Oleh : Ust Zarochman
Aktivis Dakwah Semarang

Pilihan kemudahan pada kesenangan dunia jauhi kesenangan akhirat.

Ayyuhal ikhwah, sesungguhnya Alloh ’Azza wajalla telah bersumpah sekaligus mengingatkan manusia yang diberi bermacam-macam usaha untuk mendulang hartanya.

Sumpah Alloh adalah demi malam ketika menutupi makhluk dengan kegelapannya, demi siang ketika gelap lenyap oleh cahaya dan sinarnya, dan demi makhluk manusia ciptaan-Nya dari dua jenis yang terdiri dari pria dan wanita yang berpasangan, maka sesungguhnhya harta hasil usahanya itu berbeda-beda antara untuk kehidupan dunia dan untuk kehidupan akhirat, sehingga berbagai amal perbuatan para hamba-Nya saling berlawanan, ada yang berbuat kebaikan dan juga berbuat keburukan, sebagaimana firman-Nya,

وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى. وَالنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّى. وَمَاخَلَقَ الذَّكَرَ وَالأنْثَى. إِنَّ سَعْيَكُمْ لَشَتَّى.

Demi malam apabila menutupi (cahaya siang), dan siang apabila terang benderang, dan penciptaan laki-laki dan perempuan, sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda (QS. Al-Lail : 1-4)

Orang dengan keikhlasan yang rendah cenderung hanya untuk kesenangan sementara dan singkat yaitu kesenangan dunia yang fana, sedangkan orang yang berjiwa iman dan taqwa dengan rasa keikhlasan yang dilandasi cinta karena dan untuk Alloh (hizbulloh) maka bisa meraih kesenangan dunia akhirat atau kesenangan yang sempurna. Tapi sayang ada bahkan sangat banyak yang hasil usaha dengan hartanya itu hanya untuk kehidupan dunia, sehingga mereka seakan tidak butuh pertolongan Alloh dan seakan harta yang dikuasainya itu sepenuh miliknya hanya untuk kesenangan hidup dunia atau setidaknya dia sudah merasa cukup berlebih dengan hasil usahanya itu, sampai-sampai mendustakan dirinya mengabaikan pada hari perhitungan dan hari pembalasan di akhirat kelak dan menutupi kegelapan hatinya yang jauh dari Alloh sehingga harta yang ia kikirkan itu tidak akan bermanfaat ketika ia telah binasa dan karenanya dimudahkan Alloh dengan kesulitan yakni disiksa di neraka. Sebagaimana firman-Nya,

وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَى وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَى. فَسَنُيَسِّرُهُلِلْعُسْرَى. وَمَا يُغْنِي عَنْهُ مَالُهُ إِذَا تَرَدَّى.

”Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar. Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa.” QS. Al-Lail : 8-11.

Bahkan dengan kebanggaan hartanya itu dia berpaling atau ingkar sehingga Alloh Ta’ala memberikan jalan keburukan lalu Alloh membiarkannya sesat yang sangat, sebagaimana pula dalam firman-Nya,

وَنُقَلِّبُ أَفْئِدَتَهُمْ وَأَبْصَارَهُمْ كَمَا لَمْ يُؤْمِنُوابِهِ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَنَذَرُهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ

”Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al Qur'an) pada permulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat.” (QS.Al-An’am : 110)

Jadi Ayyuhal ikhwah, banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang membahas pengertian tentang pilihan terhadap tujuan kehidupan antara pilihan dengan rasa keikhlasan yang menghasilkan kepuasan dengan langkah menuju kebaikan berupa taufiq untuk mencapai ridho Alloh sehingga dibalas dengan kesenangan yang sempurna yakni Surga-Nya atau sebaliknya, bahkan sebagian besarmalah pada pilihan tujuan kesenangan sesaat di dunia dengan berbuat sesuatu yang tidak ikhlas sehingga menjauhi rahmat Alloh menuju keburukan dengan balasan berupa kehinaan. Semuanya itu adalah sesuai dengan takdir akibat usaha amal dengan pilihan dalam menetapkan tujuan hidupnya. 

Wallohu’alam bish showab.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations