Oleh : Ustadz Zarochman
Aktivis dakwah Semarang

Nabi Ibrahim ‘Alaihissallaam kembali berdakwah berdebat dengan Namrudz

بِسْــــــــــــــــــــــمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم

Ketika kemungkaran menjadi kuasa apapun yang menentangnya baik dari kemungkaran yang lain atau dari kebenaran yang ingin ditegakkan sekalipun harus ditindak dengan hukuman menurut kemauan aturannya. Begitulah keputusan mahkamah dari kaum musyrikin pemerintahan Namrudz yang ditimpakan untuk membakar hidup-hidup Nabi Ibrahim Alaihissallaam. Namun sama sekali tidak diperhitungkan ada Kekuasaan Yang Maha Besar bisa mendinginkan berapapun panas bara api yang membakarnya. 

Setelah tempat pembakaran sudah dinyalakan dengan api berkobar, Nabi Ibrahim Alaihissallaam diangkat ke atas sebuah tempat yang tinggi lalu dilemparkan ia kedalam tumpukan kayu yang menyala-nyala itu denganiringan firman Alloh ’Azza Wajalla :

قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلامًا عَلَى إِبْرَاهِيمَ

"Hai api, menjadilah engkau dingin dan keselamatan bagi Ibrahim." (QS. Al-Anbiyaa’ : 69).

Memang demikianlah apa yang terjadi tatkala ia berada dalam perut gunung api yang dahsyat itu ia merasa dingin sesuai dengan seruan Allah’Azza Wajalla sebagai pelindungnya, dan hanya tali temali dan rantai yang mengikat tangan dan kakinya yang terbakar hangus, sedang tubuh dan pakaian yang terlekat pada tubuhnya tetap utuh, tidak sedikit pun tersentuh oleh api, hal mana merupakan suatu mukjizat yang diberikan oleh Allah ’Azza Wajalla kepada hamba pilihan-Nya. 

Nabi Ibrahim ‘Alaihissallaam, diselamatkan agar dapat melanjutkan penyampaian risalah yang ditugaskan kepadanya kepada hamba-hamba Allah ’Azza Wajalla yang tersesat itu. Orang ramai tercengang dengan keajaiban ini dan mulai mempersoalkan kepercayaan kepada Raja Namrudz. Malah ada yang mengkisahkan anak perempuan Raja Namrudz sendiri yaitu Puteri Razia telah mempercayai agama yang dibawa oleh beliau. 

Lalu Puteri itupun mengaku dihadapan khalayak ramai bahwa Tuhan nabi Ibrahim ‘Alaihissallaam, adalah Tuhan yang sebenarnya. Ini telah menaikkan kemarahan raja Namrudz yang mengarahkan tentara untuk membunuh puterinya itu. Puteri itupun berlari ke arah api yang besar itu lalu berkata "Tuhan Nabi Ibrahim selamatkanlah aku".

Puteri Razia pun turut terselamat dari terbakar dan dalam api yang membara itu kedengaran dia mengucap kalimah syahadah. Tindakan ‘durhaka’ puterinya menjadikan hati Raja Namrudz semakin membara. Puteri Razia selamat dari kobaran api dan keluar dari api tersebut dan lari ke hutan, mengetahui hal tersebut raja Namrudz serta tenteranya lalu mengejarnya kedalam hutan.

Hal ini memberi peluang kepada Nabi Ibrahim ‘Alaihissallaam, serta adik tirinya Sarah,  serta anak saudaranya Nabi Luth ‘Alaihissallaam, untuk melarikan diri. Raja Namrudz dan tenteranya sudah mencari Puteri Razia dalam hutan, tetapi puteri itu tidak ditemukan. Selepas sekian lama, merekapun pulang dan mendapati bahwa Nabi Ibrahim ‘Alaihissallaam, turut terlepas.

Setelah peristiwa ini, Raja Namrudz kian gelisah karena rakyatnya mulai hilang kepercayaan dengan kekuasaannya. Oleh karena itu, beliau berazam  pula untuk membunuh Tuhan nabi Ibrahim ‘Alaihissallaam,.

Mukjizat yang diberikan oleh Allah ’Azza Wajalla kepada Nabi Ibrahim ‘Alaihissallaam, sebagai bukti nyata akan kebenaran dakwahnya, telah menimbulkan kegoncangan dalam kepercayaan sebahagian penduduk terhadap persembahan dan patung-patung mereka dan membuka mata hati banyak dari pada mereka untuk memikirkan kembali ajakan Nabi Ibrahim ‘Alaihissallaam, dan dakwahnya, bahkan tidak kurang daripada mereka yang ingin menyatakan imannya kepada Nabi Ibrahim ‘Alaihissallaam,. 

