Oleh: Desi C Sari
Ibu Rumah Tangga

Pernikahan yang dibangun atas ketidak pahaman syariah akan selalu melahirkan prahara. Jatuh cinta dari paras mempesona atau penampilan yang menarik. Kemudian harta yang terlihat. Hanya fatamorgana yang sifatnya bayang-bayang. Sementara dan sangat menipu.

Faktanya, sejak tahun 2015. Angka perceraian terus naik hingga tahun 2019 mencapai angka 480.618 kasus. (Merdeka.com)

Bukan angka yang sedikit. Bahkan nyaris mendekati satu per empat jumlah populasi penduduk yang ada di Indonesia. Hal ini menggambarkan bahwa ketahanan keluarga sangat rentan. Mudah terombang-ambing dan diporak-porandakan.

Tanpa pemahaman kuat tentang akidah yang benar. Tegaknya suatu ikatan halal bernama pernikahan harusnya berlandas pada ahlak. Dan ahlak hanya didapat dari ajaran agama. Sebagai keluarga muslim, kebutuhan akan pengetahuan syariah islam menjadi persoalan mendesak di tengah gempuran dasyat akidah sekuler. Yang selalu memisahkan urusan agama dengan kehidupan sehari-hari.

Sikap yang lahir dari pemisahan ini selalu berorientasi pada asas manfaat. Banyak yang memahami bahwa jatuh cinta adalah persoalan pertama yang harus ada untuk membangun suatu rumah tangga. Menjadikan banyak pria dan wanita dari segala kalangan usia maupun status sosial. Berlomba-lomba menampakkan jati diri, keelokan tubuh, atau potensi yang dimiliki dalam dirinya. Dalam rangka, menarik perhatian lawan jenis.

Kebutuhan akan pemuasan naluri melestarikan diri yang tidak sejalan dengan aturan Pencipta. Melahirkan banyak rasa cemas dan keresahan. Jika tidak dalam koridor syariah, maka kesan menyepelekan pentingnya ahlak dalam membangun hubungan suami dan istri menjadi sangat riskan. Mudah sekali goyah. Suami yang sikapnya dominan menguasai rumah tangga dengan logika sehingga sering bersikap dingin, sedangkan wanita yang sikapnya menggunakan perasaan akan sering berdrama. Tidak akan ada titik temu yang menyatukan. Jika kedua insan menyatukan rasa berawal dari terbangunnya hawa nafsu semata.

Untuk itu, wawasan tentang pentingnya akidah dan ahlak harusnya sudah didapat oleh pria dan wanita sebelum memulai bahtera rumah tangga. Agar menjadi modal awal membangun rasa dua insan. Dahulukan cinta kepada Allah SWT. Yang sering menjadi salah kaprah anak muda tentang jatuh cinta. Cinta terhadap lawan jenis di luar aturan pernikahan, justru terbukanya gerbang awal godaan syetan.

Rasullullah Saw adalah tauladan terbaik sepanjang jaman. Nabi Muhammad Saw adalah sosok suami idaman. Beliau banyak mencontohkan perjalanan rumah tangga yang penuh hikmah. Membangun pernikahan dengan ahlak mulia. Dan menjadikan syariah sebagai landasan penguat tegaknya kepemimpinan dalam rumah tangga. Bersikap adil dan penyayang melahirkan kondisi rumah penuh cinta. Tidak mudah tergoyahkan. Sebab Rasulullah Saw bersikap arif dan bijak dalam menyelesaikan segala persoalan rumah tangga bersama istri-istrinya.

Tergambar dari sikap beliau merawat hubungan penuh cinta. Ketika masakan Aisyah RA asin. Beliau justru menyanjungnya dengan tidak berkomentar lain hingga menghabiskan makanan. Aisyah RA juga pernah cemburu lantaran Rasulullah menceritakan sosok bunda Khadijah RA istri pertama nabi. Namun dengan sangat manis Rasulullah dapat mengubah bara api cemburu Aisyah RA menjadi cinta penuh kehangatan. Begitulah ahlak beliau dalam perannya sebagai seorang suami. Seluruh kehidupan Nabi selalu taat dengan aturan Allah SWT. Artinya, syariah menjadi landasan beliau dalam mengambil sikap.

Sungguh mulia amalan beliau. Gambaran keluarga yang menjadi idaman banyak orang, kini hanya sebatas mimpi. Keluarga yang taat dan selalu sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an. Namun sangat disayangkan. Fakta yang terjadi di tengah masyarakat justru kebalikan. Tidak ada lagi contoh sikap Rasulullah yang dapat menjadi panutan. Ketidak pahaman masyarakat muslim akan ajarannya sendiri menjadi bumerang yang siap menyikut persoalan dengan amburadulnya.

Keluarga muslim yang dibangun di atas sistem sekuler, tak mampu tegak mempertahankan diri. Apabila segudang masalah menghampiri, baik dari segi ekonomi, sikap pasangan, anak, dan lain-lain. Mudah rapuh dan putus asa hingga perceraian menjadi jalan tengah. Solusi yang dianggap menyelesaikan segala permasalahan.

Ketidakpahaman masyarakat akan pentingnya akidah islam sungguh sangat ironi. Umat muslim justru jauh dari ajarannya sendiri. Al-qur’an bukan lagi menjadi pedoman kehidupan. Kesadaran masyarakat sangat minim dalam mengenal islam secara menyeluruh. Bahkan untuk mempelajari agamanya sendiri menjadi sangat ketakutan. Phobia dengan istilah radikal. Yang sudah sejauh ini digaungkan sangat kencang sebagai paham radikalisme.

Kaidah ini menjadi fokus kita bersama. Bahwa sebagai muslim yang ingin taat syariah seharusnya tidak perlu takut mengambil sikap selama apa yang dipelajari bersumber pada Al-qur’an dan As-sunnah Nabi Muhammad Saw. Persoalan paham ini memang bukan pekerjaan yang mudah untuk dikerjakan sendiri. Sebab implementasi syariah tidak cukup hanya diterapkan pada pribadi individu. Syariah bukan untuk diemban oleh satu orang saja, melainkan hingga ke tatanan daulah. Negara yang menggunakan syariah sebagai pedoman hidup. Insyaallah akan memudahkan umatnya dalam mengenal, mempelajari, memahami dan mangamalkan ajaran islam. Bukan malah menjauhkan umat islam dari ajaran agamanya dengan sebutan radikal.

Oleh sebab itu, mempelajari ilmu syariah secara menyeluruh menjadi wajib adanya. Supaya seorang muslim baik pria maupun wanita dapat berkepribadian islam dengan kokoh dan konsisten. Tidak mudah terpengaruh dengan akidah asing yang menyesatkan. Dapat menerapkan sikap bijak dan arif di tengah keluarga dan masyarakat. Mendahulukan ridha Allah Swt sebagai pencapaian tertinggi. Melahirkan generasi yang paham dan taat syariah. Hingga ketahanan keluarga menjadi tegak tidak mudah roboh.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations