Dalam kapitalisme, kepentingan yang paling menonjol adalah uang dan kekuasaan. Maka apa yang terlahir darinya pasti untuk membela kepentingan sang pembuat aturan.

Oleh: Dyyah Pertiwi (Aktivis dan Pemerhati Remaja)

Tuntutan hukuman 1 tahun penjara bagi Rahmat Kadir dan Ronny Bugis, dua terdakwa penyerang penyidik senior KPK Novel Baswedan, mendapat kritik pedas dari berbagai arah.

Novel selaku korban dalam peristiwa ini menilai tuntutan ringan tersebut menunjukkan buruknya penegakan hukum di Indonesia karena norma keadilan diabaikan selama jalannya persidangan.

"Saya melihat ini hal yang harus disikapi dengan marah. Kenapa? Karena ketika keadilan diinjak-injak, norma keadilan diabaikan, ini tergambar bahwa betapa hukum di negara kita nampak sekali compang-camping," kata Novel dalam video yang diterima Kompas.com, Jumat (12/6/2020).

Komentar senada bermunculan dari masyarakat. Masyarakat mencibir dengan tuntutan yang dilayangkan jaksa kepada terdakwa. Dengan tuntutan 1 tahun penjara dengan pasal 353 Ayat (2) KUHP jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP tentang penganiayaan berat yang direncanakan terlebih dahulu, dengan alasan "Terdakwa hanya akan memberikan pelajaran kepada saksi Novel Baswedan dengan melakukan penyiraman air keras ke Novel Baswedan tapi di luar dugaan ternyata mengenai mata Novel Baswedan yang menyebabkan mata kanan tidak berfungsi dan mata kiri hanya berfungsi 50 persen saja artinya cacat permanen sehingga unsur dakwaan primer tidak terpenuhi," tambah jaksa.

Melihat perkembangan hukum Indonesia hari ini, ada ketidakadilan dalam penerapannya. Menjadikan hukum seperti boneka yang bisa dimainkan sesuka hati oleh tuanya.

Sebenarnya,  demokrasi kapitalisme  sedang menunjukkan wujud aslinya. Apa yang diharapkan masyarakat tentang keadilan sungguh hanya ilusi semata. 

Sejatinya demokrasi terlahir dengan asas memisahkan agama dari kehidupan (fasludin Anil hayat). Menjadikan Sang pembuat hukum adalah manusia itu sendiri. Padahal manusia adalah mahluk yang lemah dan tidak objektif. Setiap apa yang dipikirkan pasti atas dasar kepentingan masing-masing.

Dalam kapitalisme, kepentingan yang paling menonjol adalah uang dan kekuasaan. Maka apa yang terlahir darinya pasti untuk membela kepentingan sang pembuat aturan.

Sedangkan Islam sendiri terlahir dari Rabb semesta alam. Allah lah yang paling berhak membuat aturan untuk mengatur ciptaanya.

Allah turunkan Islam bukan hanya sebagai aturan ibadah ritual tapi juga aturan kehidupan sosial, politik dan hudud.

Islam telah jelas mengatur bagaimana hukuman yang adil untuk kasus seperti novel Baswedan.  

Dalam Islam, kasus novel Baswedan termasuk pada kategori jinayah. Sebab korban tidak mengalami kematian akan tetapi ia mengalami luka dan cacat. Dalam Islam, balasan pidana  adalah qishos, sebagai keadilan yang Allah tegakkan di muka bumi.  seperti yang sebutkan pada firman Allah Subhana wa taala :

 وَكَتَبْنَا عَلَيْهِمْ فِيهَا أَنَّ النَّفْسَ بِالنَّفْسِ وَالْعَيْنَ بِالْعَيْنِ وَالْأَنْفَ بِالْأَنْفِ وَالْأُذُنَ بِالْأُذُنِ وَالسِّنَّ بِالسِّنِّ وَالْجُرُوحَ قِصَاصٌ 

 

Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka luka (pun) ada qishashnya ( QS almaidah :45)



YOUR REACTION?

Facebook Conversations