Di dunia mencapai 1 miliar penduduk dunia kurang pangan dan sementara di Indonesia sekitar 22 juta orang lebih dan ini akan bertambah dua kali lipat di tengah wabah virus corona.
skynews

Oleh: Umi Rizkyi (Komunitas Setajam Pena)

Sejak di penghujung tahun 2019 hingga kini, wabah yang disebabkan oleh virus corona semakin hari semakin luas dan penyebarannya pun semakin menggila. Setiap hari puluhan hingga ratusan orang meninggal dunia akibat virus corona ini. Kondisi pandemi ini tiada satupun pihak yang tahu, kapan akan berahkir.

Dirilis dari tempo.co.id (23/4/2020), lembaga dunia World Food Program menyatakan "Masyarakat dunia menghadapi ancaman kelaparan besar-besaran dalam beberapa bulan lagi, akibat pandemi virus corona."

135 juta orang menghadapi ancaman kelaparan, ini akan bertambah dua kali lipat yaitu mencapai 270 juta orang. Bencana pangan ini bisa terjadi di 55 negara. Eksekutif Direktur WFP David Beasley mengatakan, "Ada 10 negara yang telah menjalani kelaparan dan menimpa sekitar satu juta warga" .

"Semangat menangani pandemi  virus corona kita juga berada di tepi jurang pandemi kelaparan. Ada bahaya nyata bahwa banyak orang yang meninggal dunia akibat kelaparan, buruknya ekonomi akibat wabah virus corona dari pada akibat terinfeksi virus corona." Kata Beasley kepada Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa Bangsa/PBB seperti yang dilansir Cnn Indonesia, Rabu 22/4/2020.

Adapun negara yang menduduki peringkat terburuk terkena ancaman kelaparan, yaitu Yaman, Kongo, Afganistan, Suria, Ethiopia, Sudan Selatan, Nigeria dan Haiti.

Hal yang serupa juga terjadi di negeri kita tercinta ini, Indonesia. Ketahanan dan ketimpangan pangan di Indonesia sangat lemah akibat sikap abainya negara untuk mewujudkannya. Ini disebabkan karena; pertama, sumberdaya pangan di Indonesia didominasi impo. Hal ini pula yang memicu kartel dan mafia pangan semakin liar.

Kedua, sarana dan prasarana yang tidak memadai. Di mana seperti yang telah terjadi, tol laut tidak berjalan sebagaimana mestinya. Ketiga, gaya hidup sosialita yang terjadi dikalangan para pejabat daerah dan juga kakunya otonomi daerah.

Itulah yang mengakibatkan jurang ketimpangan sosial semakin curam dan juga mempersulit mekanisme subsidi silang antar wilayah. Ini dikarenakan akibat dianutnya sistem Kapitalisme yang menghasilkan ketimpangan kaya miskin pada level individu bahkan bangsa. Menumbuhkembangkan curamnya jurang pemisah antara yang kaya dan miskin.

Bahkan tidak menutup kemungkinan, banyak rakyat yang mencuri karena kelaparan, tanpa memikirkan hal yang halal dan haram lagi. Yang penting kebutuhan pangan mereka terpenuhi.



YOUR REACTION?

Facebook Conversations