Oleh: Maman El Hakiem
Bag.3

Hal yang wajar bagi seorang istri, jika hari-hari terasa jenuh bila suami tidak begitu perhatian. Apalagi dihadapkan dengan segala kebutuhan keluarga yang semakin meningkat.

Biaya pendidikan anak-anak  setiap awal bulan terasa berat, terutama  Dika anak sulung yang mondok di pesantren. Adiknya Dita tahun ini mau masuk SMP, begitupun si bungsu yang akan masuk usia pendidikan dini.

Terbersit di hati Sumaya untuk mengutarakan masalah keluarganya kepada saudara-saudaranya. Tetapi, segera ia menyadari bahwa ketaatan pada suaminya adalah hal yang lebih di utamakan.  Maka, apalagi Rizal sekalipun ia merasakan sosok yang sampai saat ini susah dilupakan, tetapi itu hanyalah perasaan wanita yang sering muncul karena sikap suami yang acuh.

“Dik, jika ada masalah yang berat jangan sungkan-sungkan bicara saja. Meskipun kita tidak berjodoh, namun mau sekedar membantu kesulitanmu.” Pesan tersebut datang dari Rizal sebelum akhirnya Sumaya menutup nomer kontaknya karena tidak mau terbawa perasaan dengan masa lalunya.

“Bun...kok papa belum pulang juga ya?” Tanya si bungsu Dela yang memang malam itu matanya belum terpejam.

“Belum sayang...ayo tidur aja, nanti pas bangun papa bawa mainan baru.” Jawab Sumaya menghiburnya, meskipun hatinya merasa bersalah karena berbohong, jangankan bawa ole-ole buat anaknya, Kardani suka pulang larut malam dengan marah-marah. Jika disapa, malah bilangnya, “Istri tahu apa, suami pulang malam itu untuk anak-anak juga.” 

Sungguh bagi Sumaya perkataan itu sangat membuatnya luka hati, usaha kerasnya membantu penghasilan suami selama ini seolah tidak pernah dihargainya. Hal inilah yang membuat hatinya mulai goyah, jika tidak ingat anak-anak rasanya ingin berpisah, tetapi ia menyadari bahwa meminta cerai tanpa alasan yang dibenarkan sangatlah tercela bagi seorang istri. Sumaya masih beruntung masih sering menyimak kajian keislaman, sehingga tahu mana perkara yang dilarang dalam agama.

“Bersabar sajalah  jika rumah tangga diuji dengan masalah.” Pesan yang selalu diingat saat di acara kajian ibu-ibu di komplek perumahan tempat tinggalnya.

“Bagi seorang istri, menjaga kehormatan seorang suami adalah kewajiban, sekalipun ada perkara yang membuat hati wanita tersakiti.” Sungguh bagi Sumaya kesibukannya di acara kajian telah banyak memupuk hatinya untuk tetap tegar.

Malam semakin larut, jam di dinding menunjukan hampir pukul 23.00. Namun, Kardani suaminya belum juga pulang ke rumah. Hatinya mulai harap cemas, sekalipun diperlakukan kasar, tetapi jika terjadi apa-apa pada suaminya  tentu ia tidak rela, terlebih pergaulan di kota banyak yang sering mengancam jiwa.

“Semoga mas Kardani baik-baik saja, meskipun hati ini tidak seperti biasanya, merasa was-was, padahal pulang larut malam pun sudah biasa.” Pikir Sumaya yang tampak gelisah. Hati wanita sangat sensitif, sekalipun terluka tetapi akan selalu merindukan suaminya dan menjaganya dengan doa terbaiknya.

(Bersambung).

YOUR REACTION?

Facebook Conversations