Oleh: Desi Wulan Sari
Para Ayah, ibu, kakek, nenek, guru, dosen, dan seluruh kerabat malam ini (30/9) sedang berdoa memohon keselamatan anak-anak mereka yang hanya ingin berjuang menuntut keadilan para penguasa.
Foto: Pxabay

Jakarta, sang ibukota menjadi saksi perjuangan rakyat menghadapi kekuatan militer yang tidak sebanding dengan para mahasiswa dan pelajar yang hanya bermodal akal cemerlang dan keberanian untuk bersuara. 

Saat berhadapan tak ada tatapan kasih sayang, tak ada saling sapa mesra antara orangtua sang pelindung dengan anak sang objek kezaliman penguasa. Malah mereka melempar gas air mata dan tembakan-tembakan peringatan dari aparat yang sedang tegang dalam menghadapi sang pelajar dan mahasiswa. Mereka adalah kumpulan  kepasrahan terdalam akan nasib anak bangsa.

Harus berapa lagi korban yang berjatuhan. Lihatlah pak, mereka anak-anakmu, mereka penerusmu. Mengapa mereka harus kalian hukum dengan senjata perangmu. Jangan biarkan Indonesia harus selalu berduka untuk kejayaan semu. Dengarkanlah, hargailah, karena aspirasi mereka hanyalah titipan rakyatmu. 

Jangan buat ibukota mencekam hanya untuk melihat kegagahan kalian yang luar biasa. Simpanlah kegagahan kalian itu untuk menghadapi musuh yang sebenarnya. Wamena sedang membutuhkan kegagahan kalian, Ambon sedang membutuhkan kegagahan kalian. Datangi mereka agar mereka tau gagahnya kalian karena cintanya kalian pada kami. 

BACA JUGA:

Jangan kalian tinggalkan para orangtua,mahasiswa dan pelajar ini dengan sebuah nama kenangan putra putri mereka dalam batu nisan. Tapi hidupkan jiwa-jiwa satria kalian kedalam diri mereka dalam menuntut keadilan dengan beradab. 

Hilangkan rasa mencekam, hilangkan rasa ketakutan, hilangkan rasa kebencian, hilangkan semua nafsu angkara murka. Kita adalah saudara, kita adalah tubuh yang sama, kita adalah keluarga. Bagaimana mungkin kalian tega menyakiti keluarga kalian sendiri. Lihatlah dengan nurani kalian, Kami hanya rakyat kecil yang ingin bersuara. 

Sudahi! tolong sudahi wahai penguasa, jangan korbankan generasi rabbani sebagai tumbal demi melanggengkan jabatan manusia. Takutlah pada hukuman Allah. Tak akan ada yang abadi di dunia ini. Pilihlah untuk menjadi pemimpin yang dicintai rakyat, bukan menghianati rakyat.

Dari 'Auf Ibn Malik, berkata: Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda:

"Sebaik-baiknya pemimpin kalian ialah orang-orang yang kalian mencintai mereka dan mereka pun mencintai kalian, juga yang kalian mendoakan kebaikan untuk mereka dan mereka pun mendoakan kebaikan untuk kalian. Sedangkan seburuk-buruk pemimpin kalian ialah orang-orang yang kalian membenci mereka dan mereka pun membenci kalian, juga yang kalian melaknat mereka dan mereka pun melaknat kalian."

Wallahu a'lam bishawab

YOUR REACTION?

Facebook Conversations