Oleh: Desi C Sari

Miris mendengar berita yang beredar. Di Kabupaten Demak, seorang anak berusia 19 tahun, tega melaporkan ibunya lantaran percekcokan.

Berawal dari kisah perceraian orang tua, mengharuskan anak terpisah dan merasakan dinginnya arti kekeluargaan. Keadaan yang memanas membuat ia sangat marah. Terkesan tega mengirim ibunya ke penjara.

Peristiwa ini bukan satu-satunya yang terjadi di belahan dunia. Ada banyak gambaran keluarga terpuruk dalam permasalahan. Perceraian, perselingkuhan, kekerasan dalam rumah tangga, bahkan anak telantar sudah menjadi potret buramnya kegagalan sistem sekuler yang ada saat ini. Dan persoalan rumit dalam rumah tangga seperti kasus di atas masih terus saja terjadi.

Padahal impian semua insan mendambakan keharmonisan, terlebih dalam koridor keluarga. Sebab keluarga merupakan rumah pertama yang harusnya nyaman untuk ditinggali. Namun sangat sulit untuk digapai dalam sistem ini. Mengikisnya kebutuhan akan pentingnya ketahanan keluarga dimulai dari pemisahan agama dengan kehidupan sehari-hari. Kebebasan menjadi prioritas utama. Dan asas materi menjadi fokus tujuan berumah tangga. Sangat ironi.

Masyarakat terlanjur jauh tidak mengenal bagaimana ajaran agama sehingga lemah terhadap pemahaman ajarannya. Padahal dalam islam, agama bukan sekadar ibadah ritual yang meliputi solat, zakat, puasa, haji. Namun juga mengajarkan pola sikap, pola fikir yang adil dan peduli. Islam atur pola itu dalam diri manusia tidak hanya di tingkat individu, namun juga pola bermasyarakat dan bernegara. Dimana ketiganya akan saling bersinergi dalam aturan syariah.

Karena setiap apa yang Allah SWT perintahkan pasti akan membawa kebikan dan manfaat. Dan setiap larangan-Nya pasti akan membawa keburukan jika manusia masih melakukannya. Hal demikian yang seharusnya menjadi landasan berfikir seseorang sebelum bertindak.

Akibat dari ketidak pahaman akan ajaran agama menjadikan manusia cenderung agresif, egois dan hanya mengikuti hawa nafsu.Apalagi dalam sistem kapitalis suatu Negara hanya mementingkan segala sesuatunya dengan materi. Tidak lagi memperhatikan batasan-batasan syariah.

Untuk itu, suatu daulah yang dibangun bukan berlandas pada syariah seperti sekuler saat ini. Akan terus melahirkan prahara baru yang tiada bertepi. Berbeda dalam islam. Sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw terdahulu. Islam menjadi landasan sikap dan sifat kepemimpinan beliau.

Sebagai contoh ruang lingkup adab berkeluarga saja. Islam mengajarkan sikap Qawwam (pemimpin) kepada para suami. Sikap qanaah, belas kasih kepada para istri. Mengenalkan konsep keluarga sakinah mawaddah warohmah.

Selain itu, islam juga mengajarkan pentingnya adab sebagai anak. Sehingga dapat bersikap secara makruf kepada orangtua terlebih sikap kepada ibu. Islam juga mengenalkan adab berpakaian yang baik untuk mulsim dan muslimah. Dalam rangka menjaga iffah seseorang. Selain itu juga, adab berbicara kepada orangtua, anak, lawan jenis.

Itu semua bertujuan untuk menjaga keamanan, keadilan, keharmonisan antar anggota keluarga dan masyarakat. Tentunya tidak luput pula aturan Negara sebagai pensejahteraan urusan rakyat. Baik individu, kelompok, rumah tangga, dan lainnya. Dan itu semua hanya dapat diraih dengan pemahaman agama yang menyeluruh.

Sangat berbeda dengan kondisi saat ini. Dimana seseorang mudah sekali menyerah. Melakukan kemaksiatan. Iman mudah tergoyahkan. Bahkan menyepelekan arti penting ajaran islam sebagai poros kehidupan. Keharmonisan hanya sekadar ilusi fatamorgana. Dalam kondisi separah ini, peran Negara sekuler saat ini tidak dapat membendung lagi meluapnya krisis ketahanan keluarga.

Tentu kondisi demikian tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Sebab rapuhnya sebuah Negara dapat tercermin dari rapuhnya benteng peradaban bernama keluarga. Negara yang rapuh akan kehilangan rasa percaya diri. Mudah sekali dijajah oleh kepentingan asing. Untuk itu, sudah menjadi kewajiban bersama sebagai umat islam sadar dan bangkit dari kenestapaan. Dengan kembali menerapkan ajaran islam secara menyeluruh.

Mengembalikan kepercayaan umat kepada islam sebagai jalan keluar segala permasalahan. Termasuk krisis ketahanan keluarga. Islam akan mengatur dengan aturan akidah yang bersumber dari Al-qur’an. Meneladani sikap Rasulullah Saw sebagai kepala keluarga dan kepala Negara. Dan aturan dalam islam ini tidak seperti hukum yang dibuat oleh manusia. Yang mudah berubah kapan saja sesuai kebutuhan. Hukum dalam islam akan berlaku sepanjang zaman.

Semua akan terwujud dengan keterkaitan 3 pilar kehidupan. Kesadaran individu, kontrol masyarakat dan Negara sebagai penerapan sistem yang langsung berpusat pada perintah dan larangan Allah SWT. Sehingga sesorang akan memahami perannya masing-masing berdasarkan ridha Allah SWT.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations