Oleh : Ustadz Zarochman
Aktivis dakwah Semarang

Ibrahim Seorang Hamba Pilihan Alloh Menjadi Pemimpin Seluruh Umat Manusia Mendakwahkan Tauhid

بِسْــــــــــــــــــــــمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم

Nabi Ibrahim ‘Alaihissallaam, termasuk satu dari hamba-hamba pilihan Alloh. Alloh mengutus hamba-hamba pilihan-nya untuk menyampaikan risalah kepada umat manusia. Mereka adalah orang-orang yang teguh pada jalan yang lurus, menyeru manusia kepada kebenaran, dan menjadi teladan bagi umat manusia. Alloh Subhanahu Wa Ta'ala berfirman,

أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهِ قُلْلا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِنْ هُوَ إِلا ذِكْرَى لِلْعَالَمِينَ

”Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah : "Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (Al Qur'an)". Al Qur'an itu tidak lain hanyalah peringatan untuk segala umat.” QS. Al-An-‘am : 90.  

Dalam hal ini sebagai hamba-hamba pilihan Alloh, Nabi Ibrahim ‘Alaihissallaam, dianugerahi keturunan hamba-hamba pilihan-Nya dan kepadanya diberikan petunjuk jalan yang lurus. Alloh menunjukkan jalan yangbenar kepada siapa saja yang Dia kehendaki atas ketaatannya, dan dipertegas lagi bahwa itulah petunjuk dari Alloh, dan Dia menunjukkan kepada siapa saja yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya. (QS. Al-An-‘am : 84 - 88). 

Keturunan Nabi Ibrahim itu adalah para nabi dan diberinya wahyu dari Alloh ’Azza Wajalla untuk dijadikan pemimpin-pemimpin yang sholeh (QS. Al-Anbiyaa’ : 73). Keturunan Nabi Ibrahim ‘Alaihissallaam, yang dilahirkan dari isterinya Siti Hajar adalah Nabi Ismail ‘Alaihissallaam. Dan keturunan dari isterinya Sarah adalah Nabi Ishaq ‘Alaihissallaam.

Pada suatu hari ketika Nabi Ibrahim ‘Alaihissallaam, bersama dengan isterinya Sarah, usia keduanya sudah sangat tua, malaikat datang kerumahnya dan memberi kabar gembira. Maka kami Sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishaq dan dari Ishaq (akan lahir putranya) Ya`qub. (Q.S Huud, 71). 

Mendengar kabar ini, Sarah begitu terkejut. Mana mungkin ia yang sudah berusia di atas 90 tahun masih bisa mengandung dan melahirkan. Bukankah ia seorang wanita yang tidak bisa memiliki anak? “Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamikupun dalam keadaan yang sudah tua pula? Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh." (Q.S Huud, 72). 

Allah ’Azza wajalla memang MahaBesar, Sarah benar-benar mengandung. Melalui ketetapan-Nya, di usia yang sudah tidak muda lagi yakni 99 tahun, istri Nabi Ibrahim ‘Alaihissallaam, itu dikaruniai seorang anak yang kemudian diberi nama Ishaq ‘Alaihissallaam. Nabi Ishaq ‘Alaihissallaam sendiri adalah ayah dari Nabi Ya'Qub ‘Alaihissallaam. Dan Ya'qub ‘Alaihissallaam adalah ayah dari Nabi paling tampan sepanjang masa yakni Nabi Yusuf ‘Alaihissallaam.

Ayyuhal mukminun rohimuhulloh,, dalam kitab Syaamil Al-Qur’an halaman 113 diungkapkan, bahwa ketika orang Yahudi dan Nasrani masing-masing menganggap Nabi Ibrahim ‘Alaihissallaam, itu dari golongannya, lalu Alloh ’Azza Wajalla membantah mereka dengan alasan bahwa Nabi Ibrahim ‘Alaihissallaam, itu datang sebelum mereka, sebagaiman firman-Nya,

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تُحَاجُّونَ فِي إِبْرَاهِيمَ وَمَاأُنْزِلَتِ التَّوْرَاةُ وَالإنْجِيلُ إِلا مِنْ بَعْدِهِ أَفَلا تَعْقِلُونَ

”Hai Ahli Kitab, mengapa kamu bantah-membantah tentang hal Ibrahim, padahal Taurat dan Injil tidak diturunkan melainkan sesudah Ibrahim. Apakah kamu tidak berpikir?”  (QS.Ali-‘Imron 65). Jadi adalah sebuah kekeliruan ketika mengklaim bahwa Ibrahim adalah orang Yahudi atau orang Nasrani, sedangkan telah diketahui bahwa Agama Yahudi dan Nasrani ada setelah Nabi Ibrahim ‘Alaihissallaam, wafat.

Sebegitu besarnya tokoh Nabi Ibrahim ‘Alaihissallaam, semua orang bangga akan merasa untuk memilikinya, namun kedudukan Islam dalam hal ini yang paling diberi hak untuk mengakui dan hanya Islam yang berhak memiliki nabiyullah Ibrahim ‘Alaihissallaam., sebagaimana firman-Nya,

مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلا نَصْرَانِيًّا وَلَكِنْكَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

”Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik” (QS.Ali-‘Imron 67). Lurus berarti jauh dari syirik dan jauh dari kesesatan. 

