun Nabi Ibrahim ‘Alaihissallaam tetap sabar dan terus berdoa juga berusaha melakukan yang terbaik agar segera dikaruniai anak.

Nabi Ibrahim ‘Alaihissallaam bahkan tak henti-hentinya berdoa agar ia dikaruniai seorang anak yang shaleh. Haru mendengar doa suaminya, Sarah pun menawarkan Hajar seorang budak yang diberikan Fir'aun untuknya agar dijadikan istri. 

Kepada Nabi Ibrahim Sarah mengatakan, "Hai kekasih Allah, sesungguhnya Allah tidak memperkenankan aku melahirkan anak, karenanya menikahlah dengan budakku ini, mudah-mudahan Allah mengaruniakan anak kepadamu melalui dirinya. Inilah Hajar, aku berikan kepadamu, mudah-mudahan Allah memberi kita anak keturunan darinya.” 

Jadi, ayyuhal ikhwah, sedemikian tulusnya Sarah Meminta Nabi Ibrahim ‘Alaihissallaam menikahi Hajar. Nabi Ibrahim kemudian menikahi Hajar atas kerelaan dan permintaan Sarah. Dan benar, Allah ﷻ mendengarkan doa dari keduanya nya, Nabi *Ibrahim ‘Alaihissallaam dan Sarah isteri yang sangat dicintainya, sehingga dari Hajar ia dikaruniai seorang anak bernama Ismail. Nabi Ibrahim ‘Alaihissallaam tentu sangat bahagia dengan kehadiran seorang anak di keluarganya.

Namun, rupanya Sarah dilanda api cemburu. Wanita ini meminta suaminya agar menghindari Hajar atau pun anak mereka. Kodrat alamiah rasa cemburu Sarah kepada Hajar seiring dengan berjalannya waktu. Melihat kecemburuan istri yang begitu dicintainya, Nabi Ibrahim ‘Alaihissallaam merasa tidak tega, dan Allah ’Azza Wajalla mengetahui kondisi yang demikian. Dan sesuai petunjuk wahyu yang diterimanya dari Allah’Azza Wajalla, Nabi Ibrahim ‘Alaihissallaam pun membawa Hajar dan Ismail pergi dari rumahnya.

Maha Benar Alloh Yang Maha Agung dengan segala firman-Nya.

Astaghfirullohal ‘azhim

Allohumma shol’ala muhammad

رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي. وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي. وَاحْلُلْ عُقْدَةًمِنْ لِسَانِي. يَفْقَهُوا قَوْلِي.

Ya Alloh, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengertiperkataanku, Aamiin.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations