Oleh: Desi Wulan Sari
Layaknya seorang intelektual semestinya memiliki konsep pemikiran yang mencerahkan umat.
Ilustrasi: Pojokklasika

Dalam konteks makna dari intelektual itu sendiri ialah orang yang menggunakan kecerdasannya untuk bekerja, belajar, membayangkan, mengagas, atau menyoal dan menjawab persoalan tentang berbagai gagasan. 

Sebaliknya, hasil gagasan yang dituangkan oleh seorang intelektual dalam diisertasi Abdul Azis yang disampaikan pada sidang promosi doktor di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta pada Rabu (28/8) lalu menuai reaksi umat muslim di Indonesia.  Serasa copot jantung mendengar  hasil tulisan yang terkesan "pesanan" kaum liberalis dan sekuleris untuk Menyesatkan umat melalui media ilmu pengetahuan. 

Pasalnya, dalam disertasi yang berjudul “Konsep Milk Al Yamin Muhammad Syahrur sebagai Keabsahan Hubungan Seksual Nonmarital”, Azis mengemukakan argumentasi hubungan seksual di luar pernikahan (non-marital) dengan konsensus itu tidak melanggar hukum Islam atau fiqih.

Kecaman banyak dilontarkan oleh berbagai Lembaga Islam, salah satunya MUI (Majelis Ulama Indonesia) yang disampaikan Dewan Pimpinan MUI yang ditandatangani oleh Wakil Ketua Umum MUI Yunahar Ilyas dan Sekjen Anwar Abba mengatakan bahwa hasil penelitian Abdul Aziz tersebut bertentangan dengan Alquran dan masuk dalam kategori pemikiran yang menyimpang (idntimes.com, 31/8/2019). 

BACA JUGA:

Dan kecaman langsung dari para ulama, diantaranya KH. Hafidz Abdurrahman, beliau sangat geram dengan pemikiran seorang yang memiliki latar belakang keilmuan Islam dalam pendidikannya. Beliau mengatakan Kita dapat belajar dari "disertasi sampah" betapa bahayanya logika mantik dalam pembahasan hukum Islam, yang haram menjadi halal (fb Hafidz Abdurrahman, 4/9/2019).

Fakta yang kita dapati hari ini sangat jelas bahwa sistem perusak umat manusia dimanapun sedang terus bergerilya dalam menancapkan pemikiran-pemikiran yang akan selalu menjauhkan umat dari kebenaran hakiki. Sangat di sayangkan para intelektual hari ini telah banyak terkontaminasi pemikiran yang tidak lagi sesuai pada koridornya. Mereka tidak lagi mengusung kebenaran kepada umat. Sejatinya seorang intekektual harus mampu membawa pencerahan dalam setiap penemuan bermanfaat dalam bidang ilmu pengetahuan sesuai dengan keahlian bidang yang dikuasainya.

Memang sangat mengerikan Ketika pemikiran sekuler diangkat dan berusaha disandingkan dengan keinginan nafsu manusia saja. Kehati-hatian umat Islam dalam menghadapi  musuh-musuh terselubung yang selalu ingin menghancurkan Islam tetap wajib dalam radar siaga penuh. Sedikit Kelengahan umat muslim dapat menjadi celah jalan kerusakan melalui pintu-pintu manapun bahkan ilmu pengetahuan sekalipun.



YOUR REACTION?

Facebook Conversations