Oleh karena itu yang menghidupkan bekas-bekas perjalanan, napak tilas, Nabi Ibrahim ‘Alaihissallaam, adalah Islam dan memang umat Islamlah yang diberi titipan kilas perjalanan penuh perjuangan dan pengorbanan Nabi Ibrahim ‘Alaihissallaam, untuk disyi'arkan sebagai figur seorang pemimpin manusia dengan keteladanan tauhid bagi seluruh umat manusia supaya mengikutinya sesuai risalah yang benar.

Ya ayyuhal ikhwah rohiman warohimakumulloh, kedudukan Nabi Ibrahim ‘Alaihissallaam,  sebagai pemimpin manusia yang mulia itu diperolehnya dengan perjuangan yang sungguh-sungguh dengan pengorbanan yang tanpa batas. Fitroh manusia menyadari bahwa barangsiapa yang diangkat dan dipilih naik dapat kedudukan sebagai pemimpin tanpa usaha dengan benar, tanpa pengorbanan dengan keyakinan yang lurus, maka akan terjatuh dengan hina, apakah dia ada di sebuah negara, disebuah kantor, maka bila diangkat mendapat kedudukan sebagai pemimpin, tanpa usaha dengan kesungguhan yang benar dalam perjuangan dengan pengorbanan untuk keyakinan yang lurus maka suatu ketika akan terjatuh tanpa kehormatan yang sebenarnya, fitroh manusia menyadari seperti itu. 

Tetapi hal ini tentu TIDAK bagi Nabi Ibrahim ‘Alaihissallaam, bahwa beliau ini diangkat sebagai pemimpin manusia atas usahanya berjuang dengan penuh perjuangan yang sungguh-sungguh untuk persembahan kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala semata. Sungguh hampir tidak terbayangkan dalam seluruh lembaran sejarah manusia, bagaimana pengorbanan Nabi Ibrahim ‘Alaihissallaam, yang hingga kini sejak 4000 tahun lebih tetap mendapat sebuah kehormatan oleh berjuta umat manusia, entah sampai kapan, bahkan rela antri hingga berpuluh-puluh tahun itu untuk dapat kesempatan pergi ibadah haji.

Tatkala Ibrahim mendapat ujian dari Tuhannya yang juga Robb kita semua manusia dan alam semesta yaitu Alloh Subhanahu Wa Ta'ala agar dapat dijalankan semua suruhan-Nya lalu Ibrahim ternyata mampu menyempurnakannya. Oleh karena itu Alloh Subhanahu Wa Ta'ala menobatkannya sebagai IMAM, pemimpin bagi seluruh umat manusia, sekali lagi sebagai pemimpin umat manusia, bukan sekedar sebagai pemimpin suatu bangsa, sebagai pemimpin sebuah suku atau Departemen atau Kementrian melainkan sebagai pemimpin bagi seluruh umat manusia. Sebagaimana firman Alloh dalam QS. Al Baqarah : 124,

وَإِذِ ابْتَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّۖ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا ۖ قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي ۖ قَالَ لَايَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ

"Dan ingatlah ketika Ibrahim mendapat ujian dari Tuhannya untuk memenuhi beberapa suruhan perintahnya lalu ia menunaikannya sehingga Alloh Subhanahu Wa Ta'ala berfirman, 'Akan Aku jadikan engkau sebagai pemimpin bagi manusia', Nabi Ibrahim yang hanif yang santun itu matur, memohon dengan lembut kepada Alloh Subhana WaTa'ala, 'dan (aku) mohon jadikan keturunan ku dijadikan pemimpin umat manusia', menjawab Alloh Subhanahu WaTa'ala dan berfirman, 'Janji Ku tiada berlaku bagi (keturunanmu) orang yang zhalim'. (QS. Al Baqarah : 124).

Jadi siapapun yang mengikuti jejak Nabi Ibrahim Alaihissallam, maka ia diberi oleh Alloh Subhanahu Wa Ta'ala satu kedudukan besar lagi mulia yaitu sebagai pemimpin umat manusia untuk dijadikan panutan dan sebagai imam yang selalu memberikan keteladanan, uswah, walaupun secara formal tidak diangkat manusia sebagai pemimpin dengan kedudukan formal tertentu, tetapi lebih dari itu diangkat oleh Alloh Subhanahu Wa Ta'ala sebagai pemimpin ikutan bagi umat manusia atas usahanya yang istiqomah mengikuti jejak keteladanan Nabi yulloh Ibrahim Alaihissallaam. 

Sedangkan pemimpin zhalim oleh Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, TIDAK diikutkan sebagai pemimpin yang dimuliakan Alloh sebagai pemimpin umat manusia, meskipun secara formal di dunia dia jadi pemimpin yang disanjung oleh keformalannya, bahkan lebih dari itu pemimpin yang zhalim harus dan diminta pertanggungjawabannya menghadapi pengadilan Alloh Yang Maha Kuasa dengan Ke MAHA-PERKASAANNYA. Wallohualam bish showab.

Maha Benar Alloh Yang Maha Agung dengan segala firman-Nya.

Astaghfirullohal azhim

Allohumma shol’ala muhammad

رَبَّنَا آمَنَّا بِمَا أَنْزَلْتَ وَاتَّبَعْنَا الرَّسُولَ فَاكْتُبْنَامَعَ الشَّاهِدِينَ

Ya Alloh, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan telah kami ikuti rasul, karena itu masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi (tentang keesaan Allah). Aamiin

YOUR REACTION?

Facebook Conversations