Oleh : Ust Zarochman
Aktivis Dakwah Semarang

ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً

(6b)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Nafsu kesenangan dunia bisa jauhi kesenangan akhirat

Usaha amal akibat pilihan dalam menetapkan tujuan hidupnya yang lebih cenderung mengejar kesenangan dunianya dan abai terhadap urusan akhiratnya adalah produk nafsu yang tidak dirahmati Alloh, sehingga dijauhkan dari petunjuk wahyu Alloh, sedangkan Alloh telah mempertegas bahwa kebenaran itu datangnya dari Alloh sehingga hak Alloh lah yang menerangkan jalan yang lurus, sebagaimana firman-Nya,

وَعَلَى اللَّهِ قَصْدُ السَّبِيلِ وَمِنْهَا جَائِرٌ وَلَوْ شَاءَلَهَدَاكُمْ أَجْمَعِينَ

”Dan hak bagi Allah (menerangkan) jalan yang lurus, dan diantara jalan-jalan ada yang bengkok. Dan jikalau Dia menghendaki, tentulah Dia memimpin kamu semuanya (kepada jalan yang benar).” QS. An-Nahl : 9. 

Dalam penjelasan tafsir Al-Muyassar dari ayat ini dijelaskan, ”Dan hak Alloh untuk menjelaskan jalan yang lurus sebagai petunjuk bagi kalian, yaitu agama Islam. Diantara jalan-jalan itu ada yang bengkok yang tidak dapat menyampaikan kepada petunjuk, yaitu segala sesuatu yang bertentangan dengan ajaran Islam. Sekiranya Alloh menghendaki memberi hidayah kepada kalian tentu Dia telah memberi petunjuk kepada kalian semua kepada keimanan.” (Syaamil Al-Qur’an). 

Jadi usaha amal ada pada individu dalam menetapkan tujuan hidupnya, apakah mengikuti petunjuk Alloh (wahyu) yaitu ajaran Islam, atau mengikuti nafsu yang cenderung kepada kemaksiatan itu, sebagaimana firman-Nya,

وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لأمَّارَةٌ بِالسُّوءِإِلا مَا رَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ

”Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Jadi ayyuhal ikhwah, usaha amal akibat pilihan dalam menetapkan tujuan hidupnya diserahkan masing-masing, apakah cenderung mendekati wahyu dengan menjauhi nafsu (pilihan sesuai tujuan hidup dengan ketaqwaan), atau sebaliknya, dengan pilihan mendekati nafsu sehingga menjauhi dari petunjuk atau wahyu Alloh (pilihan sesuai tujuan hidup yang cenderung kepada kemaksiatan).

Lebih tegas lagi Alloh Subhanallohu WataborokaTa’ala menyatakan bahwa sesungguhnya Alloh menjamin untuk memberi karunia dan memutuskan petunjuk (hidayah) secara jelas yang halal dan yang haram kepada hamba-Nya sehingga bagi yang mentaatinya dijamin mengantar kepada Alloh dan Surganya. Dan segala sesuatu di dunia dan di akhirat adalah milik-Nya sehingga hanya Alloh yang berhak mengendalikannya. Seiring itu, maka Alloh Subhanallohu Wataboroka Ta’ala memperingatkan dengan api neraka yang berkobar-kobar. Sebagaimana firman-Nya,

إِنَّ عَلَيْنَا لَلْهُدَى. وَإِنَّ لَنَا لَلآخِرَةَ وَالأولَى.فَأَنْذَرْتُكُمْ نَارًا تَلَظَّى.

”Sesungguhnya kewajiban Kami-lah memberi petunjuk, dan sesungguhnya kepunyaan Kami-lah akhirat dan dunia. Maka Kami memperingatkankamu dengan neraka yang menyala-nyala.” (QS. Al-Lail : 12 – 14.)

Ayyuhal ikhwah, Diantara sebagian besar manusia di akhir zaman memilih mengejar kesenangan dunia-nya sebagai kecenderungan usaha amalnya sehingga akan dimudahkan kepada kesulitan dengan siksaan pedih di akhiratnya kelak. Dan Alloh akan menempatkannya dalam neraka mulai dari yang paling ringan hingga yang paling berat. Dalam Kitab Tafsir Ibnu Katsir diterangkan hadits yang diriwayatkan Al-Bukhari, Rosululloh Sholallohu ‘alaihi wasallam bersabda, ”Sesungguhnya penghuni neraka yang paling ringan siksaannya adalah orang yang pada kedua telapak kakinya diletakkan dua bara api yang keduanya membuat otaknya mendidih”.

Selanjutnya dalam ayat berikutnya QS. Al-Lail :15 -16, Alloh berfirman,

لا يَصْلاهَا إِلا الأشْقَى. الَّذِي كَذَّبَ وَتَوَلَّى.

”Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka, yang mendustakan (kebenaran) dan berpaling (dari iman).”  Ayat ini diterangkan dalam Kitab Tafsir Ibnu Katsir, bahwa tidak ada yang memasukinya dengan dikepung api dari semua penjuru melainkan orang yang paling celaka, yaitu orang yang mendustakan dengan hatinya (menentang keimanan kepada Alloh dan Rosul-Nya) dan berpaling dari beramal dengan seluruh anggota tubuhnya dan anggota badannya (tidak serta-merta mentaati kewajiban menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya). 

Dalam kisah lain diterangkan tentang ”Jubbul Huzni,” adalah salah satu makhluk Alloh dilembah neraka Jahanam, yang Neraka Jahanam sendiri setiap hari berdoa 400 kali memohon agar dilindungi dari pergolakan ”Jubbul Huzni.” Oleh karena itu Rosululloh Sholallohu ‘alaihi wasallam sendiri ketika diberi-tahu tentang ”Jubbul Huzni”, lalu berdo’a, ”Ya Alloh, semoga umatku jangan sampai berurusan dengan ‘Jubbul Huzni’”.

Kemaksiatan yang melanda umat akhir zaman yang berebut kesenangan dunianya tergolong enggan yakni jauh dari rasa keikhlasan beribadah kepada Alloh atau beribadah dengan mempermainkan Alloh (tidak fokus atau tidak sungguh-sungguh) maka Alloh memperingatkan terhadap orang yang demikian itu tidak masuk Surga. Sebagaimana sabda Beliau, Rosululloh Sholallohu ‘alaihiwasallam, ‘Setiap umatku akan masuk Surga di hari Kiamat kelak, kecuali orang yang enggan.’ Para Sahabat bertanya ’Siapakah orang yang enggan itu, wahai Rosululloh?’ Beliau menjawab, ’Barang-siapa mentaatiku maka dia akan masuk Surga, dan barangsiapa bermaksiat kepadaku berarti ia telah enggan’. (HR Al-Bukhari).

Maha Benar Alloh dengan segala firman-Nya.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations