Syaikh Abdul Aziz bin Baz. menasihati, 'tentang patuh pada konsekuensi yg dikandung oleh makna kalimat tauhid, yaitu dengan hanya menyembah Allah semata, mematuhi syariatNya, mengimani dan meyakini bahwa syariatNya adalah benar.

Oleh: Ust. Zarochman

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Ayyuhal ikhwanul mukminun rohimahulloh,

Keta'atan yang ma'ruf merupakan konsistensi keta’atan dalam kebaikan yang bersumber hukum atau ketetapan Alloh sesuai dengan kewajiban menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya (taqwalloh). Hal ini sesuai dengan perjanjian orang-orang beriman kepada Alloh untuk menta’ati-Nya (akidah-syari’ah-ibadah), sebagai amaliahnya, sebagaimana firman-Nya,

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu” QS. Al-Maidah :1.

Sebelum peringatan perjanjian itu difirmankan Alloh Ta’ala sewaktu di Alam Arwah dahulu semua Roh Manusia sudah mengadakan dialog atau perjanjian dengan Alloh adalah agar seseorang jangan sampai lengah terhadap fitroh tauhid yaitu keesaan Alloh. Sebagaimana firman Alloh Subhanallohu wata’ala, 

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”. Surat al-A'raaf : 172.

Jadi, dari bagian akhir ayat diatas, disebutkan bahwa kelengahan manusia keturunan Adam adalah lengah terhadap fitroh tauhid yaitu keesaan Alloh. Fitroh tauhid ini mengakui dan mengamalkan konsekuensi ketaatan kepada Alloh sebagai Tuhan, Pencipta, dan Penguasa seluruh ciptaan-Nya termasuk umat manusia. Konsekuensi tauhid adalah selalu beribadah hanya karena dan untuk Alloh, sebagaimana firman-Nya,

إِنِ الْحُكْمُ إِلا لِلَّهِ أَمَرَ أَلا تَعْبُدُوا إِلا إِيَّاهُ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ

"Tidak ada hukum selain hukum Allah, Dia memerintahkan agar kalian tidak beribadah kecuali kepada-Nya, itulah agama yang lurus, namun kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Yusuf: 40)

Syaikh Abdul Aziz bin Baz. menasihati, 'tentang patuh pada konsekuensi yg dikandung oleh makna kalimat tauhid, yaitu dengan hanya menyembah Allah semata, mematuhi syariatNya, mengimani dan meyakini bahwa syariatNya adalah benar. Jika dia mengucapkan kalimat tauhid namun enggan menyembah Allah semata, tidak mematuhi syariatNya bahkan menyombongkan diri, sebagaimana kesombongan Iblis dan yg semisal dengannya. maka ia tidaklah teranggap sebagai muslim. Sedemikian itu agar manusia tidak mengingkari pengakuan/kesaksiannya, sehingga dapat dijalani dengan istiqomah, berislam secara sepenuh hati, ALJAADIYAH, bukan separuh hati melainkan KAAFFAH, sehingga aqidah– ibadah-syariah menjadikan satu kesatuan amaliah. 

Orang yang beriman sepenuh hati adalah semisal amal menegakkan sholat untuk mencegah perbuatan keji dan munkar, ketika dalam shalat jari tangannya menunjuk La ilaha illalloh maka ketika diluar shalat selalu berpegang hukum Alloh dalam setiap mengerjakan amalannya. Demikian pula lisannya tetap terjaga, baik ketika berdoa dalam shalat maupun ketika berperilaku diluar shalat dengan selalu ingat dan mohon ampun kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala dan menjalankan hukum Alloh mengikuti Al-Qur'an dan As-Sunnah. Hanya manusia yang demikian diabadikan oleh Alloh Subhanahu wa ta'ala sebagai orang istiqomah, sepenuh hati akan mendapatkan pertolonganNya di dunia dan di akhirat.    

Ayyuhal ikhwanul mukminun rohimahulloh. Sikap ta'at yang istiqomah dari para kaum Mukminin rohimahulloh menjadi kekuatan mematuhi Alloh Subhanallohu Watabarokah Ta'ala dan Rosul-Nya, seharmonis dengan kekuatan mematuhi kepada ajaran Islam yang bersumber kepada Al-Qur'an dan Sunah. Hal ini dipertegas oleh firman Alloh dalam QS. An-Nur : 51 - 52,

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ. وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَخْشَ اللَّهَ وَيَتَّقْهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ  

"Hanya ucapan orang-orang mukmin, yang apabila mereka diajak kepada Alloh dan Rosul-Nya agar Rosul memutuskan (perkara) diatara mereka (diantara sesama kaum muslimin, dan antara kaum muslimin dengan yang bukan muslimin), mereka berkata, 'Kami mendengar dan kami taat', Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan barang siapa taat kepada Alloh dan Rosul-Nya, serta takut kepada Alloh dan bertaqwa kepada-Nya, mereka itulah orang-orang yang mendapat kemenangan". Orang-orang yang mendapat kemenangan itulah orang-orang yang menang dengan memperoleh segala kebaikan dan aman dari segala keburukan di dunia dan di akhirat. 

Maha Benar Alloh Yang Maha Agung dengan segala firman-Nya.

In syaa Alloh diteruskan pada bagian (2)

Astaghfirullohal azhim

Allohumma sholi 'ala muhammad,  

Ya Alloh, kami mohon kepada-Mu kebaikan semua doa yang pernah diminta oleh hamba dan nabi-Mu, dan kami berlindung kepada-Mu dari keburukan, yang hamba dan nabi-Mu pernah berlindung darinya

Ya Alloh, lindungi kami selalu dalam keta'atan yang ma'ruf. Aamiin.

Sendang Indah, Semarang, Sabtu 30 Mei, 7 Syawal 1441 H

YOUR REACTION?

Facebook Conversations