Oleh : Ust Zarochman
Aktivis Dakwah Semarang

ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً
(7)
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Menafkahkan harta untuk ketaqwaan

Ayyuhal ikhwah, banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang membahas pengertian tentang pilihan terhadap tujuan kehidupan, yakni untuk menuju kesenangan sementara di dunia atau kesenangan sempurna berupa kenikmatan hidup dunia dan akhirat. Dan takdir itu sesuai dengan usaha amal dengan pilihan dalam menetapkan tujuan hidupnya. 

Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari “ali bin AbiThalib Rodhiyallohu’anhu, dia berkata, ”Kami pernah bersama Rosululloh Sholallohu’alaihi wasallam di kuburan Baqi’ al-Gharqad untuk mengantar jenazah, beliau bersabda, ‘Tidak ada seorangpun diantara kalian melainkan telah ditetapkan tempat duduknya di Surga dan tempat duduknya di Neraka’” ParaSahabat bertanya, ”Wahai Rosululloh, kenapa kita tidak pasrah saja?” Beliaupun menjawab, ’Beramallah kalian, karena masing-masing akan diberikan kemudahan menuju kepada apa yang diciptakan untuknya.’ Setelah itu beliau membaca ayat QS. Al-Lail : 5 -10,

فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى. وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى. فَسَنُيَسِّرُهُلِلْيُسْرَى. وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَى. وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَى. فَسَنُيَسِّرُهُلِلْعُسْرَى.

”Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertaqwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar.” 

Dalam Kitab Tafsir Ibnu Katsir diterangkan bahwa menurut Ibnu Jarir ayat QS. Al-Lail 5-7 turun berkenaan dengan Abu Bakar. Asbabunnnuzul ayat tersebut dalam hadits yang diriwayatkan Al-Hakim diterangkan, ”Abu Bakar memerdekakan kaum papa dan kaum wanita jika mereka masuk Islam. Ayahnya melihatnya dan bertanya kepadanya, lalu Abu Bakar menjawab, bahwa ia hanya mengharapkan apa yang ada disisi Alloh. Kemudian turunlah ayat ini.” 

Jadi, siapa saja yang menafkahkan hartanya untuk ketaqwaan kepada Alloh dengan meyakini hari Perhitungan dan Pembalasan dalam setiap perbuatan, niscaya Alloh Subhanallohu Wata’ala akan menunjukinya jalan kebaikan dan jalan yang tepat, lurus, benar, dan Alloh Subhanallohu Wata’ala juga akan memudahkan urusannya. Bahkan bagi orang yang paling bertaqwa yang paling menjaga diri dalam kebenaran (siddiq) dengan membelanjakan hartanya dalam keta’atan kepada Robb-nya untuk mensucikan diri, harta dan apa yang dianugerahkan oleh Alloh Subhanallohu Wata’ala kepadanya berupa dunia dan agama. Sebagaimana firman-Nya,

وَسَيُجَنَّبُهَا الأتْقَى. الَّذِي يُؤْتِي مَالَهُ يَتَزَكَّى.

”Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya,” QS. Al-Lail : 17-18. 

Orang yang paling taqwa berkaitan dengan turunnya ayat itu menurut hadits yang diriwayatkan Ibnu Abi Hatim dari Urwah juga berkaitan dengan peristiwa ketika Abu Bakar Siddiq telah memerdekakan 7 (tujuh) hamba sahaya yang sebelumnya mereka ini disiksa karena menganut agama Alloh. Sebuah amalan infaq yang tulus termasuk untuk membela agama Alloh sehingga ketika membelanjakan hartanya yang diteladankan oleh Abu Bakar Siddiq benar-benar tulus dalam ketaatan dan dia tidak mengeluarkan hartanya itu sebagai balasan bagi orang yang telah berbuat baik kepadanya dan yang ia berikan hartanya itu kepada hamba sahaya yang ditolong karena mempertahankan keislamannya itu sebagai imbalan atasnya. 

Dan niat atau dorongan memberikan hartanya itu demi meraih ridho Alloh semata. Sehingga yang demikian ini akan dijauhkan dari neraka karena keinginan keras untuk bisa melihat atau bertemu Alloh di akhirat kelak di Taman-taman Surga. Sebagaimana Alloh Subhanallohu Wata’ala berfirman pada ayat berikutnya,

وَمَا لأحَدٍ عِنْدَهُ مِنْ نِعْمَةٍ تُجْزَى. إِلا ابْتِغَاءَوَجْهِ رَبِّهِ الأعْلَى.

”yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, padahal tidak ada seorang pun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya,” QS. Al-Lail : 19 -20

Keikhlasan sebagaimana diterangkan diatas dengan diteladankan oleh Abu Bakar Siddiq yang dinilai jujur dalam keimanannya akan bisa ditiru oleh siapapun yang mempunyai niat lurus (shohihul qosdi), sehingga keikhlasan yang demikian ini Alloh akan menjamin diterima sehingga pelakunya mendapat kepuasan dengan ridho-Nya. Sebagaimana firman-Nya,

وَلَسَوْفَ يَرْضَى

”Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan.”  QS. Al-Lail : 21. 

Sedemikian rahmat dariAlloh yang Alloh sendiri menjamin terhadap orang yang ikhlas untuk dan karena ingin memperoleh ridho-Nya akan diberi kesenangan yang memuaskan. Dalam Kitab ash shahihain Rosululloh bersabda, ”Barang siapa menginfakkan sepasang harta dijalan Alloh, maka Malaikat penjaga Surga akan memanggilnya, ‘Wahai hamba Alloh’ yang demikian itu  sangatlah baik.” Kemudian Abu Bakar bertanya, ”Wahai Rosululloh, siapa yang dipanggil darinya dalam keadaan darurat, apakah akan dipanggil seseorang darinya secara keseluruhan?” Beliau menjawab, ”Ya, dan aku berharap engkau termasuk salah seorang diantara mereka”. Muttafaq ‘alaih. 

Jadi orang jujur dalam ketaqwaan dengan manafkahkan hartanya atau amalan-amalan lainnya untuk menolong agama Alloh sesuai syari’ah maka niscaya Alloh akan memberikan Surga yang dikehendaki-Nya. Inilah kepuasan yang diridhoi Alloh sebagai kesenangan yang sempurna lagi kekal. Maha Benar Alloh Yang Maha Agung dengan segala firman-Nya..

Astaghfirullohalazhim

Allohumma sholi’ala Muhammad, wa’ala alihi muhammad

Ya Alloh, kami mohon pemberian rahmat dari sisi Engkau sebagai hamba yang Istiqomah dalam keimanan, mencintai sesama saudara seiman, mohon taufiq-Mu persatuan persaudaraan diantara hamba-Mu Yang Engkau Rahmati dengan Iman dan Taqwa

Ya Alloh, jadikan umur terbaik hamba di penghujungnya.

Ya Alloh, jadikan amal terbaik hamba di penutupnya.

_Ya Alloh, jadikan hari-hari terbaik hamba saat bertemu dengan-Mu di Surga-Mu _

Aamiin

YOUR REACTION?

Facebook Conversations