Oleh: Evrita Febri, Muslimah Peduli Generasi
Merebaknya kasus pornografi baru-baru ini membuat heboh dunia maya.
Foto: BBC

Bagaimana tidak, para korban yang rata-rata anak-anak di bawah umur itu berkenalan melalui game online. Sebagaimana diungkap Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya bahwa kasus ini bermula saat pelaku membuka akun aplikasi game online HAGO. Dengan aplikasi tersebut pelaku melakukan pendekatan dengan korbannya melalui fasilitas chatting,  kemudian percakapan berlanjut via WhatsApp. 

Sebenarnya terkait kasus pornografi hingga Mei 2019 tercatat 236 kasus, termasuk pelecehan seksual terhadap anak. Dari catatan itu, rentang usia korban pelecehan yang terjadi pada anak yakni sekitar 9 hingga 14 tahun. Dan 90 persen di antaranya dilakukan oleh orang terdekat," kata Asep dalam acara Talkshow Polemik Trijaya FM bertajuk 'Child Grooming & Darurat LBGT' di D'Consulate Menteng Jakarta, Sabtu (3/8). (cnnindonesia.com) 

Angka di atas hanya berdasarkan pengaduan saja. Tentu masih banyak korban yang tak berani melaporkan peristiwa yang dialami. Fenomena tersebut ibarat gunung es, hanya bagian kecilnya saja yang terlihat, sedang bagian dasar masih banyak yang tak terlihat. 

Mengamati fenomena perilaku pornografi dan pornoaksi oleh generasi saat ini, membuat para orang tua resah dan berfikir keras mengapa semua itu terjadi bahkan tumbuh subur? Mereka pun khawatir jika penyakit tersebut menular ke anaknya.

Bagaimana tidak, menurut Donald L. Hilton Jr,MD  Dr. ahli bedah syaraf Rumah Sakit San Antonio Amerika Serikat mengatakan bahwa pornografi secara perlahan akan merusak otak seseorang. Selanjutnya adiksi (kecanduan) dapat mengkibatkan otak bagian tengah depan yang disebut Ventral Tegmental Area (VTA) secara fisik mengecil dan menimbulkan perubahan konstan pada Neorotransmister serta melemahkan fungsi kontrol. Hal inilah yang membuat orang-orang yang sudah kecanduan tidak bisa  lagi  “mengontrol perilakunya” serta hilangnya berfikir logis. Dengan begitu membuat pecandu tidak mampu membedakan siapa yang ada didepannya. Entah itu orang tua, saudara, anak-anak menjadi sasaran mereka untuk memuaskan hasrat. Na'udzubillah bin dzalik! 

Bukan itu saja bahaya pornografi dan pornoaksi, berdasarkan hasil riset yang dilakukan di Skotlandia, akses pornografi internet di kalangan ABG telah memicu tren hilangnya keperjakaan dan kegadisan di usia yang semakin muda. 



YOUR REACTION?

Facebook Conversations