Namun mereka khawatir akan mendapat kesukaran dalam penghidupannya akibat kemarahan dan balas dendam para pemuka dan para pembesarnya yang mungkin akan menjadi hilang akal bila merasakan bahwa pengaruhnya telah beralih ke pihak Nabi Ibrahim ‘Alaihissallaam,

Dahulu raja dunia bagian Timur dan Barat ada dua orang raja kafir adalah Namrudz dan Bukhtan ashhir. Di antara dua raja kafir tersebut, yang didebat oleh Ibrahim Alaihissallaam adalah Namrudz seorang raja Babil. Setelah Nabi Ibrahim Alaihissallaam selamat dari pembakaran, maka beliau berdakwah kepada Raja negeri tersebut (Babil), yaitu Namrudz. Debat antara Nabi Ibrahim Alaihissallaam dengan Raja Namrudz karena dia mengaku dirinya sebagai Tuhan (ada yang mengatakan bahwa ia berkuasa ketika itu selama 400 tahun). 

Dari kisah debat ini Alloh ’Azza Wajalla sampai mengingatkan kapada Nabi Muhammad Sholallohu ‘alaihi wasallam dengan kalimat tanya, ”Wahai Muhammad, apakah kamu  menemukan sikap yang lebih mencengangkan dari pada sikap orang yang mendebat Ibrahim ‘Alaihissallaam mengenai ke-Esa-an dan ke-Tuhan-an Alloh Subhanallohu wata’ala?” Sebagaimana firman-nya,

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِي حَاجَّ إِبْرَاهِيمَ فِي رَبِّهِ أَنْآتَاهُ اللَّهُ الْمُلْكَ إِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّيَ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُقَالَ أَنَا أُحْيِي وَأُمِيتُ قَالَ إِبْرَاهِيمُ فَإِنَّ اللَّهَ يَأْتِي بِالشَّمْسِمِنَ الْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ الْمَغْرِبِ فَبُهِتَ الَّذِي كَفَرَ وَاللَّهُلا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya  karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan. Ketika Ibrahim mengatakan, “Tuhanku adalah Yang menghidupkan dan mematikan,” orang itu berkata,“Saya dapat menghidupkan dan mematikan.” Ibrahim berkata, “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari Timur, maka terbitkanlah dia dari Barat,” lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orangyang zhalim.” (QS. Al Baqarah: 258).

Pada ayat diatas Namrudz meminta Nabi Ibrahim ‘Alaihissallaam, menunjukkan bukti keberadaan Allah ’Azza Wajalla maka Nabi Ibrahim ‘Alaihissallaam, berkata, “Tuhanku adalah yang mampu menghidupkan dan mematikan,” yakni bukti keberadaan Allah ’Azza Wajalla adalah adanya sesuatu dan hilangnya sesuatu setelah adanya, karena sudah pasti setiap yang ada pasti ada yang mengadakannya, Dialah Allah ’Azza Wajalla Tuhan alam semesta. Namrudz pun menjawab, “Aku juga bisa menghidupkan dan mematikan”, maksud menghidupkan adalah dengan membiarkan hidup atau tidak jadi dibunuh orang yang harus dibunuh. Sedangkan maksudnya bisa mematikan adalah dengan membunuh seseorang. Kata-kata ini sebenarnya dia ucapkan hanya untuk membantah Nabi Ibrahim‘ Alaihissallaam, dan untuk membenarkan dakwaannya “mengaku tuhan” padahal jawaban ini sangat lemah sekali. 

Nabi Ibrahim ‘Alaihissallaam, kemudian mengatakan, “Sesungguhnya Allah yang menerbitkan matahari dari Timur maka terbitkanlah dari Barat!” Ketika itu diamlah si thaaghut ini dan tidak bisa menjawab apa-apa.

Maha Benar Alloh Yang Maha Agung dengan segala firman-Nya.

Astaghfirullohal azhim

Allohumma sholi ’ala muhammad

رَبَّنَا لا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَاوَلا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَارَبَّنَا وَلا تُحَمِّلْنَا مَا لا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَاوَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

Ya Alloh, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Alloh, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Alloh, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir. Aamiin

YOUR REACTION?

Facebook Conversations