Oleh : Ustadz Zarochman
Aktivis dakwah Semarang

Ujian Tauhid Nabiyulloh Ibrahim dan Ismail Sebagai Figur Seorang Ayah dan Anak Patut Menjadi Keteladanan Umat

بِسْــــــــــــــــــــــمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم

“Allohu Akbar, Allohu Akbar, Allohu Akbar“ ucap Malaikat Jibril sambil menggiring domba yang diperintah Alloh untuk menggantikan jasad tubuh Nabiyulloh Ismail ‘Alaihissallaam yang seberapa detik lagi disembelih oleh ayahnda tercintanya Nabiyulloh Ibrahim, lalu disambut denga jawaban oleh Nabiyulloh Ibrahim ‘Alaihissallaam, “La ilaha ilallohu wallohu Akbar”, lalu diteruskan dengan ucapan jawaban Nabiyulloh Ismail ‘Alaihissalam, “AllohuAkbar  wa lillaahil hamdu”.

Sekelumit dialog yang menjadi rangkuman kalimat talbiyah dengan ketauhidan yang sangat mulia, sehingga kalau digabung menjadi KALIMAT TAKBIR mengangungkan Alloh Subhanallohu Wa Ta’ala  berkenaan dengan ketaatan yang tulus dengan keteguhan menjalankan amal tak lengkang oleh godaan syaithan kepada dua sosok hamba mulia yang patut menjadi keteladanan sepanjang zaman, hingga diabadikan dengan ritual ibadah wukuf di Aarofah sebagai syarat utama menunaikan ibadah haji dan bertepatan hari tengah dilakukan oleh umat muslim sedunia. Sebagaimana firman Alloh Ta’ala dalam QS. Ash-Shoffat 102,

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىفِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْمَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup), berusaha bersama-sama Ibrahim Alaihissalam, Ibrahim berkata, "Wahai anakku! sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelih mu, Maka pikirkanlahApa pendapatmu?", Ia menjawab, "Wahai Ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, In sya Alloh engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar".

Taqwa ! Ya, hanya Ketaqwaan : tunduk, taat dan patuh terhadap apapun perintah Alloh Subhanallohu wata’ala!

Kisah tentang ketaatan Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam dan Nabi Ismail ‘Alaihissalam terhadap perintah Alloh Subhanahu Wa Ta'ala disarikan dari buku "Muhammad teladanku...”

Saat itu adalah pagi hari, maka setelah terjadi dialog seorang bapak dengan seorang anak satu-satunya yang sangat disayang itu, NabiI brahim Alaihissallaam memeluk Ismail erat-erat dengan penuh haru. "Ayah mencintaimu, Nak!, Ayah bangga kepadamu." Nabi Ibrahim Alaihissallaam membawa Ismail jauh dari rumah. 

Ketika sampai di tempat dia akan disembelih, Ismail berkata, "Ayah jangan ragu, lakukanlah perintah Alloh Subhanahu WaTa'ala ini. Kalau ayah akan menyembelihku, ikatlah aku kuat-kuat, agar ayah tidak terkena darahku. Aku takut darahku mengotori bajumu, sehingga pahalaku berkurang. Ayah, jangan ragu jika melihat aku gelisah. Karena itu, tajamkanlah parang Ayah agar dapat memotongku sekaligus. Telungkupkanlah wajahku, Ayah, jangan dimiringkan. Aku khawatir ayah bisa melihat wajahku dan merasa iba,nsehingga Ayah jadi ragu melaksanakan perintah Allah. Kalau Ayah merasa bajuku dapat menghibur Ibu berikanlah baju ini kepada Ibu". "Anakku", bisik Nabi Ibrahim Alaihissalam,"ketabahan mu menguatkan ketabahan Ayah".

Ketika Nabi Ibrahim Alaihissallaam akan menyembelih puteranya, Alloh Subhanahu Wa Ta'ala mengganti Ismail dengan seekor domba yang besar disertai panggilan, "Hai Ibrahim!, engkau telah melaksanakan mimpii tu". Nabi Ibrahim Alaihissalam dan Ismail bersujud penuh syukur. Mereka telah membuktikan bahwa mereka amat mencintai Alloh Subhanahu Wa Ta'ala melebihi segalanya. Subhanalloh!!!

Tamsil yang dicontohkan Ismail Alaihissallaam tatkala mendengar perintah ayahnya untuk menyembelih dirinya merupakan mujahadah yang sangat besar. Betapa ia lebih mementingkan kepentingan Alloh Subhanahu WaTa'ala dari pada kepentingan dirinya. Demikian pula Nabi Ibrahim Alaihissallaam, dia pun lebih mencintai Alloh Subhanahu Wa Ta'ala dari puteranya Ismail yang amat disayanginya itu. 

Pembelajaran penting dari kisah perjalanan Ibrahim dan Ismail yang masih sangat relevan untuk kita teladani saat ini adalah hasil pengorbanan melawan untuk menundukkan hawa nafsu berupa sikap sabar, ta'at dan ikhlas yang diwujudkan dalam sikap keteguhan keduanya: Ibrahim dan Ismail Alaihissalam lebih mengutamakan mencintai Alloh Subhanahu Wa Ta'ala diatas segalanya yang patut diteladani, dan inilah puncak testimoni ibadah haji wukuf di arofah yang menjadikan keteguhan pengamalan kelak selanjutnya bagi seluruh umat manusia yang beriman, terlebih para jema'ah haji sekembalinya usai menunaikan peribadatan haji di tempat masing-masing. Subhanalloh !!!

Astaghfirullohal azhim

Allohumma shol’ala muhammad

رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُالدُّعَاءِ

Ya Alloh, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa, Aamiin

YOUR REACTION?

Facebook Conversations